"Kak Ied, kakak mau kemana?" tanyaku saat melihat Kakak keluar dari rumah dengan merapihkan pakaiannya.
"Ke kontrakan, ngambil barang-barangku." Kak Ied menepuk-nepuk tas kerjanya yang kotor.
"Ikut!" Aku langsung berada di sampingnya dengan tatapan berapi-api.
"Nggak. Kamu di rumah aja." Kak Ied berjalan sambil melambaikan tangan ringan kepadaku. Asem.
"Mau ikut!"
"Kagak, bawaanku banyak, yang ada nanti kamu cuman jadi beban." Kaki kak Ied maju mundur, berusaha melepaskan aku dari kakinya.
"Justru kalau aku ikut pekerjaan Kakak cepet kelar, kan semakin banyak membantu semakin cepat selesai. Aku janji nggak bakal jadi beban kakak!" Aku menjulurkan jari kelingking ke arahnya.
Kak Ied menepuk jidat dan menggaruk belakang kepalanya. "Sekali kamu beban, kamu pulang." Kak Ied tak menerima uluran janji ku hanya berucap lalu pergi. Aku mengangguk senang dan mengekor di belakangnya sambil bersenandung dan lompat-lompat kecil.
(POV Ied)
Fira sangat keras kepala, sudah ku bilang untuk di rumah saja tapi tetap kekeuh ikut. Menyebalkan.
Dan sekarang dia mengekor ku, dengan wajah polos kebahagiaannya dan bersenandung dan lompat-lompat kecil. Kenapa aku mau menerima tawaran untuk tinggal dengannya sih?! Otak ku kesambet apa.
Tapi, daripada aku tinggal di jalanan seperti orang menyedihkan dan tanpa arah, lebih baik aku tinggal dengan nya. Yang sudah berpengalaman dan mengerti banyak hidup di kekejaman kota ini.
Rasanya seperti memanfaatkannya...
Tidak, aku akan membalas semua jasanya, sebelum aku pergi darinya. Sekarang yang jelas sekarang aku bertahan hidup dulu.
Aku berbelok di persimpangan jalan menuju ke sebuah bangunan tingkat 2 bercat putih yang sudah dilumuri lumut dengan halaman yang tak terawat. Semak belukar tumbuh subur tak terkendali, tumpukan sampah di tempat sampah yang belum terangkut-angkut sejak sebulan lalu dan pagar kayunya reyot, bahkan beberapa hilang entah kemana. Beberapa motor terpakir rapih di halaman itu untungnya.
"Kamu tunggu disini dulu, aku mau ngomong sama Bapak kontrakannya dulu." kataku menahan Fira yang mau masuk ke bangunan itu.
Dan untungnya kali ini dia menurut, dan duduk di teras.
"Ehh... Ied datang lagi elu disini setelah gue usir, mau ngontrak lagi elu? Sori ye lunasin dulu itu hutang elu baru elu ngontrak lagi." Suara logat Betawi tak asing itu merasuki telinga ku saat aku mau masuk ke ruangan yang ada papan "Penerimaan Tamu" itu. Dan saat menoleh benar saja, bapak kontrakan.
Bapak dengan tinggi 161 cm berperut buncit dan berkaus merah dengan sarung coklat khasnya melekat, umur nya baru 40 tahun. Wajah sangarnya selalu menempel.
"Tidak Babe Darwis, saya hanya ingin mengambil barang-barang saya yang belum sempat terambil. Boleh saya mengambilnya?" Babe Darwis menyelidiki ku dari atas sampai bawah dengan matanya.
"Boleh, tapi elu tinggal dimana sekarang?" Aku terdiam melirik Fira, bingung mau menjawab apa.
Masa aku bilang tinggal bareng bocah. Seribu satu rancangan sudah aku anyam di kepala ku. Tinggal memilih.
"Tinggal bareng saya, Babe."
Hancur musnah alasan yang aku buat, aku terkejut bukan main apalagi Babe, aku bisa melihat mata melotot dan Babe yang mundur dua langkah dan menatap tak percaya padaku. Menatap ku dan Fira bergantian.
"s****n! kenapa Fira dadak cepu sekarang sih?! Babe jadi mikir aneh-aneh kan." Diriku berteriak dalam hati. Dan aku menatap Fira tajam.
Sedangkan yang di tatap hanya berkedip tanpa rasa bersalah.
"Beneran, Ied?!" Begitulah maksud dari mimik wajahnya. Aku hanya bisa mengangguk samar bahkan hampir tak mengangguk. Babe langsung jatuh terduduk.
"Elu... Masih normal, kan? Atau-"
"Aku masih normal, Babe."
"Trus nih bocah, siapanya elu?" Babe menunjuk kearah Fira.
"Kenalan." jawabku dan Fira bersamaan.
"Eh, buset kompak bet" ceplos Babe sambil geleng-geleng kepala. "Yaudahlah, gue percaya ama lu, kalau lu nggak akan nggak ngapa-ngapain anak orang."
"Pasti itu mah." balas ku dalam hati.
"Yaudah sana, ambil barang-barang lu. Besok ada yang mau nempatin kamar lu- Oya dek kalo Abang ini aneh-aneh ke elu lapor aja kesini biar gue rukiyah!" Babe mengelus kepala Fira lembut. Sedangkan aku cuman bisa mencibir kecil.
"Siap, Be. Aman! Kak Ied baik kok jadi tenang aja " Fira memberikan jari jempol ke Babe. Babe tertawa kecil.
Aku menghembus nafas pasrah. "Ada-ada aja gebrakan hidup gue..." Kaki ku menaiki tangga menuju lantai dua tempat kamar ku yang berada di ujung berada. Aku ingin cepat pergi dari sini!
Tapi langkahku berhenti, bahkan membeku. Melihat sosok wanita yang sekarang berada di depan kamar ku bersama pilihan barunya. Kurang ajar.
"Ied! Apa kabar?" sapa wanita itu tanpa rasa bersalah. Senyum mengejek terselip di dalamnya.
Tuhan, kenapa aku harus wanita durjana itu?! Aku lebih baik di ganggu Fira daripada bertemu dengannya.
Geraham ku bergelutuk tanpa ampun.