(POV Fira)
Asem! Tiba-tiba amat ini Tuan balik lagi, padahal tadi udah keras kepala nolak mau nyari makan sendiri. Padahal tadi aku udah seneng karena beban ku udah minggat.
Tapi memang aku agak sakit hati sih... Karena aku udah susah-susah nyari sarapan buat makan bareng tapi dia nolak. Apakah aku semenjijikan itu?
Tapi nggak bisa di tipu juga kalau dia balik lagi dan mau makan sarapan bareng aku, bibirku sudah melebar menjadi senyuman. Rasa sedih dan sakit tadi sudah sirna tanpa sisa.
Akhirnya kami pindah duduk di luar biar bisa leluasa- dan biar kepala Tuan itu tidak terantuk langit-langit rumah kalau tegak- Aku mengalaskan koran bekas sebagai tempat duduk kami dan Tuan itu membantu merapikan dalam senyap seperti biasanya, lalu kami duduk dan membuka plastik putih itu dengan mata berbinar-binar yang membuat aku menutup mulut.
"ASTAGA! MEWAH AMAT SARAPAN KU HARI INI!" ucap ku cukup keras yang membuat Tuan itu sedikit tersentak dan menutup kuping dan mata.
Mulutku melonggo dan Tuan itu ikut melonggo kecil dan hanya bertahan seperkian detik.
Sarapan kami adalah ayam panggang utuh, lengkap dengan nasi kuning, tempe orek, telur goreng, kentang balado, dan tumis kangkung. Belum ditambah beberapa nasi kotak yang di dalam plastik putih.
Tanganku tak sabar langsung mencuil sedikit ayam panggangnya dan rasanya sangat enak! rasanya asam manis gurih bumbunya.
"Kamu bisa motong ayamnya?" tanya Tuan itu yang disambut gelengan kepala ku, dan melqirik pisau kcil di dalam plastik putih itu, lalu memotong ayamnya dengan tenang dan rapih.
Aku seperti menatap pelukis yang menggores kuasnya untuk membuat sebuah mahakarya lukisan tiada tara."Tuan, hebat ya." puji ku tulus.
Tangan tuan itu berhenti sebentar, sebelum melanjutkannya lagi seperti tidak terjadi apa-apa, aku hanya tersenyum kecil.
"Nih, tinggal kamu ambil ayamnya udah ku potong semuanya, jadi aman." Tuan mulai melahap nasi kuning dengan ayam ke mulutnya. Dan aku pun mengikutinya.
Kami makan di tengah keheningan g**g tapi riuh di jalanan kota, aneh tapi tidak buruk juga, sesekali aku bercerita dan jawaban sepatah- dua patah kata atau sekedar anggukan Tuan menangapi ceritaku. Sarapan kami lambat laun juga berkurang dan menyisakan seperempat isinya.
"Oya, kita belum kenal satu sama lain, Tuan!" Aku menghentikan gerakan menyuapku. "Namaku Fira, nama Tuan?"
Tuan itu menyelesaikan kunyahan dalam mulutnya, berpikir sejenak menatap ku lekat-lekat yang membuat ku kebingungan. "Ied, Ied Tushar."
Aku terpengah mendengar namanya, namanya indah sekali! Dan unik.
"Senang berkenan denganmu Tuan Ied!"
Seperti biasanya Tuan Ied hanya mengangguk sekilas tapi tanpa aku sadari sudut bibirnya berkedut membuat senyuman begitu tipis- dan kalian pembaca juga yang ada kalian hanya melihat bibir datarnya-.
Uhuk! Uhukk.. "Haduhh, dadak lupa beli minum kan jadi kesedak." Aku memukul-mukul d**a. Kesedak ayam panggang.
Tanpa aba-aba Tuan Ied pergi dan kembali dengan cepat memegang sebotol air mineral dan menyerahkan kepada ku.
"Ini buat kesedak mu, cepet diminum." kata Tuan Ied saat melihat aku hanya memperhatikannya doang.
Akhirnya aku menerima dan meminum air nya dan menyerahkan kembali ke Tuan Ied, tapi dia menolak."Habiskan saja." Tuan Ied menggeleng sambil mengumpulkan sampah sarapan dan koran alas duduk kami, lalu membuangnya.
"Tidak. Tuan juga harus minum, setelah Tuan membelikan air mineral dengan uang terakhir Tuan." Aku langsung menaruh air mineral itu di tangan Tuan Ied dan menggenggam tangannya agar dia tidak menolak.
Tuan Ied menghembuskan nafas pelan, sebelum akhirnya menggaguk dan menghabiskan air mineral itu untuk membasuh tenggorokannya. Senyum membuai bibirku.
"Tuan... Apakah Tuan akan pergi setelah ini?" tanyaku menunduk.
Setelah mendapatkan untuk teman setelah sekian lama... Apakah perpisahan kami secepat ini?
"Iya." jawab singkat, padat dan jelas.
"Beneran? Kalau mau Tuan, tinggal di rumahku lebih lama lagi... Yaa, walaupun kondisinya lebih buruk dari rumah Tuan yang tidak tahu dimana. Tapi. Nggak masalah kalau Tuan tetap ingin pergi, terimakasih atas kebersamaannya yang singkat tapi aku sangatt bahagia!" Aku tersenyum lebar.
Tuan terdiam lama memalingkan wajahnya dariku, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu, jarinya mengetuk-ngetuk aspal jalan yang berlubang. "Aku mau tinggal bersama mu." Aku terkejut, apa? tadi Tuan Ied bilang apa?
"Aku mau tinggal denganmu, toh aku juga nggak punya rumah dan aku udah di usir dari kontrakanku yang nunggak." Tatapan kami bertemu dan aku menangkap sorot kehancuran semakin jelas di matanya. "Jadi, apakah kau tetap mengizinkan pria menyedihkan ini tinggal bersamamu?" Aku mengangguk mantap.
"Tentu! karena kau teman ku. Kakak." Aku menuntup mulut. Alamak! salah ngomong!
"Panggil aku kakak aja." Hah? aku tak salah dengar? Aku menatap Tuan Ied untuk kepastian 2 kali. Dan dia mengangguk.
"Aku masih 24 tahun, jadi agak aneh juga kalau aku di panggil Tuan."
"Baik, Kak Ied!"
Hatiku sekarang sangat penuh, akhirnya aku tak lagi sendiri karena seorang pria bergabung dalam hidupku.
Kuharap kita bersama selamanya... Kak Ied!