Pertemuan adalah obat sebuah rindu, seperti itulah mungkin gambarannya. Setelah berbulan – bulan pegi, untuk pertama kalinya Maryam kembali bertemu sosok wanita berusia setengah baya yang sangat disayanginya, sosok wanita yang sudah dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri, sosok yang selalu Maryam rindukan hadirnya.
“Bunda apakabar ?” tanya Maryam, sambil memeluk Risa yang saat itu baru sempat datang mengunjungi kamar inap Maryam, padahal sudah sejak 5 hari lalu dia datang tepatnya dihari pertama Hasan mengalami kecelakaan,
“Baik sayang, kamu yang apa kabar ?” ujar Risa, sambil tersenyum dengan mata yang berkaca – kaca dan membawa Maryam ke dalam dekapannya.
Sesaat, Maryam terdiam, kemudian dia membalas pelukan Risa, berusaha mencari ketenangan dari dekapan sosok ibu yang saat itu sedang memeluknya. Berusaha menyampaikan semua kegundahan hatinya hanya melalui elusan punggung saja, karena nyatanya saat itu keadaan benar – benar membuat Maryam merasa sangat khawatir. Hasan yang masih belum sadarkan diri, anaknya yang masih harus berada dalam inkubator membuat Maryam merasa takut dengan semua kemungkinan buruk yang akan terjadi.
“Bunda, maaf karena sudah membuat Kak Hasan terluka parah bahkan sekarang koma” ujar Maryam, sambil menatap Risa dengan air mata yang sudah jatuh membasahi kedua pipinya setelah mereka merenggangkan pelukannya.
Sesaat Risa tersenyum sambil menatap Maryam. “Bukan salah kamu sayang, setiap ayah pasti akan melindungi calon anaknya, itulah yang mungkin Hasan lakukan untuk kamu dan calon anaknya” ujar Risa, sambil tersenyum dan berhasil membuat Maryam merasa kaget karena tidak menyangka Risa juga mengetahui jika anak yang dikandungnya adalah anak Hasan.
“Bunda tahu sayang, bayi yang baru saja kamu lahirkan bukan anak dari suami mu, tapi Hasan, dia cucu Bunda, Bunda sudah mengetahui semuanya sayang” ujar Risa, sambil tersenyum menenangkan kepada Maryam.
Saat itu, Maryam tidak bisa mengelak selain karena dia tidak pernah bisa berbohong kepada Risa, perkataan Risa yang sudah terlihat yakin dan memang benar adanya, membuat bibir Maryam benar – benar sulit berucap walau hanya untuk sekedar berkata iya. Karena, nyatanya fakta jika Maryam mengandung anak Hasan di luar ikatan pernikahan masih memberikan luka baik di hati Maryam atau orang – orang disekitar mereka, terlebih saat itu keadaan memaksa Hasan dan Maryam untuk terus berjauhan, seakan keadaan memaksa mereka untuk terus menjauh sekuat apapun Hasan berjuang untuk kembali menggapai Maryam.
“Mungkin, semuanya memang sudah terlambat dan sudah menjadi jalannya seperti ini, Bunda juga sadar tidak seharusnya Bunda bicara seperti kepada kamu sayang” ujar Risa, sambil menangkup kedua pipi Maryam.
“Tapi, yang Bunda tahu, putra sulung Bunda itu memang sudah mencintai kamu sejak lama, hanya saja tidak tahu apa yang terjadi padanya karena Bunda merasa Hasan selalu berusaha menyangkal semua rasa yang dia miliki untuk kamu, hingga akhirnya semua benar – benar berakhir ketika kamu memutuskan pergi dan dia menyadari perasaannya sendiri, dia sadar jika dia tidak bisa membiarkan kamu pergi walau kamu datang untuk menemui keluarga kamu” lanjut Risa, sambil menggengam tangan Maryam.
“Meskipun saat itu dia kembali hancur untuk yang kedua kalinya, tapi seperti biasa dia akan selalu mengokohkan dirinya sendiri, tetap berusaha tegak meskipun penyangganya tubuhnya sudah hampir runtuh, bertahan walau dia tahu akan terluka, seperti itulah putra Bunda sayang, percayalah jika dia tidak pernah bermain – main dengan sebuah rasa cinta karena dia pernah merasakan pedihnya sebuah rasa cinta dari sosok yang paling dia sayang dan cinta juga” ujar Risa, sambil memalingkan wajah kemudian langsung menghapus lelehan air mata yang jatuh membasahi kedua belah pipinya saat dia kembali teringat pada kebersamaannya dengan Hasan.
Mereka hidup hanya berdua, Hasan berjuang banting tulang untuk menghidupinya karena saat itu Angga benar – benar menghilang, tidak lagi memberikan nafkah bulanan kepada Risa, dan hal itulah yang sejujurnya menjadi masa paling sulit dan masa paling menyakitkan bagi Hasan, yaitu masa ketika dia harus terluka oleh sosok orang yang paling dia percaya dan paling dia cinta, yaitu ayahnya.
“Hasan, sudah banyak mengalami luka didalam hidupnya, dia terlalu sering mengalah pada orang – orang di sekitarnya, karena yang penting baginya adalah melihat orang – orang yang dicintainya bahagia, tapi dia tidak pernah ingat jika dia juga berhak bahagia, dan rasa sakit paling menyakitkan yang Hasan rasakan adalah saat dia tahu jika dia sudah tidak lagi mempunyai kesempatan untuk bersama kamu” ujar Risa, dengan tetasan air mata yang akhirnya tidak dapat dia bendung lagi.
“Tapi sayang, percayalah jika dia sudah mengikhlaskan kamu, selalu bahagialah, karena bahagia kamu akan menjadi kebahagiaan dia” lanjut Risa, sambil menghapus lelehan air mata yang jatuh di pelupuk mata Maryam, karena ternyata saat itu dia juga tidak mampu menahan air matanya ketika mendengar kisah Hasan.
Namun, kebersamaan Maryam dan Risa tiba – tiba terusik saat ada seseorang yang datang ke kamar rawat Maryam, sosok laki – laki yang tidak pernah bertemu dengan Risa, tapi Risa bisa menebak siapakah sosok itu.
“Sedang apa kamu disini ?” tanyanya, dengan suara yang syarat akan ketegasan, menggunakan bahasa Jermannya.
“Jangan coba – coba kamu menghasud cucu ku” ujarnya lagi sambil menatap Risa dengan tatapan tajam.
Merasa tidak suka kakeknya memperlakukan Risa dengan cara yang tidak baik, Maryam hendak membela, hanya saja saat itu Risa langsung memperingati gadis itu untuk diam dan jangan memperpanjang masalahnya, karena Risa tidak merasa tersinggung oleh perkataan kakek Adler.
“Nyonya, Maaf apakah anda wali dari pasien atas nama Muhammad Rangga Angga ?” tanya suster, yang tiba – tiba masuk ke dalam ruang perawatan Maryam saat dia melihat Risa ada di dalam.
“Baru saja, Pasien mengalami kejang, dan sekarang Dokter ingin bicara dengan anda” ujar Suster setelah dia melihat anggukan kelapa Risa.
Mendengar penyataan Suster, Risa langsung bergegas pergi hendak mengecek bagaimana kondisi putranya, karena bagi Risa sejak dulu hingga sekarang Hasan adalah kekuatan baginya, dia adalah sosok anak yang pernah menjadi pelindungnya, penjadi penyemangatnya, banyak hal yang sudah dilewati Risa bersama Hasan, jadi Risa tidak tahu bagaimana hidupnya jika sampai terjadi sesuatu pada Hasan. Namun, baru saja kaki Risa sampai diambang pintu, kakinya seketika langsung terhenti dan kembali menoleh kearah kakek Aland yang saat itu sedang menatapnya dengan tatapan dingin.
“Setidaknya jika dia mati, tidak akan ada lagi benalu yang datang mengusik kehidupan cucu ku, dan aku tidak perlu repot – repot menyingkirkan dia agar jauh dari kehidupan cucuku, karena sepertinya sebentar lagi dia akan segera mati” ujar Kakek Adler, yang akhirnya berhasil membuat Risa merasa terpancing.
“Setidaknya putra ku paham pentingnya adab dan tatakrama, putra ku mengerti tentang bagaimana caranya berbicara dengan manusia, dia paham bagaimana cara taat kepada tuhannya, sehingga jika memang kematian harus menjemputnya dia, Insya Allah dia akan mendapat pertolongan dari siksa api neraka” jawab Risa, terdengar tegas, kemudian berlalu pergi untuk melihat keadaan Hasan.
***
Sakit, itulah yang Risa rasakan, melihat bagiaman kondisi Hasan, putranya yang sangat dia sayangi, kini sedang terbaring dengan mata terpejam. Padahal, biasanya Risa sangat sering memarahinya karena dia sering kekurangan waktu tidur, tapi melihat dia terus tidur rasanya lebih baik dia melihat Hasan bekerja siang malam saja meskipun keadaan itu sering juga membuat dia khawatir pada keadaan Hasan.
“Tadi Bunda ketemu Maryam, Bunda juga udah liat anak kamu sayang, dia cantik sekali, wajahnya imut seperti Maryam, dan Maryam bilang dia belum memberi nama pada anaknya, karena masih bingung, dan Bunda ingat kamu pernah menyiapkan sebuah nama untuk anak yang sedang di kandung Maryam itu, jadi Bunda sudah mengatakannya pada Maryam” ujar Risa, sambil menahan air mata yang sudah siap kembali jatuh dari pelupuk matanya.
“Segeralah bangun, Bunda rindu, Bunda kangen di peluk Kakak, bukannya Kakak bilang gak suka liat Bunda sedih, sekarang Bunda sedih sayang, jadi bangunlah agar Bunda tidak sedih lagi” ujar Risa, sambil menunduk menumpahkan semua rasa sakitnya melihat keadaan Hasan, terlebih setelah mendengar pernyataan Dokter.
“Tadi, saat saya sedang melakukan pemeriksaan, ternyata pasien sempat sadar Bu selama beberapa menit, tapi setelah itu dia kembali mengalami kejang – kanjang, anak ibu mengalami Lucid Interval, yaitu salah satu dari gejala epidural hematoma dimana pasien sempat mengamai sadar kemudian kehilangan kesadarannya lagi, saya harap keluarga bisa ikut membantu meningkatkan perkambangan pasieun, dengan cara selalu berada di dekatnya agar pasien tahu jika dia masih mempunyai keluarga yang selalu menantinya”
“Bunda, Ayah, dan Alina, rindu sama kamu, kami rindu bercanda gurau berasama kamu” ujar Risa, dengan air mata yang sudah tidak dapat dia bendung lagi.
Sementara itu, jauh dibawah alam sadarnya, Hasan tahu jika saat itu ibunya sedang menangis, memintanya kembali. Hanya saja, tidak tahu apa yang membuat Hasan tertahan dalam sebuah tempat yang menurun Hasan terasa menangkan, kesendiriannya membuat dia merasa aman dan jauh dari semua luka yang selama ini selalu menggerogoti hatinya. Terlebih, selalu datang sosok yang menemaninya menghabiskan waktu, sosok yang membuat Hasan benar – benar nyaman dan ingin terus hidup disana dengan sesuatu yang Hasan sendiri tidak tahu akan seperti apa ujungnya.
“Siapa nama mu sayang ?” tanya Hasan, pada sosok gadis kecil yang saat itu tiba – tiba datang menghampirinya dengan senyum manis yang tidak pernah hilang menghiasi wajahnya.
“Aku belum punya nama, aku sedang menunggu ayahku memberikan nama yang cantik untuk ku” ujarnya, sambil mendongak menatap wajah Hasan dengan tatapan mata yang terlihat memancarkan aura keceriaan.
Saat itu, Hasan tidak tahu dari mana datangnya gadis itu, karena diwaktu – waktu tertentu dia selalu datang, menemani rasa sepi yang kadang merengkuhnya, menjadi lentera dalam redupnya perasaan Hasan, menjadi sosok yang tiba – tiba datang bagaikan Malaikat yang memberikan kebahagiaan dengan caranya yang sederhana hingga membuat Hasan bahagia.
“Hari ini, aku masih ditempat yang sama, sebuah tempat yang membuat aku terkurung dalam sebuah ruangan yang mungkin bisa membantu ku bertahan untuk bisa terus hidup, agar aku bisa bertemu seseorang yang aku rindukan, seseorang yang rasanya aku sudah rindu sekali karena sejak awal aku tidak pernah menatap matanya secara langsung” ujarnya, dengan binar matanya yang perlahan mulai meredup.
“Aku tidak tahu kenapa dia tidak pernah datang menemui ku, aku tidak tahu kenapa dia tidak pernah hadir untuk memeluk ku, aku tidak tahu kenapa dia datang bahkan saat pertama kali aku hadir dan menginginkan lantunan adzannya yang pertama kali aku dengar, dia tidak datang meskipun saat itu aku sudah menangis sangat kencang” ujar gadis kecil itu, sambil menundukan kepalanya dan terisak menangis.
Perlahan Hasan membawa tangan gadis kecil itu ke dalam genggaman tangannya, saat itu tidak tahu kenapa mendengar pernyataan gadis itu membuat hati Hasan merasa tercubit, dia merasa ada sesuatu yang berhasil mengkoyak hatinya setelah mendengar pernyataan anak kecil yang sedang duduk disampingnya itu.
“Sayang, jangan bersedih, kamu anak yang baik dan cantik, nanti jika sudah waktunya kamu pasti akan bertemu dengan orang yang kamu rindu tadi, kamu pasti bisa merasakan pelukan hangatnya, mendengarkan lantunan Adzan bahkan lantunan – lantunan bacaan Al – Qur’an yang bisa dia bacakan dan bisa kamu dengar sepuasnya, pasti sayang” ujar Hasan, sambil merengkuh kepala kecil gadis itu kedalam pelukannya.
“Ayah aku rindu, aku ingin dipeluk Ayah, aku ingin mendengar lantunan Al – Qur’an itu ayah bacakan untuk ku, Ayah” ujarnya, sambil mendongak dan berhasil membuat tubuh Hasan menegang seketika.
Ayah, setelah beberapa kali bertemu di tempat yang Hasan sendiri tidak tahu dimana, untuk pertama kalinya dia memanggil Hasan dengan panggilan ayah. Panggilan yang sebenarnya sangat Hasan nantikan, sehingga saat gadis itu memanggilnya dengan sebuat ayah dia tentu merasa keget.