Semangat, itulah yang selalu berusaha Risa berikan kepada Hasan yang dia yakin pasti sedang berada dalam keadaan tidak baik – baik saja terlebih setelah pembicaraan yang dia lakukan bersama Maryam. Risa yakin, pamitnya Maryam dari hidup Hasan akan memberikan bekas yang begitu mendalam, karena Risa sadar rasa cinta yang Hasan miliki sudah berada di level akhir yang rasa – rasanya menurut Risa, nama Maryam di dalam hati Hasan sudah seperti pahatan tulisan diatas batu yang sulit untuk di hapuskan.
“Bun, maaf ya aku ngerepotin Bunda terus, Bunda jadi harus tinggal di Jerman lagi, Ayah dan Alina jadi harus pulang pergi Jerman – Indonesia karena harus lihat kondisi aku yang bahkan sekarang udah gak berguna” ujar Hasan, berhasil membuat Risa yang saat itu sedang berjalan sambil mendorong kursi roda Hasan terhenti sejenak.
“Kenapa saat itu Allah gak ambil nyawa aku sekalian ya Bun, kenapa aku malah dikasih kesempatan hidup jika pada akhirnya aku hanya bisa duduk diatas kursi roda, dengan jiwa yang bahkan sudah tidak sudah hidup dalam raganya” ujar Hasan, sambil menundukan kepalanya.
“Aku cape rasanya ngerasa sakit di obati sendiri lalu setelah itu merasa sakit lagi, hingga kini puncaknya, aku bukan lagi merasa hati ku yang sakit, karena sepertinya rasa sakit yang terlalu bertubi – tubi aku kehilangan rasa sakit itu” lanjut Hasan, dengan surtanya yang terdengar bergetar.
Lelah, mungkin sudah sepantasnya Hasan rasakan, karena sejak perpisahannya dengan sang ayah diusianya yang masih remaja, Hasan selalu memikul semua bebannya sendirian. Berusaha bertahan dalam tekanan yang sebenarnya sering membuat dia menyerah tapi keadaan selalu memaksanya bangkit dan terus berjalan meskipun harus sampai berdarah – darah.
“Kakak … Kakak lihat mata Bunda” ujar Risa, sambil menggenggam tangan Hasan dan menatap putranya yang saat itu masih menundukan kepala.
“Sakit Kakak adalah sakit Bunda, jangan pernah menyembunyikan apapun lagi dari Bunda sayang, karena meskipun selama ini Kakak diam, tapi Bunda tahu di dalam sini,” Risa membawa sebelah tangan Hasan dan mengangkupkannya di d**a Hasan. “Ada begitu banyak luka yang bahkan belum sempat mengering tapi harus kembali terluka hingga akhirnya luka itu tidak pernah mengering sayang, dan Bunda sedih karena ketika Kakak ada dalam masa itu Kakak gak pernah mau melibatkan Bunda, padahal Bunda selalu berharap Kakak datang sama Bunda menceritakan semua sama Bunda sayang, Bunda sedih melihat Kakak seperti ini” ujar Risa, sambil menangkup pipi Hasan, sehingga membuat tatapan mata laki - laki itu bertemu dengan mata Risa.
“Bunda tahu, ketika kamu menyadari jika kamu mencintai Maryam dan memilih untuk berjuang, saat itulah untuk pertama kalinya kamu memutuskan sesuatu yang benar – benar kamu inginkan tanpa memikirkan apapun, tapi kini kenyataan justru seperti mematahkan kamu, dan saat ini Bunda tekankan agar kamu jangan pernah menyerah pada keadaan, karena keadaan adalah benteng yang perlu kamu susuri agar bisa sampai pada gerbang yang sebenarnya” ujar Risa, sambil tersenyum, dan menggenggam tangan Hasan dengan erat untuk megiyaratkan jika saat itu dia tidak sendirian, tapi masih ada banyak orang yang juga menyayanginya.
“Jangan pernah pergi ya, tetap di sini bersama Bunda sayang” ujar Risa, dengan suaranya yang sudah terdengar bergetar, kemudian tanpa sadar ada air mata yang jatuh dari kedua belah pipi Risa.
Sesaat, Hasan terdiam sambil menatap Risa tepat dibagian matanya. Kemudian, tangannya yang saat itu belum sepenuhnya bisa bekerja secara maksimal karena saat dilakukan latihan pergerakan tangan Hasan bahkan tidak mampu mengangkat botol air hingga keatas, bergerak secara perlahan menghapus lelahan air mata Risa.
Kemudian, Risa langsung membawa Hasan kedalam dekapannya. Saat itu, tidak tahu kenapa, tapi tragedi kecelakaan yang menimpa Hasan membuat Risa bisa lebih belajar memahami anak laki – lakinya yang selama ini sangat begitu jauh dia jangkau meskipun dia dekat, Risa lebih banyak mengerti tentang apa yang sebanarnya menjadi beban Hasan, karena selama ini dia tidak pernah membicarakan siapa dirinya, seperti apa dirinya, apa yang sedang dialami dirinya kepada siapapun.
“Janji jangan pernah begini lagi ya, jangan buat Bunda khawatir” ujar Risa, sambil memeluk Hasan dengan penuh kehati – hatian karena dia tahu keadaan anaknya belum sepenuhnya baik, karena untuk duduk diatas kursi roda saja Hasan masih sambil menahan rasa sakit dibagian kepalanya.
Tidak ada jawaban pasti yang Hasan sampaikan, dia hanya diam dan membalas pelukan yang Risa berikan. Karena saat itu, Hasan merasa pelukan Risa selalu berhasil menjadi obat dari rasa sakitnya, menjai sumber ketenangannya, dan Risa juga selalu berhasil menjadi sandaran paling nyaman ketika dia sudah kembali merasakan satu titik permasalahan.
“Ada seseorang yang ingin Bunda perkenalkan sama kamu” ujar Risa, sambil menangkup kedua belah pipi Hasan.
“Siapa ?” tanya Hasan, sambil menatap Bundanya yang saat itu nampak sedang menahan senyum.
Kemudian, tanpa berniat menjawab pertanyaan Hasan, Risa langsung mendorong kursi roda yang sedang Hasan duduki menuju sebuah tempat, tempat yang Risa yakin akan membuat laki – laki itu lebih mencintai dirinya, lebih mencintai nyawanya. Sampai akhirnya kursi roda Hasan tiba di sebuah ruangan yang memiliki kaca besar, di dalam ruangan itu terdapat sebuah kotak besar yang terbuat dari kaca, dan didalamnya terdapat sosok kecil yang sedang tertidur lelap dengan sangat tenang.
“Biqis Aghnia Fatihah…” ujar Hasan, membaca nama bayi yang tertulis didepan inkubator yang saat itu sedang dia tatap.
Selama beberapa saat, dia nampak terdiam sambil merenung, karena saat itu Hasan merasa pernah mengenal nama itu. Hingga, sesaat kemudian Hasan langsung mempertajam pernglihatannya lagi, kemudian dia menoleh kearah Risa, yang saat itu sedang tersenyum menatap kearah Hasan juga.
“Dia, sosok malaikat kecil yang akan menjadi sumber kabahagiaan kamu mulai hari ini dan seterusnya sayang, dia sosok makluk kecil yang tuhan ciptakan yang akan membuat kamu selalu ingin hidup dan melihat tumbuh kembangnya” ujar Risa, sambil menggengam tangan Hasan yang saat itu sudah kembali fokus menatap kearah bayi yang saat itu masih terlelap didalam inkubator.
“Dia adalah sosok putri kecil yang sudah berhasil kamu selamatkan, dan sudah berhasil Maryam perjuangkan” lanjut Risa, membuat mata Hasan tanpa sengaja meneteskan air mata karena merasa terharu melihat kahadiran anaknya yang kini sudah ada di dunia.
“Bilqis Aghnia Fatihah, itu nama yang aku pilih jika anak ku yang Maryam kandung terlahir perempuan, dan kini nama itu sudah benar – benar menjadi nama anak ku” ujar Hasan, sambil menoleh karah Risa dengan mata yang terlihat berkaca – kaca.
Saat itu, Hasan merasa tidak percaya dia sudah benar – benar menjadi seorang ayah meskipun saat itu yang membuat dia merasa terluka adalah anaknya tidak terlahir dalam pernikahan yang sah, sebentar lagi dia akan mendapat panggilan ayah dari sosok gadis kecilnya, dan Hasan merasa tidak sabar menunggu masa itu tiba.
“Bunda, apakah mungkin dia sosok gadis kecil yang selama ini selalu datang dalam tidurku ketika masih koma, apa dia juga yang datang dan menarik ku agar bisa kembali ?” tanya Hasan, dengan tatapan matanya yang tidak pernah lepas menatap sosok bayi kecil dihadapannya yang terhalang oleh dinding kaca.
Tidak ada jawaban yang Risa sampaikan, karena Risa sendiri tidak tahu mimpi apa yang Hasan alami bersama sosok gadis kecil yang dia sebutkan tadi, karena Hasan hanya pernah mengatakan satu cerita mimpinya ketika dia bangun dari koma dan sisanya tidak. Bahkan mungkin, apa yang Hasan katakan memang benar, jika sosok gadis itu memang anaknya, karena meskipun masih bayi, mungkin jauh di alam bawah sadarnya dia tahu jika ayahnya sedang tidak baik – baik saja, dia rindu dan ingin bertemu dengan sosok ayah yang tidak pernah menemuinya sejak awal dia terlahir ke dunia.
“Bunda dia bangun, dia tersenyum menatap ku Bun” ujar Hasan, yang saat itu terlihat sangat antusias melihat anaknya yang sudah terbangun.
“Hidup dan tumbuhlah dengan baik sayang, karena hadirnya kamu akan menjadi kekuatan untuk ayah mu” batin Risa, sambil ikut tersenyum menatap bayi kecil yang saat itu sedang menatap kearah Hasan.
Kekuatan, itulah yang Risa lihat dari sosok Balqis, Risa melihat ada kekuatan besar yang bayi itu miliki dan diberikan kepada Hasan. Kekuatan yang Risa yang yakin akan membuat Hasan belajar lebih kuat menghadapi semuanya agar dia bisa tetap melihat tumbuh kembang anaknya, kekuatan untuk bisa menemukan kebahagiaan dalam sesakit dan seberat apapun keadaannya ketika dia melihat senyuman dari bibir putrinya. Karena, bagi seorang anak perempuan, ayah adalah cinta pertamanya, sosok laki – laki pertama yang dia kenal, yang selalu siap ada di sampingnya, melindungnya, dan menjadi orang pertama yang akan membelanya ketika orang – orang tidak mempercayainya.
“Ayah tahu sayang, kelak pasti akan ada luka yang Ayah torehkan di hatimu saat kamu tumbuh besar karena kesalahan ayah di masa sekarang, tapi Ayah janji sebelum luka itu datang kamu tidak akan menerima luka apapun dan dari siapapun, Ayah janji” batin Hasan, sambil tersenyum menatap bayi kecil yang saat itu terus menatap kearahnya juga.
“Kita balik lagi ke kamar kamu ya, kamu juga harus istirahatkan” ujar Risa, sambil membelai kepala Hasan.
“Sebentar Bun, aku mau di sini dulu nunggu dia kembali tidur” ujar Hasan, sambil menatap anaknya yang saat itu tidak lepas menatap kearah Hasan juga.
Hasan dan Bilqis, adalah sepasang ayah dan putri yang memiliki ikatan cinta yang besar, seperti itulah yang Risa lihat. Karena, dalam pertemuan pertama mereka, Risa bisa melihat tatapan cinta dan penuh kasih yang begitu besar untuk Bilqis, dan tatapan yang seakan mengisyaratkan kerinduan juga terpancar dari mata Bilqis untuk Hasan. Saat itu, mereka seperti sepasang kekasih yang baru di pertemukan, sehingga menimbulkan pecahan rasa rindu yang mereka saling salurkan.
“Udah ya, kita ke kamar, Bilqinya udah tidur sekarang” ujar Risa, setelah hampir satu jam mereka berada di depan ruangan Bilqis hingga bayi itu kembali tertidur lelah.
Hasan, hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Setelah itu, Risa langsung memutar balikan kursi roda dan membawanya kembali ke kamar. “Inget ya Kak, lebih sayangi diri kamu, karena kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu seperti ini lagi, Bunda bener – bener gak akan pernah maafin diri Bunda, kamu itu perisai Bunda, kamu kekuatan Bunda sayang, kalau kamu gak ada Bunda gimana, Alina gimana, kamu tahukan dia sayang banget sama kamu, bergantung banget sama kamu” ujar Risa, sambil menggengam tangan Hasan, ketika dia sudah kembali berbaring diatas ranjang di bantu oleh seorang perawat.
“Aku akan tetap baik – baik aja, selama kalian baik – baik aja Bun” ujar Hasan, sambil tersenyum dan dibalas sebuah elusan lembut oleh Risa.
“Tapi, sekarang mungkin aku akan sering merepotkan Bunda, karena sekarang aku gak berguna lagi Bun, tangan ku bahkan sulit untuk di gerakan, kaki ku sulit aku gunakan jalan” ujar Hasan, sambil menatap Risa dengan tatapan sendu.
“Berhenti berpikir seperti itu Kak, kamu anak Bunda, anak kebanggan Bunda, kaki dan tangan kamu akan kembali berfungsi dengan baik selama kamu rajin melakukan terapi, jadi jangan pernah menyerah, ada banyak orang yang sayang sama kamu, ada banyak orang yang ingin melihat kebahagiaan kamu” ujar Risa, sambil tersenyum.
“Bunda yakin Kak, sakit yang kamu rasakan adalah ujian agar kamu mampu lebih bersabar. Nanti, akan ada waktunya dimana takdir tidak akan menyudutkan kamu pada masa yang menyakitkan, karena semua sakit yang kamu rasakan hari ini dan hari – hari sebelumnya, akan menjadi abu ketika takdir tuhan sudah memberikan kamu kebahagiaan” batin Risa, sambil menggenggam tangan Hasan yang saat itu sudah mulai terlelap tidur.