Pendar cahaya kemerahan dari vape milik North perlahan meredup, menyisakan temaram yang intim di sudut ruang tamu penthouse yang kedap suara. North melangkah mendekatiku dengan langkah tenang namun memancarkan kendali mutlak atas seluruh ruangan. Tanpa mengalihkan tatapan hazelnya dariku, ia perlahan melepas kemejanya, memamerkan bahunya yang bidang, d**a bidang yang kokoh, serta garis tato geometris yang membentang tegas di sepanjang punggungnya.
Pria itu kembali menghisap vape-nya dalam-dalam hingga uap putih mengepul di rongga mulutnya. Ia menarik tengkukku perlahan dengan satu tangan, mendekatkan wajah kami, lalu meniupkan uap tebal beraroma vanilla tobacco itu tepat ke arah wajah dan bibirku.
Aroma manis yang pekat itu langsung bercampur dengan wangi maskulin cedarwood dan kehangatan tubuh North, seketika melumpuhkan indra penciumanku. Aku memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan sensasi hangat, mabuk, dan pening ringan yang menyenangkan mengambil alih sisa-sisa logikaku.
"Kamu suka aromanya, Mindy?" bisik North serak, suaranya mengalun rendah di dekat telingaku. Jemari tangannya yang besar dan hangat perlahan merayap ke belakang telingaku, mengusap cuping telingaku dengan ritme memutar yang teramat halus dan berbahaya.
"Suka... Daddy..." jawabku gemetar hebat, suaranya nyaris tak terdengar. Bahuku langsung terangkat ke atas akibat sengatan halus yang merambat cepat dari cuping telingaku hingga ke tulang belakang.
"Bagus kalau kau suka," bisik North di sela tawanya yang rendah. "Karena segala hal tentangku akan segera menjadi satu-satunya hal yang kau kenali di dunia ini. Paham?"
"Paham, Daddy... aku mengerti," jawabku pasrah, tenggelam dalam dominasinya.
Sudut bibir North terangkat membentuk senyuman tipis penuh kemenangan. Tanpa melepaskan pandangannya yang menyorot tajam dariku, ia mulai menanggalkan pakaian tebal yang membungkus tubuhku satu per satu, membiarkan kulitku terpapar udara dingin pendingin ruangan apartemennya. Mata hazel gelapnya memindai setiap inci tubuhku tanpa ampun—menikmati setiap lekuk, getaran kecil, dan rona merah karena malu yang menjalar di kulitku.
"Aku tidak suka cara yang biasa dan membosankan, Mindy," gumam North rendah, menatapku penuh intensitas liar yang membuat nyalaku ciut sekaligus penasaran. "Dan kamu... terlalu indah untuk hanya dinikmati dengan satu cara."
"Apa maksudmu, North?" tanyaku ragu, napasku mulai memburu tidak karuan.
"Kau akan segera tahu," balasnya singkat penuh rahasia.
North melangkah menjauh sejenak menuju kulkas kecil di samping bar mini, lalu mengambil sebuah wadah kecil berisi beberapa kubus es batu. Pria itu kembali menghampiriku, lalu membimbingku berbaring telentang di atas sofa leather hitam yang dingin. Sebelum aku sempat bertanya atau protes, ia mengambil sebuah kubus es dan menyapukannya tepat di atas kulit perutku yang hangat.
"Ah! North... dingin sekali!" jeritku kaget, tubuhku refleks melengkung ke atas akibat kejutan suhu yang drastis.
"Ssst... nikmati suhunya, Mindy," bisik North menenangkan namun mutlak. "Rasakan bagaimana kontrasnya."
North tidak membiarkannya berhenti di situ. Ia menggeser kubus es itu perlahan dari garis d**a, melintasi pusar, membiarkan jejak air es yang membekukan tertinggal di atas kulitku yang sensitif. Namun, sebelum rasa dingin itu merusak kesadaranku, bibir dan ciuman panas North langsung menyusul bergerak di belakang jalur es tersebut—menyesap lelehan air es di atas kulitku dengan sentuhan yang teramat intens dan menuntut.
Kontras yang ekstrem antara dinginnya es batu dan kehangatan bibir North membuat seluruh saraf di tubuhku seperti disengat aliran listrik ribuan volt. Aku mencengkeram erat lengan sofa leather di bawahku, menahan desahan pasrah saat bibirnya merayap naik, memberikan kecupan-kecupan dalam di sepanjang garis leher dan dadaku.
"Hngh... Daddy..." rintihku dengan kepala menggeleng pelan di atas bantal sofa, benar-benar menyerahkan diriku seutuhnya.
"Ini baru permulaan kecil, Sayang," geram North rendah di atas kulitku. "Apakah suamimu pernah memperlakukanmu sekhusus ini, hm?"
"Tidak... tidak pernah..." jawabku terisak kecil di sela desahan. "Dia tidak pernah peduli padaku..."
"Bagus. Karena mulai sekarang, hanya aku yang berhak menyentuhmu seperti ini," tegas North penuh klaim.
North melempar sisa es batu itu ke atas meja kayu. Pria itu menggeser tubuhnya lebih rapat, mengunci pergerakanku di bawah d******i penuhnya yang tak terbantahkan.
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Masih ingat suamimu di rumah?" tanya North tajam, matanya menatapku lekat-lekat menuntut kejujuran di tengah napas kami yang memburu.
"Tidak... aku tidak mengingat siapa pun selain kau, North..." bisikku patah-patah, tenggelam dalam pesonanya.
Tanpa peringatan lebih lama, North menundukkan kepala, mendaratkan ciuman dan sentuhan paling dalam di area sensitifku yang membuat seluruh pertahanan logikaku runtuh dalam hitungan detik.
"Aahh! North! Tolong..."
Jeritanku pecah, bergaung bebas di ruang tamu yang sepi dan kedap suara. Lennox tidak pernah sekalipun memperhatikanku, apalagi memikirkanku dengan cara yang begitu memuja sekaligus posesif ini. Namun North... pria berusia 35 tahun ini membimbingku merasakan kehangatan dan keintiman yang belum pernah kuketahui keberadaannya seumur hidupku. Sentuhannya menyapu dan menuntut dengan kepastian mutlak seorang penguasa.
"North... Daddy... aku tidak bisa... ahh!" Tanganku meremat kuat bahunya yang kokoh, mencoba menahan guncangan dahsyat yang membakar kesadaranku hingga ke ujung kepala.
"Katakan padaku siapa pemilikmu, Mindy," tuntut North di tengah deru napasnya.
"Kau... North... Daddy adalah pemilikku..." erangku putus asa.
North tidak memberikan sedikit pun jeda. Ia mempercepat ritme sentuhannya, dibarengi jemarinya yang kembali menyelinap ke belakang telingaku untuk membelai cupingku dengan lembut. Gabungan serangan di dua titik paling sensitif itu menghantam sisa akal sehatku hingga puncak nikmat meledak hebat. Tubuhku bergetar pasrah dalam cengkeraman tangannya yang kokoh.
Belum sempat aku menata napas yang memburu dan d**a yang naik-turun cepat, North membimbing tubuhku untuk berbalik posisi di atas sofa.
"Tengkurap. Angkat sedikit pinggulmu untukku," perintah North dengan suara berat dan serak yang mengintimidasi namun membius.
"Di sini?" tanyaku ragu dengan napas terengah-engah.
"Ya, di sini, tepat di hadapan cermin itu," jawab North mutlak.
Aku mematuhi setiap perintahnya bagai tersihir mantra gelap, membiarkan diriku berada dalam posisi pasrah di atas sofa yang luas. Sensasi tak berdaya ini justru membuatku merasa sepenuhnya berada dalam kuasa penuh pria di belakangku.
North berdiri tegak tepat di belakangku. Dari pantulan cermin besar berbingkai hitam di dinding ruang tamu, aku bisa melihat bayangan North yang kembali menghisap vape-nya sekali lagi, menyemburkan uap manis ke udara temaram, lalu mencengkeram pinggulku erat dengan kedua tangannya yang kuat dan kekar.
"Tatap cermin itu, Mindy," bisik North penuh klaim mutlak dari belakang, suaranya menggema tegas di telingaku saat ia menyatu dalam pelukan paling erat, panas, dan penuh kuasa. "Lihat mata itu... lihat betapa cantiknya kamu saat Daddy mengambil dan menuntut apa yang seutuhnya milik Daddy."