Mimpi bagaikan sebuah gambaran semu yang terjadi di dalam alam bawa sadar seseorang, Mimpi itu akan membuat seseorang sering kali berharap agar mimpinya bisa menjadi kenyataan jika mimpi itu menganai keindahan. Namun, kadang mimpi itu bisa juga membuat seseorang merasa takut, jika mimpi yang menyapa tidurnya adalah sebuah mimpi buruk
“Kak, makasih ya sudah kembali, sudah mau berjuang, Bunda lega, Bunda bahagia bisa melihat Kakak buka mata kaya gini” ujar Risa, sambil mengelus kepala Hasan dengan penuh kelembutan.
Setelah dua hari yang lalu Hasan sempat bangun kemudian kejang – kejang, akhirnya hari ini Hasan menunjukan perkembangan keadaannya dengan membuka mata dan mudah – mudahan dia tidak kehilangan kesadarannya lagi. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Dokter, ternyata keadaan Hasan memang perlahan membaik meskipun belum maksimal, hanya saja Risa berharap keadaan Hasan bisa terus berangsur – angsung jauh lebih baik.
“Jangan seperti ini lagi ya sayang, Bunda takut melihat keadaan kamu yang seperti ini” ujar Risa, sambil membawa tangan Hasan yang saat itu sedang menghapus lelehan air matannya.
Sadar jika saat itu Hasan tidak ingin melihatnya menangis, Risa langsung mengbersihkan sisa air matanya dan kembali menatap Hasan dengan senyuman yang terukir dari bibirnya. Kemudian, Risa mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Hasan yang saat itu sedikit di hiasi oleh luka memar dan lecet – lecet karena mungkin terjadi saat terseret dijalanan.
“Bunda, tadi aku mimpi …” ujar Hasan, dengan suaranya yang terdengar sangat pelan dan lemah.
Hasan memangku sosok anak kecil yang lagi – lagi datang menghampirinya, dengan sentumnya yang terlihat manis dia meminta kepada Hasan untuk duduk diatas pangkuannya, dengan lembut tangan Hasan mendekap tubuh kecilnya, dan saat itu Hasan merasa semua bebannya seperti terangkat meninggalkan jiwanya yang selama ini tanpa Hasan sadari selalu berada dalam tekanan.
“Ayah, kenapa saat aku hadir untuk pertama kalinya ayah tidak ada, kenapa saat ku merindukan pelukan ayah tidak pernah datang, kanapa ?” tanyanya, sambil mendongak menatap wajah Hasan yang saat itu lagi – lagi terdiam karena masih merasa kaget anak itu memanggilnya dengan sebutan Ayah.
“Aku sayang Ayah, aku cinta Ayah” ujarnya, sambil mengecup sebelah pipi Hasan kemudian dia tersenyum sambil menatap mata Hasan dengan binar keceriaan yang tidak pernah hilang dari matanya.
“Aku ingin ayah pulang, kalau tidak aku sedih karena menunggu Ayah tidak datang – datang, kenapa Ayah selalu di sini ? kenapa Ayah tidak pulang ?” tanyanya, secara bertubi – tubi.
Hasan masih tetap diam, sesaat dia juga tidak mengerti kenapa dia masih bertahan di sana, di sebuah tempat yang tidak ada siapapun selain dirinya. Saat itu, Hasan hanya merasa jika dia tenang, ditempat itu dia tidak menemukan rasa sakit, ditempat itu dia bisa hidup dan berdamai dengan diri sendiri meskipun masih terasa sesak.
“Aku lupa kemana harus pulang” jawab Hasan, pada akhirnya.
“Ayo Ayah pulang, pulang karena aku ingin bertemu Ayah” ujarnya, sambil bangkit dari atas lahunan Hasan, kemudian menarik tangan Hasan untuk berjalan.
Gadis kecil itu, membawa Hasan berjalan menuju sebuah arah yang membuat Hasan merasa hangat, membuat Hasan seperti menemukan satu titik untuk obat hatinya yang ternyata rindu pada sosok – sosok yang teramat dicintainya.
“Ayah, aku sangat mencintai Ayah, terima kasih” ujarnya, sambil mencium punggung tangan Hasan.
“Dia gadis kecil yang sangat cantik …” ujar Hasan, sambil mengalihkan tatapan matanya kearah langit – langit kamar.
Saat itu Hasan seperti sedang mengenang kembali mimpi yang baru saja dia alami. Kemudian, Risa mengelus lembut lengan putranya itu, hingga akhirnya membuat Hasan kembali menoleh dan menatap kearah Risa.
“Beberapa kali terakhir dia selalu memanggilku dengan sebutan Ayah” ujar Hasan, dengan suara setengah berbisik karena memang saat itu keadaannya masih sangat lemah.
“Dia mengajak ku pulang karena katanya dia ingin bertemu dengan ku” lanjut Hasan, membuat bibir Risa melukiskan senyuman.
Seindah itulah mungkin ikatan cinta antara seorang ayah dan putrinya, mereka akan terlihat sangat mesra karena ikatan cintanya akan terasa romantic, bahkan ungkapan pernyataan cinta dari seorang anak perempuan akan terasa lebih manis dan romantis dari pada kisah – kisah cinta dalam film – film cinta. Bahkan, Hasan yang belum tahu tentang keberadaan putrinya bisa memiliki kisah semanis itu meskipun hanya dalam sebuah mimpi. Mungkin, jika saja Hasan kembali dipertemukan dengan putrinya, mereka akan memiliki kedekatan antara ayah dan seorang putri pada umumnya, akan ada kisah – kisah lain yang lebih indah tentang mereka.
“Maryam gimana ? dia dan anaknya selamatkan Bun ?” tanya Hasan, sambil berniat bangun secara tiba – tiba tapi berakhir meringis kesakitan karena saat itu keadaannya belum cukup baik.
“Hati – hati Kak, keadaan kamu belum sepenuhnya baik, kamu tenang saja, Maryam dan anaknya baik – baik saja meskipun dia terpaksa harus melahirkan lebih awal, dan hari ini sepertinya Maryam akan pulang” ujar Risa, sambil mengelus kepala Hasan karena saat itu dia terflihat sangat kesakitan.
Terdengar helaan nafas lega yang keluar dari mulut Hasan, sampai akhirnya pintu kamar ruang perawatan Hasan terbuka dan memuncul sosok yang sejujurnya sedang Hasan pikirkan dan khawatirka. Sosok yang hadirnya benar – benar berhasil membuat Hasan menghela nafasnya lega, karena saat itu dia terlihat baik – baik saja.
“Gimana keadaan Kakak sekarang ?” tanyanya, untuk pertama kali saat dia melihat Hasan sedang membuka matanya.
“Bun, Kak Adler, boleh aku bicara berdua bersama Kak Hasan aku ingin bicara empat mata dengan Kak Hasan, nanti pintunya bisa di buka aja” ujar Maryam, sambil menatap Risa dan Adler secara bergantian.
Sesaat, Risa menatap kearah Hasan, berusaha memastikan jika saat itu Hasan mau ditinggal pergi olehnya atau tidak, kemudian dia menoleh kearah Adler, berusaha menebak bagaimana reaksi Adler untuk menjawab permintaan Maryam, baru setelah itu dia menganggukkan kepalanya, kemudian berlalu pergi, diikuti Adler yang ternyata memilih mengizinkan mereka bicara berdua juga.
Sepeninggalan Risa dan Adler, Maryam masih memilih diam selama beberapa saat, kemudian dia menoleh kearah Hasan yang saat itu sedang memejamkan matanya tapi saat itu Maryam tahu Hasan tidak tidur. Sesaat, Maryam terdiam memandang kepala Hasan yang saat itu sudah dililit kain perban, tangannya yang penuh luka, dan mungkin masih banyak lagi luka – luka yang harus Hasan tanggung demi menyelamatkan dirinya.
“Terima kasih ya Kak, karena sudah ada menjadi pelindung ku sejak pertama kali aku terlahir ke dunia, terima kasih karena selalu ada ketika aku membutuhkan pegangan tanpa harus aku pinta, terima kasih untuk semuanya” ujar Maryam, sambil tersenyum menatap kearah Hasan yang saat itu sudah kembali membuka matanya tapi tidak menoleh kaarah Maryam.
“Aku tahu, sudah banyak waktu yang Kakak berikan untuk merawat dan menjaga ku, sudah banyak luka yang Kakak dapat untuk melindungi, aku sangat amat terima kasih untuk semua itu Kak, karena jujur saja tanpa adanya Kakak aku merasa tidak akan bisa sekuat ini bertahan sampai di titik ini” lanjut Maryam, dengan suaranya yang sudah mulai terdengar bergetar.
Hasan, adalah salah satu sosok yang sangat berpengaruh dalam hidup Maryam, sosok yang hingga detik ini mampu membuat Maryam terus bertahan dalam sebuah tekanan rasa yang mungkin bisa membuat Maryam memilih menyerah jika dia tidak punya sosok Hasan dalam hidupnya. Selama ini, Hasan selalu berhasil membuat Maryam merasa yakin dan percaya jika semua beban berat yang sedang mereka hadapi bisa di lalui tanpa harus laki – laki itu berucap.
“Aku senang dan aku bahagia pernah mengenal sosok Kakak, sosok pelindung, sosok orang yang sangat berhati baik, terima kasih aku ucapkan, tapi sepertinya sudah cukup aku merepotkan Kakak, karena aku rasa tugas yang tidak seharusnya Kakak pikul selama ini untuk menjaga ku sudah usai, aku sudah bersuami, aku sudah ada yang menjaga, jadi mulai sekarang Kakak tidak akan terbebani dengan keberadaan ku, carilah kebahagiaan Kakak, carilah perempuan yang bisa mencintai Kakak atas dasar cinta pada yang maha kuasa” ujar Maryam, masih berbicara panjang lebar dengan suaranya yang sudah mulai terdengar sumbang karena menahan air matanya agar tidak jatuh dihadapan Hasan.
“Aku datang untuk pamit pada Kakak, pada kehidupan Kakak, aku harap setelah ini Kakak akan menemukan kebahagiaan Kakak, mari kita jalani kehidupan kita masing – masing Kak” ujar Maryam, sambil melukiskan senyuman dibalik cadarnya karena saat itu dia tahu Hasan sedang menatapnya.
Diam sambil menatap Maryam, itulah yang Hasan lakukan. Dia menatap Maryam dengan kedua pupil matanya yang saat itu sudah terlihat membesar salah satu karena efek setelah operasi epidural hematoma. Hingga tiba – tiba, terdengar ringisan kecil yang terdengar dari mulutnya, tangannya terlihat memegang kepalanya, pertanda jika saat itu Hasan kembali merasa sakit kepala.
“Bunda …” panggilnya dengan suara yang terdengar sangat pelan dan sangat akan mustahil jika suaranya terdengar sampai keluar.
Melihat Hasan yang terlihat kesakitan Maryam jadi bingung sendiri, ingin memastikan di bagian mana dia kesakitan tapi Maryam tidak bisa bersentuhan dengan Hasan. Ingin bertanya tapi Hasan sudah terlihat kesakitan, sampai akhirnya Maryam memilih memanggil Risa mewakili Hasan yang sejak tadi memang memanggil Risa. Hingga, tidak lama Risa datang dan terlihat tidak kalah panik juga saat dia tahu Hasan kembali mengalami kesakitan.
“Bunda, Kak Hasan kenapa ?” tanya Maryam, dengan mata yang sudah terlihat berkaca – kaca karena saat itu dia juga sama takutnya dengan Risa ketika melihat keadaan Hasan yang kembali merasa kesakitan.
Namun, saat itu Risa juga tidak merespon Maryam karena dia sedang berusaha menenangkan Hasan yang saat itu terlihat sangat kesakitan. Kemudian, dari arah pintu muncul Dokter bersama satu orang Suster yang sepertinya datang karena Adler yang memanggilnya. Saat itu, Dokter meminta semuanya menunggu di luar karena akan dilakukan pemeriksaan terhadap Hasan.
Mereka menunggu dalam kecemasan diluar kamar, terlebih Risa, saat itu dia tahu Hasan sangat kesakitan, tapi sebagai ibunya dia tidak bisa melakukan apapun untuk meredakan kesakitan Hasan.
“Tadi saya sudah memeriksa keadaan pasieun Bu, dan kami juga sudah memberikan obat kepada pasieun. Sebelumnya begini, meskipun pasieun sudah sadar, tapi keadaannya masih belum bisa dikatakan 100% baik, karena nyatanya pasieun yang mengalami epidural hematoma, membutuhkan waktu untuk bisa kembali pulih, saya harap ibu dan keluarga bisa membantu pemulihan pasieun dengan menjaga Pasieun agar tidak mengalami stress dan tekanan, karena hal itu juga cukup beresiko” ujar Dokter, yang langsung diangguki semuanya.
Setelah itu, Dokter pamit sedangkan Risa bersama Maryam, hanya Maryam tanpa ada Adler, kembali masuk setelah diperbolehkan Dokter, saat itu mereka bisa melihat Hasan sedang diam dan menatap langit – langit kamarnya dengan bisu.
“Kak Hasan sudah baikan ?” tanya Maryam, yang hanya dijawab sebuah anggukan kecil oleh Hasan.
“Aku minta maaf ya Kak, tapi aku janji setelah ini akan pergi sejauh mungkin dari hidup Kakak, agar Kakak bisa hidup tenang tanpa ada gangguan dari ku Kak” ujar Maryam, sambil tersenyum kemudian berlalu pergi setelah mengucapkan salam menggunakan kursi roda tanpa bantuan Risa karena dia menolaknya.
Risa langsung menolehkan kembali kepalanya kearah Hasan saat dia mendengar suara ringisan kecil keluar dari mulut Hasan, terlebih saat itu dia juga memegang kepalanya. “Kenapa ? kepalanya sakit lagi Kak ?” tanya Risa, yang selama beberapa saat tidak mendapat jawaban dari Hasan.
“Sakitnya akan hilang jika Bunda membacakan Al – Quran di samping ku” ujar Hasan, sambil terseyum kecil menatap kearah ibunya.
“Aku ingin dibacakan surat Yasin” lanjut Hasan, masih dengan suaranya yang terdengat kecil dan lemah.
Sesaat Risa tersenyum sambil mengelus kepala Hasan dengan lembut, kemudian dia berlalu pergi untuk mengambil air wudhu lagi, karena dia takut wudhunya yang lama sudah tidak sah lagi.
“Sayang, Bunda tahu apa yang saat ini hati kamu rasakan, jadi jangan menyiksa diri kamu dengan menahan air mata dan berpura – pura terlihat kuat, menangisnya jika memang kamu ingin menangis” ujar Risa, yang sudah bisa menebak bagaimana perasaan Hasan yang sebenarnya.
Tidak ada jawaban yang Hasan katakan, dia hanya diam sambil menatap Risa dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Kemudian, Risa mulai membacakan surat Yasin seperti yang Hasan inginkan, surat yang menjadi salah satu golongan surat yang bisa membuat hati merasa tenang dan pikiran menjadi tentram. Hingga akhirnya surat Yasin menjadi surat yang berhasil mengantarakn Hasan kembali tertidur.