Menata hati, mempersatukan kepingan hatinya yang hancur kembali menjadi satu, menatap kehidupannya dengan harapan baru, itulah yang Hasan lakukan. Meskipun rasa sakit atas luka lama yang tanpa sengaja ayahnya lakukan masih membekas sekalipun Hasan sudah memaafkan sejak lama, karena mungkin luka itu sudah mengendap dan menjadi trauma, kemudian luka atas Maryam yang memutuskan pergi dan memutuskan hubungannya, membuat Hasan merasa jika hidupnya sudah di bentur berkali – kali oleh kenyataan.
Hadirnya Balqis, menjadi harapan baru bagi Hasan, dia selalu rajin melakukan terapi agar keadaannya bisa segera membaik, karena Hasan tidak ingin Bilqis terus – terusan melihat dia duduk diatas kursi roda. Hasan, tidak ingin anaknya mengasihani keadaannya, karena sebagai seorang ayah dialah yang harus tampil kuat untuk melindungi putrinya.
“Makasih Kak, udah baik – baik aja, makasih masih ada di sini” ujar Alina, yang saat itu sedang menjaga Hasan karena tiga hari lalu dia memang baru saja datang.
Tidak ada jawaban yang Hasan berikan, laki – laki itu hanya diam sambil tersenyum dan menggeser sedikit posisi berbaringnya, dia menepuk sisi sebelah kiri ranjangnya sebagai isyarat agar Alina bisa berbaring di sampingnya.
“Jangan bilang makasih terus, karena Kakak masih di sini dalam keadaan baik – baik aja Kakak juga yakin pasti karena doa kamu juga” ujar Hasan, sambil tersenyum dan membawa tubuh Alina ke dalam dekapannya.
“Waktu dapat kabar Kakak ketabrak mobil, aku bener – bener takut, aku takut Kakak pergi, jangan kaya gini lagi ya, aku gak suka liat Kakak tiduran, pakai kursi roda, aku maunya Kakak baik – baik aja kaya biasanya” ujar Alina, sambil mendongak dengan mata yang terlihat berkaca – kaca.
Dalam diam, Hasan menghapus lelehan air mata yang jatuh membasahi pipi Alina, bibirnya kemudian melukiskan senyuman, senyuman tulus karena dia kembali teringat pada Alina kecil yang menangis begitu kencang saat dia untuk pertama kalinya mengeluarkan suara saat terlahir kedunia.
“Udah ya, jangan nangis lagi, dulu kalau kamu nangis kenceng – kenceng bisa Kakak diemin cuma pake cara di timang – timang doang, sekarang kamu mau Kakak timang – timang badannya udah besar, terus keadaan Kakak juga lagi gak memungkinkan” ujar Hasan, membuat Alina seketika langsung melepaskan pelukannya kemudian turun dari ranjang dan mencubit pelan lengan Hasan.
Hasan, benar – benar tidak mampu menahan tawanya saat dia melihat tingkah Alina yang sedang merajuk. Mungkin, saat itu dia kesal karena dia sedang bicara serius tapi Hasan malah menanggapinya dengan lelucon. Namun, Hasan tahu Alina tidak akan marah lama – lama, dia pasti akan tetap menjadi Alina adik kecilnya yang lupa dengan kekesalannya dan selalu kembali bersikap biasa.
“Udah ah, makan dulu, waktunya minum obat” ujarnya, sambil menyiapkan makan siang Hasan yang sempat diantarkan oleh seorang suster untuk Hasan.
“Tapi, saat pertama kali denger suara kamu, saat pertama gendong tubuh kamu, Kakak ngerasa kalau kamu adalah hadiah yang Allah kasih buat Kakak atas semua yang udah Kakak lakukan, senyum kamu selalu membuat Kakak kuat dalam setiap keadaan, kamu itu udah kaya penopang buat hidup Kakak Alin, setiap Kakak memilih ingin menyerah dan tidak berhenti kamu selalu datang menggenggam tangan Kakak seakan meyakinkan jika semua akan terus baik – baik saja” ujar Hasan, sambil tersenyum dengan tatapan mata sedih karena saat itu dia kembali terkenang pada masa lalu yang terasa menyakitkan.
“Hingga rasanya, semakin kamu tumbuh dewasa Kakak semakin takut ada orang yang menyakiti kamu, Kakak takut senyum kamu redup Alin, karena sejak dulu senyum kamu, bahagia kamu adalah kekuatan Kakak” ujar Hasan, sambil mengelus kepala Alina.
“Jangan pernah menutupi apapun dari Kakak okey, karena kalau itu kamu lakukan kamu akan membuat Kakak terluka” ujar Hasan, sambil tersenyum dan dibalas anggukan oleh Alina.
Meskipun kala itu Alina ada dalam kisah sulitnya perjuangan Hasan, tapi Alina tidak pernah tahu dan tidak pernah ingat kapan masa itu terjadi, karena saat itu dia masih sangat kecil. Hingga kadang, Alina sering kali merasa jika dulu dialah sumber dari kesulitan Hasan, dia adalah beban bagi Kakaknya, karena adanya dia di dalam rahim ibunya, Hasan harus berjuang ekstra keras.
“Minum obatnya ya Kak, abis itu istirahat, inget orang sakit itu harusnya istirahat” ujar Alina, sambil membantu Hasan minum obat, kemudian membentulkan letak selimut Hasan agar laki – laki itu bisa segera beristirahat.
“Makasih ya” ujar Hasan, yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Alina dengan senyum hangat yang terbit dari bibirnya.
Menemani disaat kakaknya berada dalam keadaan terpuruk adalah salah satu cara yang Alina pilih untuk menunjukan rasa peduli, kasih sayang, dan cintanya untuk Hasan. Karena menurut Alina, apapun yang dia lakukan untuk Hasan semuanya tidak akan sebanding dengan apa yang sudah Hasan lakukan dan berikan kepadanya.
***
Hasan, terbangun dari tidurnya saat dia mendengar suara tangis bayi, matanya yang sejak tadi terkantup rapat perlahan mulai terbuka dan saat itulah dia melihat sosok perempuan yang sedang menggendong bayi, bayi kecil yang belakangan selalu dia tengok di ruang inkubator. Saat itu dia sudah tidak berada di ruangan itu lagi, tapi sudah ada diruangannya.
“Maaf ya Kak, jadi kebangun,” tatapan mata Hasan yang semula fokus pada sosok bayi langsung beralih pada sosok perempuan yang sedang menggendongnya.
“Kenapa ?” tanya Hasan, mengabaikan perkataan Maryam dan menanyakan kenapa Bilqis bisa menangis.
Maryam, Adler, dan Bilqis, saat itu mereka memang datang ke ruang perawatan Hasan. Sore itu juga akan menjadi hari terakhir Bilqis berada dirumah sakit karena satu minggu belakangan keadaannya mengalami peningkatan yang cukup pesat. Selain itu, timbangan badannya juga sudah berada di batas normal, jadi Dokter mengizinkan Bilqis untuk dibawa pulang. Hanya saja, sebalum benar – benar pulang Adler dan Maryam memutuskan untuk datang lebih dulu ke kamar Hasan karena ada hal yang harus dibicarakan.
“Gak tahu, dari tadi padahal gak nangis” ujar Maryam, yang saat itu terlihat kebingungan juga.
“Boleh Kakak gendong?” tanya Hasan, merasa ragu karena dia takut Maryam melarangnya.
Sesaat Maryam terdiam, dia menoleh kearah Adler kemudian menatap wajah Bilqis yang saat itu masih menangis. Setelah itu, dia menganggukan kepalanya sebagai tanda jika dia mengizinkan Hasan untuk menimang anaknya.
“Biar aku bantu ya Kak” ujar Alina, sambil mengambil alih Bilqis yang saat itu berada dalam gendongan Maryam menjadi ke gendongannya.
Kemudian, Alina membawa bayi itu mendekati Hasan, hanya saja meskipun setelah dia memindahkan bayi itu pada gendongan Hasan, Alina tetap membantu memegangnya, karena dia tahu keadaan Hasan sebelum sepenuhnya baik, dia masih belum mampu memegang barang apalagi yang berat terlalu lama, jadi Alina tetap membantu memegangi Balqis.
“Udah kebapaan banget ya, kapan mau nikahnya” ujar Alina, menggoda Hasan dan hanya laki – laki itu balas dengan senyum kecil dan lirikan.
Tangan Hasan, dengan pelan menepuk – nepuk p****t Balqis, hingga hal itu pelan – pelan berhasil mereda tangisnya dan Balqis bisa menjadi lebih tenang. Melihat Hasan yang terlihat mudah menenangkan Bilqis membuat Maryam sedikit merasa heran, karena tadi diapun sempat menggunakan cara yang Hasan gunakan untuk menenangkan Bilqis, hanya saja tidak berhasil.
“Kenapa nangis sayang ?” tanya Hasan, sambil menoel pipi Bilqis membuat bayi perempuan itu tersenyum lebar kearah Hasan.
“Tenang yah, jangan nangis lagi” ujar Hasan, sambil tersenyum kemudian mencium pipinya membuat bayi itu ikut tersenyum.
Sesaat, hati Hasan terasa menghangat melihat wajah Bilqis, terlebih saat dia melihat matanya yang tidak lepas menatap matanya. Hasan merasa jika dia harus hidup baik – baik saja, agar bisa menatap mata putrinya dalam waktu yang lebih lama. Bibir Hasan samakin melukiskan senyuman saat tangan kecil Bilqis menggapai gapai Hasan, laki – laki itu kembali mendaratkan satu kecupan pada pipi Bilqis karena merasa gemas.
“Hasan, ada yang ingin saya dan Maryam bicarakan dengan kamu” ujar Adler, berhasil membuat Hasan menolehkan tatapan matanya kearah Adler.
Sesaat, Hasan terdiam menatap kearah Maryam dan Adler secara bergantian, melihat wajah mereka Hasan merasa jika mereka memang ingin membirakan hal yang serius. Hanya saja, saat itu Hasan hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil sebagai tanda jika dia mempersilahkan Adler ataupun Maryam untuk bicara dan dia akan mendengarkan.
“Saya dan Maryam, Insya Allah sekarang sudah resmi menjadi suami istri yang sah di mata Allah, kami sudah meni …”
“Bisa langsung ke intinya saja ?” tanya Hasan, tanpa berniat menatap kearah Adler dan Maryam, tapi dia tetap asik bermain bersama Bilqis dan sesekali menciuminya hingga bayi itu tertawa kegirangan.
Karena, jika menengar pembicaraan tentang hubungan mereka yang sudah sah dimata hukum dan agama, Hasan merasa hal itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Dia tidak ingin kepingan hati yang perlahan sedang dia susun bisa kembali hancur hanya karena mendengar cerita Adler yang ingin mempertagas hubungannya bersama Maryam.
“Saya harap, kamu sadar dan paham, jika sekarang Maryam sudah berkeluarga, dia punya kehidupan baru bersama ku dan Bilqis yang tidak bisa kamu urusi semau mu seperti dulu, jadi tolong jangan usik lagi kehidupan kami, sekalipun itu hanya untuk sekedar menanyakan tentang keadaan Bilqis atau apapun itu” ujar Adler, berhasil membuat tubuh Hasan seketika membeku.
“Biarkan Bilqis hidup tenang bersama saya, karena saya akan selalu berusaha menjamin kehidupan yang layak untuknya, jangan mengkhawatirkan apapun tentang Bilqis ataupun Maryam, fokuslah pada kehidupan mu, kesehatan mu, dan pada kebahagiaan mu sendiri” lanjut Adler, yang akhirnya berhasil membuat Hasan menoleh kearah Maryam dan Adler yang sedang berdiri di sisi ranjangnya.
Sakit, itulah yang Hasan rasakan saat dia mendengar perkataan Adler. Saat itu, Hasan merasa hatinya yang sedang pelan – pelan dia tata ulang, kembali hancur dan berantakan. Hasan merasakan sesakit – sakitnya rasa sakit, saat Adler memintanya untuk tidak pernah menemui anaknya sendiri, anak yang selama ini mati – matian selalu dia lindungi karena Adler sangat ingin bertemu dengannya.
“Percayalah, saya akan menjaganya dengan sebaik mungkin, kamu tidak perlu merasa khawatir, saya …”
“Cukup …” ujar Hasan, sambil menyentuh kepalanya yang saat itu tiba – tiba kembali berdenyut sakit, sedangkan sebelah tangannya lagi masih dia gunakan untuk memeluk Bilqis yang saat itu tiba – tiba ikut diam menatap wajah Hasan yang sedang menahan sakit.
“Kamu boleh hidup tenang dengan Maryam Adler, kamu juga boleh pergi dari hidup kakak Maryam, tapi tidak adakan sedikit saja belas kasihan yang kalian miliki dan berikan pada ku, agar aku boleh bertemu anak ku walau hanya sebentar saja” ujar Hasan, sambil menatap Maryam dan Adler secara bergantian.
Alina yang saat itu melihat Hasan sudah kesakitan, dia berniat mengambil Bilqis dari Hasan. Hanya saja saat itu dia terlihat begitu erat memeluk Balqis seakan takut ada orang yang mengambil Balqis dari pelukanya.
“Ingat, Bilqis adalah anak yang hadir diluar ikatan pernikahan, dan aku rasa kamu lebih paham jika anak yang terlahir diluar ikatan pernikahan maka dia akan ikut nasab ibunya, apalagi jika anak perempuan, sekalipun dia menikah dia tidak butuh kamu sebagai walinya, terlebih diluar sana orang – orang mengenal Bilqis sebagai anak ku bukan anak mu, jadi aku harap kamu bisa paham” ujar Adler, sambil menatap Hasan.
Hasan, langsung menyerahkan Bilqis pada Alina, kemudian tiba – tiba dia berusaha turun dari atas ranjangnya padahal saat itu Hasan belum bisa berjalan. Hingga akhirnya Hasan terjatuh dari atas ranjng dan kepalanya sempat membentur pinggir ranjang, dan impusan tangannya tertarik sehingga mengeluarkan darah.
“Ya Allah, Kak Hasan, Kakak ngapain !” ujar Alina, merasa khawatir kemudian segera menyerahkan Bilqis pada Maryam.
Sesaat Hasan terdiam, tangannya mencengkram kepalanya yang saat itu sudah kembali berdenyut semakin sakit. Melihat hal itu, Adler dan Alina langsung mendekati Hasan dan berniat membantunya kembali ke atas ranjang, hanya saja bukannya menurut Hasan yang saat itu sudah sangat kesakitan malah memohon kepada Adler agar mengizinkannya bertemu Bilqis walau hanya sebentar.
“Tolong … tolong jangan menghalangi ku untuk bertemu Bilqis … dia … satu – satunya kekuatan yang aku miliki.. shitt” ujar Hasan, sambil memegang kepalanya yang saat itu sedang kesakitan.
“Tolong … jangan ,..” ujar Hasan, yang pada akhirnya kehilangan kesadarannya karena mungkin dia sudah tidak mampu menahan sakit dibagian kepalanya.
Kembali patah, seperti itulah perasaan Hasan. Saat dia sedang berjuang menyusun hatinya yang sudah hancur, menata semuanya agar bisa kembali membaik, berdamai dengan semua luka yang harus dia terima, menerima semua keadaan yang harus dia jalani dengan satu alasan yaitu Bilqis. Hatinya benar – benar hancur karena kini alasan itu akan segera direnggut paksa dari hidupnya. Sehancur apa hati Hasan, sesakit apa perasaan Hasan, tidak akan satupun orang yang bisa membayangkannya, karena tidak ada yang pernah tahu seberapa banyak Hasan pernah jatuh dan terluka, dan kali ini adalah kali dimana Hasan sendiri mungkin tidak tahu bagiamana caranya agar dia bisa bangkit lagi.