"Hai." jawabku dingin, tapi lebih dingin dari biasanya.
"Ied jangan dingin-dingin kepada pacarnu ini lah." Dia mendekatiku dan menyenggol lengan ku. Aku langsung menggeser posisi menjauh darinya.
"Mantan pacar, ingat itu." Aku menekan kata 'mantan' sambil mencuri pandang ke arah pacar barunya. Yang menurutku pacarnya rasa vilain, karena dari auranya aja dia bukan cowok baik-baik.
"Sudahlah sayangku Sevya, kamu nggak boleh gitu ke mantan pacar miskin mu itu.* Lelaki itu melingkarkan tangannya ke pinggang wanita itu, dan membuat wajah orang kesulitan yang di lebih-lebihkan yang pasti maksudnya memancing emosiku. Sevya tertawa.
Cih, tak semudah itu ferguso."Sudah urusan kalian? Cepat pergi karena aku mau masuk kamar ku.* Aku melambaikan tangan pergi ke kedua penganggu dan mengeluarkan kunci kamar.
Laki-laki itu tersenyum miring. "Bro, kok kamu gitu sih, aku dan mantan pacar mu udah baik-baik loh untuk menjenguk mu. Masa kamu mengusir kami. " Laki-laki itu hendak merangkul ku tapi aku langsung menepisnya dan memasang ekspresi wajah ku dingin tanpa perubahan menjadi jawabannya. "Aku nggak peduli."
"Padahal... Lahar sudah berbaik hati memilih kontrakanmu untuk kami tinggali berdua. Oya! Kenapa ya, kita bisa ngontrak di kamar Ied?" Sevya berpura-pura berpikir, mengetuk-ngetuk jari telunjuknya ke bibirnya. Rambut merah mudanya yang di kepang satu bergerak-gerak mengikuti tuanya.
"Karena dia di usir! Nunggak dua tahun utang nya sayang." Pria berambut coklat tua berantakan- kek rambut gojo- itu yang menjawabnya dan memberikan emot jari jempol ke bawah.
Otak ku makin panas, pupil mataku sudah mengecil, tinju sudah mengepal erat tapi hatiku masih mengontrol. "Jadi mereka, yang kata Babe akan ada yang mengontrak di kamar ku? Sungguh memuakan."
Aku sudah tidak memperdulikan kata mereka langsung menerobos masuk yang untungnya pacar dari mantan ku ini pendek orangnya, cuman 186 cm -an yang membuat ku yang 190 cm ini enak menerobos walaupun di halang-halangi oleh mereka.
Dua koper besar langsung ku keluarkan dari lemari, setelah langkah ku memasuki kamar yang mirip kayak apartemen kecil di filim Amerika, aku membuka jendela agar cahaya matahari masuk semakin jelas, dan kamar ini terang, satu koper untuk pakaian dan kebutuhan sehari-hari sehari-hari sedangkan satunya lagi untuk peralatan dan perlengkapan ku, seperti kamera butut, peralatan mandi dan barang-barang bekas pecatan ku.
Dan tambahan satu kantong plastik sedang berisi makanan terakhir di kontrakan ku. Keluar dari kamar aku langsung di buat terjatuh karena di dorong Lahar dan di jegal dengan kaki Sevya. Yang membuat makanan di plastik ku terjatuh tercecer kemana-mana.
"Ups, sorry. Sengaja." Sevya berjongkok di depanku menatap ku jijik dan mentertawakan ku bersama Lahar. b******n.
"Apa yang kalian lakukan kepada Kakak ku." Suara dingin membuat semua kepala menoleh, tawa kedua syaiton itu juga berhenti juga.
Di ujung sana aku sudah bisa menebak dari rambut panjang biru langitnya, Fira datang dengan aura yang tidak terduga. Begitu juga tatapan nya.
Padahal Fira yang ku kenal keras kepala dan penuh kekanak-kanakan, sepertinya aku terlalu cepat mengambil pandangan tentangnya. Aku tersenyum kecil.
"Ehh, bocah rupanya. Ku kira siapa." Sevya mendekati Fira dan menundukkan kepalanya mengamati Fira. "Bocah mainnya bukan disini ya, main tuh disana di taman. Bukan ngurusin orang." Sevya menunjuk taman terbengkalai di depan gedung kontrakan ini dengan senyum asam. Lahar tertawa di sampingku.
"Aku bertanya, apa yang kalian lakukan kepada..." Fira mendekatkan wajahnya lalu menarik kerah kemeja coklat Sevya, yang membuat wanita tinggi 160 cm itu semakin menunduk ke arah Fira. "... Kakak ku." Sevya tertawa.
"Kau bertanya kenapa? Hanya sekedar mengunjungi mantan pacar kakak... Dan 'bermain-main' bersam-"
"PLAKK!" Tamparan keras Fira melayang sebelum Sevya menyelesaikan kata-katanya, membuatnya sempoyongan dan jatuh, pipinya merah. Sevya mengelus pipinha yang berdenyut.
Sedangkan aku hanya bisa terpangah dengan Lahar melihat semuanya.
"Ulangi kata-katanya, jika berani." Ekspresi Fira nggak berubah sama sekali dan malah menjadi datar.
"KURANG AJAR KAUU!" Sevya langsung berdiri dan berlari ke arah Fira yang menjauh, hendak membalas tamparan Fira.
Tapi seperti s*****a makan tuan, Fira mengulur panjang-panjang kakinya, Sevya pucat dan tidak sempat mengerem yang membuat nya akhirnya terjegal oleh Fira.
"BUKKHHH!" Sevyat terpental dan jatuh maju ke depan mencium lantai, dahinya berdarah.
"AARRGGGHHH! SAKITT!" teriak Sevya dan panik secara bersamaan melihat darah saat dia mengusap dahinya.
Fira berjalan ke arah Lahar yang pucat, mendongak. "Sana tolong pacarmu, sebelum aku melakukan yang lebih menyeramkan. Ini peringatan dari ku, jika kalian berani menyentuh Kakakku lagi, aku tak akan segan-segan lagi, mengerti tuan~" Fira tersenyum dengan aura mengerikan yang membuat Lahar mengangguk patah-patah dan buru-buru menolong pacarnya. Dan langsung kabur.
"KAKAKK! KAKAK NGGAK PAPA KAN? MAAF FIRA TERLAMBAT KARENA ASIK NYEMIL BARENG BABE!!" Fira langsung mendekat dengan panik, membantu ku berdiri dan mengumpulkan makanan yang berserakan dengan tangkas dan membawakannya. "Maaf ya... Aku jadi beban Kakak."
Aku menggeleng tegas. "Justru kau membantu seperti katamu, dan malah menolong ku yang bahkan bukan urusanmu. Terimakasih banyak." Aku tersenyum kecil tulus untuk pertama kalinya setelah sekian lama kepada orang lain.
Fira tersenyum cerah bak mentari pagi, dan menggegam tangan ku.Sebagai jawabannya. Yang membuat ku kaget tapi tak menolaknya, lalu kami turun ke bawah bersama.
Dan aku tahu, aku mulai menyayanginya sebagai adik ku sendiri, dan aku berjanji untuk melindunginya dari dunia ini.