Cermin besar berbingkai hitam di dinding ruang tamu memantulkan segalanya tanpa ada satu detail pun yang tersembunyi. Aku menatap bayangan diriku sendiri di sana—berlutut pasrah di atas permukaan sofa leather yang dingin, sementara North berdiri kokoh dan mendominasi di belakangku. Cengkeraman jemari North di pinggulku terasa begitu membakar, meninggalkan jejak panas yang mengikat erat dan menegaskan kepemilikan mutlaknya.
"Tatap matamu sendiri di cermin itu, Mindy," bisik North di dekat telingaku. Suaranya serak, rendah, dan bergema penuh otoritas tepat di lubang telingaku. "Lihat bagaimana kau menyerahkan dirimu sepenuhnya tanpa ada sisa."
"Aku melihatnya, Daddy..." bisikku terengah-engah, mataku menatap pantulan diriku yang tampak begitu rapuh namun tunduk. "Aku melihat betapa tak berdayanya aku di hadapanmu. Tapi aku tidak ingin melawan. Aku tidak mau berhenti."
"Kau memang tidak perlu melawan, Mindy," balas North lembut namun sarat akan d******i mutlak yang mengikat batinku. "Kau hanya sedang pulang ke tempat di mana kau benar-benar diinginkan, dijaga, dan dihargai seutuhnya. Ingat itu baik-baik di dalam kepalamu."
"Iya, Daddy... aku ingat," bisikku pasrah di sela napas yang mulai tersengal-sengal tak beraturan. "Aku tidak mau pergi ke mana pun selain di sini, terjebak selamanya di dalam pelukanmu."
"Apakah kau benar-benar yakin bisa meninggalkan segalanya demi aku?" tanya North tiba-tiba, memperlambat sesaat temponya untuk menuntut jawaban pasti dariku lewat tatapan cermin. "Hidupmu di luar sana tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini."
"Aku tidak peduli dengan hidupku yang dulu, Daddy," jawabku cepat, air mataku menetes di atas permukaan sofa. "Bahkan jika dunia mengecamku, aku hanya ingin tetap berada di bawah kendalimu. Jangan biarkan aku pergi."
"Kau tidak akan pernah bisa pergi ke mana pun, Mindy, karena raga dan jiwamu sudah sepenuhnya menjadi milikku," ucap North tegas, suaranya menghantam telingaku dengan kepastian yang memabukkan. "Ingat kata-kataku ini."
"Anak pintar," puji North rendah, bibirnya mengecup sekilas puncak bahuku yang terekspos dinginnya udara ruangan. "Tetaplah patuh dan taat seperti ini, dan aku akan memberimu dunia serta perlindungan mutlak yang tidak pernah bisa diberikan oleh pria manapun di luar sana."
"Apakah... apakah dunia luar benar-benar tidak akan bisa menemukan kita di tempat ini?" tanyaku ragu, mencengkeram kain sofa leather semakin erat hingga buku-buku jariku memutih. "Aku masih dihantui rasa cemas setiap kali membayangkan suamiku."
"Percayalah padaku, Mindy. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menyentuhmu selama kau berada di dalam genggamanku," tegas North, membuat rasa aman yang aneh merayap menghangatkan dadaku. "Kau adalah duniaku sekarang, dan tidak ada yang bisa merebut milikku."
"Tapi bagaimana kalau suatu hari nanti dia melacak keberadaanku lewat kampus?" tanyaku lagi, suaranya bergetar hebat di sela desahannya.
"Universitas itu berada di bawah telapak kakiku, Mindy. Pria itu tidak punya kuasa apa-apa di hadapanku," potong North tandas, nadanya berubah semakin dingin dan mengintimidasi. "Jadi jangan pernah ucapkan keraguan bodoh seperti itu lagi."
"Maafkan aku, Daddy... aku hanya takut kehilangan tempat perlindungan ini," ucapku merasa bersalah.
"Cukup rasakan aku, Mindy. Jangan pikirkan hal lain selain keberadaanku di sini," perintah North mutlak.
North kembali bergerak menyatu denganku dalam satu dorongan yang sangat dalam, mantap, dan rapat, membuat napasku tertahan seketika di rongga d**a.
"Ahhh... North... Daddy..."
Rintihanku pecah tanpa bisa kutahan lagi, bergema memenuhi seluruh sudut ruangan penthouse yang kedap suara. Punggungku melengkung seketika, jemariku meremas kuat kain sofa hingga tegang. Sensasi pekat dan penuh yang menguasai bagian dalam tubuhku membuat seluruh saraf di sekujur kulitku bergetar hebat.
North tidak memberikan jeda sedikit pun untukku bernapas lega. Ia membimbing ritme gerakannya dengan tempo yang stabil, makin lama makin dalam dan menuntut. Setiap kali tubuhnya merapat erat pada punggungku, desakan hangat yang luar biasa menghantam dadaku hingga aku kesulitan menata degup jantung.
"Pelan-pelan... Daddy... ahhh... terlalu cepat..." rintihku pasrah dengan kepala terkulai ke depan, namun North dengan cepat menahan dahiku, mengangkat daguku, dan memiringkan wajahku agar terus menatap pantulan cermin.
"Jangan pernah tutup matamu saat kau bersamaku," geram North rendah dan mengintimidasi. Tangannya yang sebelah lagi merayap ke depan, menyusuri perutku lalu menopang dadaku secara posesif. Ia menyapu kulit halusku dengan tekanan lembut namun mengikat. "Lihat betapa cantiknya kamu saat bergerak bersama Daddy, Mindy. Jangan alihkan pandanganmu sedetik pun dari cermin itu."
"Aku melihatnya... aku melihat diriku hancur di tanganmu, Daddy..." erangku putus asa di ambang batas kewarasan.
"Kau tidak hancur, Mindy. Kau sedang dibentuk ulang menjadi milikku seutuhnya," balas North tanpa ampun, suaranya terdengar begitu memuja sekaligus berbahaya. "Apakah kau... apakah kau akan terus menjagaku seperti ini? Bagaimana kalau suatu hari nanti Lennox benar-benar menemukan tempat ini?" tanyaku sekali lagi di sela napas yang putus-putus, mencoba mencari kepastian di tengah badai kenikmatan yang melanda.
"Pria itu tidak akan pernah bisa menemukan tempat ini, Mindy. Dan seandainya pun ia bermimpi menemukannya, aku sudah memastikan ia tidak akan bernyawa saat tiba di sini," jawab North tegas tanpa ragu, suaranya menjadi jangkar yang mengunci jiwaku. "Jadi, hapus nama sialan itu dari pikiranmu sekarang juga."
"Aku mengerti... aku tidak akan memikirkannya lagi, Daddy," jawabku cepat, merasa sangat aman di bawah perlindungan mutlaknya. "Hanya ada kau di pikiranku sekarang. Tidak ada yang lain."
"Bagus. Karena kepatuhanmu adalah bayaran paling mahal yang kuminta darimu," balas North, membuat gerakannya kian menuntut dan menghanyutkan kesadaranku.
North menyemburkan sisa uap tipis beraroma vanilla tobacco dari mulutnya, membiarkan asap manis itu menyapu bahu dan leherku yang basah oleh keringat. Bersamaan dengan itu, bibirnya kembali menyerang daun telingaku—menyesap cupingku dengan ciuman-ciuman kecil yang membuat kakiku melemas seketika.
"Apakah suamimu pernah membuatmu menatap cermin seperti ini, hm?" tanya North di sela napasnya yang memburu panas di dekat telingaku. "Apakah dia pernah memujimu saat kau berantakan di bawah kendalinya?"
"Tidak... tidak pernah, Daddy..." jawabku terisak di antara sisa kesadaranku yang menipis. "Dia tidak pernah memperlakukanku seperti manusia... dia hanya melihatku sebagai beban pernikahan mereka yang memalukan dan merepotkan."
"Maka mulai sekarang, kau adalah ratu di sini. Di bawah kendaliku," bisik North penuh penekanan mutlak. "Hanya aku yang berhak melihatmu hancur dan utuh kembali."
"Ahhh... Daddy... di situ... rasanya luar biasa... aku tidak sanggup lagi..."
Sentuhan di telinga yang bercampur dengan hentakan konsisten dari belakang membuatku benar-benar kehilangan kendali atas diriku sendiri. Logikaku lumpuh total. Pernikahanku yang hancur dengan Lennox, rasa sakit di masa lalu, dan seluruh ketakutanku pada dunia luar... semuanya terbakar habis tak berbekas. Yang tersisa di kepalaku kini hanyalah North, rasa panas yang membakar, dan kenikmatan tiada akhir yang ia berikan.
"Sebut namaku, Mindy. Siapa yang punya tubuh ini sekarang?" bisik North makin serak, temponya kian pekat dan tak terhentikan.
"Daddy... aku milik Daddy... sepenuhnya milikmu seorang... ahhh!"
North mengerang berat, suara baritonnya bergetar di telingaku. Gerakannya makin dalam dan teratur, mengunci pinggulku rapat-rapat sampai guncangan hebat kembali meledak di dalam dadaku. Puncak nikmat itu menghantamku begitu keras hingga pandanganku di cermin kabur, dan rintihan pasrahku memecah hening malam, menyisakan kepekatan rasa candu yang merasuk hingga ke tulang sumsumku.