"Oii, Eid elu apain pembeli gue?! Kok bonyok ceweknya." Babe memegang bahuku saat aku mengembalikan kunci kamar kepadanya.
Fira yang maju kedepan ku." Habis. Aku buat mereka nggak berani macam-macam ke Kak Ied lagi, Babe."
Babe melongo, lalu tersenyum dan mengacak-acak rambut Fira. "Bagus! kalau ada yang macam-macam lagi, elu lawan seperti ini ye! Dan elu Eid. Jangan kalah ama bocah, badan gede tapi lemah buat apa?"
Aku hanya bisa mengaguk, sambil mempererat gandengan tangan dengan Fira."Yaudah Be, kami pamit pulang." Langit senja mulai melahap siang, mengerus birunya dengan jingganya yang pekat bak seperti ada jeruk besar yang menjadi latarnya.
Babe tersenyum kecil lalu duduk di teras." Ye, hati-hati. Di tunggu uangnye." Babe melambaikan tangan dan Fira membalaskan dengan ciri khasnya. Tersenyum lebar. Lalu pergi.
Kami keluar dari persimpangan dan melihat gedung-gedung sudah mulai memancarkan cahayanya, bersaing dengan lampu-lampu jalanan, bunyi ribut mobil yang terdesak macet meruak tanpa kendali karena jam pulang kerja, dan para penjual kaki lima sudah menyepi. Hanya menyisakan satu-dua yang bertahan.
Peluh di pelipis berulang-kali ku sekat, karena panas menggantung di perjalanan ini dan dua koper besar di terseret bersama ku membuatnya menjadi lengkap, Aku ingin cepat sampai rumah.
"Kak Ied, kita istirahat di taman dulu yuk!" Fira menunjuk kearah gerbang taman yang tak jauh di depan kami. Dan sedikit membenarkan posisi memeluk plastik isi makanan itu.
"Nggak, kita langsung pulang." Mukanya langsung cemberut.
"Ayolah kak! Istirahat sebentar apalagi kita tinggal nyebrang jalan, kakak mau nyebrang di kondisi mobil aja enggan ngasih cela nafas?"
Fira ada benarnya, jalanan pasti bakalan lama lengangnya, dari pada kita capek-capek berdiri nunggunya sekalian aja kita istirahat.
Apalagi tamannya sepi hanya beberapa orang yang berolahraga atau piknik kecil bersama keluarganya, setelah kami di depan taman itu.
"Yaudah, ayo masuk." Fira langsung lompat-lompat kegirangan, yang membuatnya buru-buru berhenti karena hampir menjatuhkan makanan di plastik.
Melangkah masuk ke taman rasanya kami seperti berpindah dunia, yang awalnya penuh suara sekarang menjadi tenang dan damai, suara angin yang mengusili pohon saja terdengar lembut, udaranya sejuk menembus tulang.
Kami memilih hamparan rumput yang cukup besar untuk berlima di payungi satu buah pohon rindang yang besar dengan beberapa bunga aster mekar di sekitar kaki pohon- Fira yang mau di rumput - lalu kami langsung menaruh barang-barang ku dibawah pohon, dan Fira langsung tiduran di rumput dengan melebarkan tubuh nya.
Seakan-akan ini kasur pribadinya. Aku memilih bersandar di badan pohon. sambil memejamkan mata. Mengistirahatkan.
"Tenan- GRUGHH." Perut Fira berbunyi yang membuatnya menutup muka dariku.
Aku tertawa kecil. "Kau lapar?"
"Enggakk, aku belum lapar.." Suara perutnya kembali terdengar yang membuatnya makin salah tingkah.
"Ayo, kita makan malam." Plastik putih itu ku bongkar yang isinya makanan emergency kalau uang lagi melarat. Mie instan. Dan beberapa snack pengganjal perut dan kopi kalengan.
"Kakak beneran kerja, bagaikan kuda ya." ceplos Fira saat memilih mie cup di plastik, melihat isinya yang mayoritas makanan siap santap. Mataku melotot kearahnya tapi dia hanya tertawa ringan.
"Sekarang. Kakak harus banyak liburan setelah lama berkerja, bukan kah begitu? tambah Fira setelah mendapatkan rasa mie cup yang dia inginkan, rasa ayam bawang.
Lagi-lagi aku dibuat terdiam dengan pernyataannya yang sering menusukku. "Ya, kau benar." Hanya itu yang dapat lolos dari mulutku. Aku menatap rasa mie cup yang kupilih, rasa kari.
Aku menyodorkan tangan kearahnya, meminta mie cupnya. "Sini, mau aku isi pake air panas."
"Pake air panas siapa kak?" Fira melihat kedua koper ku.
"Air di termos ku udah dingin." jawab ku yang mengerti. "Minta ke satpam." Aku menunjuk ke bangunan kecil sederhana berbentuk balok horizontal bercat coklat s**u dan coklat tua. Seorang bapak-bapak duduk di halamannya sambil ngopi hitam dan membaca koran, mantel satpam dan topinya melekat di tubuhnya.
Fira mengangguk dan menyerahkan mie cupnya.
"Permisi Pak."Bapak itu menutup korannya dan menoleh kearah ku dengan seutas senyum." Iya, ada yang bisa saya bantu?"
"Boleh minta air panasnya?" Aku menunjukkan dua mie cup yang di genggaman tanganku.
Pak Satpam mengangguk, membuka pintu masuknya. "Ambil aja di dispenser ya, mode panasnya masih aktif karena saya habis nyeduh kopi."
Aku mengangguk dan masuk ruangan yang pasti ini pos merangkap menjadi rumah. Terlihat ada sekat diantara bagian depan ruangan dengan belakang ruangan. Bagian depan ruangan nya saja penuh dengan perkembangan rumah, dari meja kursi tamu, tv rak-rak buku dan barang dan diatas dispenser -yang berasa pas di samping pintu masuk- ada foto-foto hitam putih yang sepertinya keluarga bapaknya.
Selesai mengisi air panas, aku keluar dan berterima kasih kepada bapaknya, lalu menghampiri Fira yang asik merangkai mahkota bunga dari bunga aster.
"Nih, mie cup mu." aku menaruh di hadapannya. Yang membuat aktivitasnya terhenti. Dan langsung mengaduk-aduk mienya agar cepat matang.
"Tewrima kuasih, kak!" kata Fira dengan mulut penuh mie. Aku mengangguk seperti biasanya dan mulai ikut menyantap mie ku.
Di antara senja bersama Fira.