Telepon di atas meja bar bergetar hebat, memecah keheningan apartemen mewah yang masih hangat oleh sisa gairah. Layar ponselku menyala terang di tengah temaram kamar, menampilkan satu nama yang seketika membuat darahku mendadak dingin: Lennox.
Aku terlonjak kaget, buru-buru menarik selimut tebal untuk menutupi dadaku yang terekspos. North yang sedang duduk di tepi ranjang—masih bertelanjang d**a dengan vape di jemarinya—menoleh lambat. Mata hazel gelapnya menyipit tajam menatap layar ponselku yang terus berdering nyaring.
"Angkat," perintah North tenang, namun ada aura mengancam yang sangat pekat dan berbahaya dari nada suaranya.
"T-tapi North... dia pasti akan mengamuk besar kalau tahu aku belum pulang jam segini," cicitku gemetar, menatap layar ponsel dengan ngeri. "Kamu tahu sendiri bagaimana wataknya yang kasar kalau sedang emosi."
"Justru itu yang ingin kulihat, Mindy," balas North santai, menghembuskan uap tipis beraroma vanilla tobacco ke udara. "Kubilang angkat. Jangan buat aku menyuruhmu dua kali."
"Tapi... kumohon jangan sekarang, North. Aku takut," desakku dengan suara bergetar hebat, mencengkeram lengan kekarnya erat-erat. "Dia bisa menghancurkan hidupku kalau tahu aku di sini."
"Tidak ada yang perlu ditakuti selama kau berada di dalam pelukanku," ucap North tegas, menatapku lurus tanpa memberi ruang untuk membantah. "Biarkan b******n itu tahu bahwa jalang kecilnya sekarang berada di bawah perlindunganku seutuhnya."
"Aku tidak seberani itu, North..." air mataku mulai menggenang di pelupuk mata.
"Angkat teleponnya, Mindy. Atau aku sendiri yang akan menjawab panggilannya dan mengajaknya berbicara," ancam North rendah, namun nadanya mutlak.
Dengan tangan yang gemetar hebat, aku akhirnya menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga. "H-halo, Lennox?"
"Kamu di mana?!" suara Lennox langsung meledak di seberang telepon, kasar, dingin, dan penuh amarah yang tertahan. "Aku sudah pulang dari jam lima sore! Kamu tidak ada di rumah, baju-bajuku belum disetrika, dan tidak ada makanan sama sekali di meja! Kamu makin berani melunjak, ya, semenjak kuliah lagi?"
Aku menahan napas, berusaha menjaga suaraku agar tidak bergetar hebat di hadapan North. "Aku... aku masih di perpustakaan kampus, Lennox. Bahan revisi risetku banyak sekali, dosen pembimbingku meminta—"
"Jangan bohong!" potong Lennox tajam dengan nada penuh curiga. Suara gedoran tangan di meja terdengar sangat keras dari seberang telepon. "Aku barusan telepon pihak fakultas, dan perpustakaan sudah tutup dari jam empat sore tadi! Kamu ada di mana sebenarnya, hah? Jangan buat aku makin hilang kesabaran, Mindy! Pulang sekarang atau akibatnya kamu sendiri yang tanggung!"
Jantungku berdegup kencang hingga terasa sakit, rasa panik yang luar biasa mendadak melumpuhkan sekujur tubuhku. Lennox memang cerdas dan manipulatif, ia selalu melacak setiap gerak-gerikku tanpa ampun.
"Lennox, tunggu... tolong dengarkan aku dulu, aku bisa jelaskan..." kataku terbata-bata nyaris menangis di ujung tanduk.
"Jelaskan apa, hah? Kamu sengaja cari pelarian karena tidak becus mengurus rumah tangga, kan? Dasar perempuan tidak berguna! Cepat pulang sebelum aku ke kampusmu sekarang!" maki Lennox semakin menjadi-jadi dari seberang sambungan.
Sebelum aku sempat menyusun kebohongan baru untuk meredam amarahnya, sebuah tangan kekar tiba-tiba merebut ponsel itu dari genggamanku. North.
North menatap layar ponselku sesaat dengan tatapan merendahkan, lalu mematikan panggilan tersebut secara sepihak tanpa ragu sedikit pun. Setelah itu, ia melempar ponselku begitu saja ke atas karpet kamar hingga baterainya terlepas.
"North! Kenapa dimatikan?!" bisikku panik, air mataku langsung tumpah membasahi pipi. "Dia pasti bakal makin marah besar... dia bisa main tangan lagi kalau aku pulang dalam keadaan seperti ini... Dia bisa melacakku ke mana-mana!"
North membalikkan badan sepenuhnya, menatapku lurus dengan rahang mengeras. Wajahnya yang tegas dan tampan tampak sangat gelap di bawah cahaya lampu tidur. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami, lalu mencengkeram kedua bahuku dengan lembut namun sangat posesif dan mengunci.
"Biarkan dia marah, Mindy," ucap North dingin, suaranya bagaikan pisau tajam yang menyayat kecemasanku. "Pria penakut seperti dia cuma bisa melampiaskan rasa tidak becusannya pada wanita lemah di rumah. Tapi mulai hari ini dan detik ini, aku tidak akan biarkan pria sialan itu menyentuhmu lagi tanpa ada konsekuensinya."
"Tapi bagaimana kalau dia datang ke apartemen ini? Bagaimana kalau dia tahu aku bersamamu?" tanyaku putus asa, napasku memburu ketakutan yang luar biasa.
"Dia tidak punya cukup keberanian untuk mencariku di sini, Mindy. Tempat ini adalah wilayahku," jawab North lembut, ibu jarinya mengusap air mataku dengan penuh penguasaan. "Dan jika dia benar-benar cukup bodoh untuk datang, aku akan menghabisinya detik itu juga. Jadi, berhenti memikirkan pecundang itu."
"Aku hanya... aku hanya takut terjebak di antara kalian berdua," akuku jujur, suaraku tercekat di tenggorokan. "Aku takut kehancuranku."
"Kau tidak terjebak di mana pun, Mindy. Kau sudah bebas, dan kau adalah milikku," tegas North mutlak. "Fokus padaku saja sekarang. Pandang aku."
North menunduk, mendaratkan bibirnya tepat di daun telingaku. Ia menyesap cupingku dengan ciuman yang dalam dan menuntut, membuat rasa panikku seketika buyar, berubah menjadi kepasrahan yang pekat.
"Sekarang," bisik North serak tepat di lubang telingaku, jemarinya merayap masuk ke balik selimut dan mengunci pinggulku dengan tekanan yang panas. "Lupakan pria bodoh itu sebentar. Fokus padaku, Sayang."
"Ahh... Daddy..." rintihku pasrah, dadaku terangkat menyambut rengkuhannya yang menghanyutkan.
North menarik napas dalam-dalam, menikmati wangi tubuhku yang bercampur uap vanilla tobacco. Ia mendorong tubuhku perlahan hingga terlentang sepenuhnya di atas kasur king size, lalu mengikatku kembali dalam pelukan yang erat, mantap, dan mendominasi.
"Apakah kau masih memikirkannya, hm? Apakah bayangan pria itu masih mengganggumu di ranjangku?" tanya North di sela napasnya yang mulai memburu panas di leherku.
"Tidak... tidak ada siapa-siapa di kepalaku selain kau, North... aku mohon jangan lepaskan aku..." jawabku terisak pelan, menyerahkan diri sepenuhnya tanpa reserve.
"Bagus," geram North rendah penuh kemenangan. "Katakan padaku, Mindy... siapa yang memiliki tubuh dan jiwamu sekarang?"
"North... ahhh... North... Daddy..." rintihku pecah seketika, jemariku mencengkeram erat bahu kokohnya tatkala ia mulai menghancurkan sisa-sisa logikaku dengan sentuhan mutlaknya.
"Katakan yang keras, Sayang," tuntut North, gerakannya kian teratur menguasai setiap inci dari tubuhku tanpa ampun. "Siapa pria satu-satunya yang berhak atas dirimu di dunia ini?"
Aku memejamkan mata rapat-rapat, merasakan gelombang nikmat yang membakar habis sisa rasa takutku pada Lennox di luar sana, lalu membisikkan kata-kata yang paling ia inginkan dengan suara putus asa:
"Hanya... Daddy... aku sepenuhnya milik Daddy seorang!"
North mengerang puas mendengar pengakuanku. Pria itu memperdalam dekapannya, membuat pelukannya makin intens dan tak terhentikan—seakan menantang dunia luar dan mengabaikan fakta bahwa di luar sana, badai pernikahan beracunku bersama Lennox siap meledak kapan saja menghancurkan segalanya.