Di dalam celah tangga darurat yang temaram dan pengap, napas kami saling beradu dalam keheningan yang menegangkan. Punggungku semakin menempel erat pada dinding beton yang dingin ketika North terus membelai lembut leherku, mengunci pergerakanku sepenuhnya tanpa ampun.
Klek. Kriet...
Suara derit pintu besi di lantai atas yang mendadak terbuka membuat jantungku serasa mau melompat keluar dari rongga d**a. Suara langkah kaki beberapa orang mahasiswa yang sedang berbincang keras terdengar bergema di koridor beton, mulai melangkah turun mendekati arah tempat kami bersembunyi.
"N-North... kumohon berhenti, ada orang di atas..." bisikku panik, seluruh darahku berdesir hebat. Aku mencoba mendorong dadanya dengan gemetar, meski jemariku sendiri justru terasa lemas tak berdaya mencengkeram kemejanya.
North tidak langsung bergerak panik. Mata hazel-nya menyipit tajam, memperhitungkan situasi dengan kepala dingin. Bukannya melepaskanku begitu saja, pria itu justru menarik kembali kerah sweater-ku ke posisi semula dengan sangat cepat namun telaten. Ia merapikan helai rambutku yang agak berantakan akibat ulahnya barusan, lalu menggandeng jemariku dengan cengkeraman yang erat, hangat, dan sangat protektif.
"Ikut aku sekarang, jangan banyak tanya," perintah North singkat dengan suara beratnya yang tak menerima bantahan.
Ia menarikku keluar melalui pintu darurat lantai bawah yang menembus langsung ke area parkir khusus dosen—tempat yang sepi, tersembunyi, dan terlindung dari gerimis. Tanpa banyak bicara, North membukakan pintu mobil sedan hitam miliknya, mendorongku masuk dengan lembut ke kursi penumpang depan, lalu menutup pintunya rapat-rapat.
North berjalan cepat mengitari kap mobil, langsung duduk di balik kemudi, dan menancap gas meninggalkan area kampus dengan kecepatan tinggi di bawah guyuran hujan.
Di dalam kabin mobil yang melaju membelah jalanan kota yang basah, keheningan terasa begitu pekat dan sarat ketegangan. North menyalakan vape-nya, menghisap uapnya dalam-dalam dengan mata tetap fokus ke jalan, lalu membiarkan aroma vanilla tobacco yang memabukkan memenuhi ruangan. Tangannya yang bebas tiba-tiba merayap ke atas pangkuanku, meremas paha atasku perlahan namun penuh d******i mutlak.
"Kita mau ke mana, Daddy?" tanyaku pelan, berusaha menata napasku yang belum sepenuhnya stabil di balik kaca mobil yang berembun. "Bagaimana kalau suamiku mencariku ke rumah dan mendapatkanku tidak ada di sana?"
North menoleh sekilas, menatapku lekat-lekat dengan sorot mata yang sulit diartikan. Garis wajahnya yang tegas terlihat begitu tampan, menakutkan, dan mengintimidasi di bawah pendar lampu jalanan.
"Ke tempat yang aman, Mindy," jawab North dingin dan tegas. "Ke tempat di mana tidak ada satu orang pun—termasuk suamimu—yang bisa menyentuhmu atau mengganggumu dari genggamanku. Biarkan dia mencari sampai lelah."
"Tapi... tapi bagaimana kalau Lennox curiga dan melaporkan kehilangan ke pihak kampus?" tanyaku cemas, bayangan kemarahan Lennox mulai melintas di kepalaku, membuat sekujur tubuhku merinding ketakutan.
North mendengus pelan, menekan pedal gas sedikit lebih dalam hingga mobil melaju semakin stabil membelah jalanan malam. "Dia tidak akan berani melakukan hal bodoh yang bisa menjatuhkan reputasinya sendiri, Mindy. Dan kalaupun dia berani, aku memiliki seribu cara untuk menghancurkan pria itu sebelum ia sempat menyentuh sehelai pun rambutmu. Percaya padaku."
"Aku takut, North... Maksudku, Daddy..." rintihku lirih, mencengkeram erat sabuk pengaman di hadapanku. "Dunia luar terlalu kejam pada wanita sepertiku yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta."
North menghela napas panjang, sebelah tangannya melepaskan kemudi sejenak untuk menggenggam jemariku yang dingin dengan erat. "Ketakutan itu wajar, Mindy. Tapi mulai detik ini, ingatlah satu hal: kau tidak sendirian lagi menghadapi duniamu. Ada aku di sisimu."
"Apakah kau benar-benar akan melindungiku dari segala amukan Lennox?" tanyaku sekali lagi, mencari kepastian di tengah badai keraguan yang melanda pikiranku. "Bagaimana kalau dia menemukan tempat ini?"
"Tempat ini adalah milik pribadiku, Mindy. Tidak ada satu pun orang di luar sana yang tahu keberadaannya selain aku," jawab North mantap tanpa ragu. "Kau aman di sini. Di bawah perlindunganku sepenuhnya."
"Aku mempercayaimu, Daddy..." bisikku pelan, merasakan kehangatan menjalar di dadaku. "Tapi rasanya masih seperti mimpi berada di sini bersamamu. Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan berbelok separah ini."
"Hidupmu tidak berbelok arah, Mindy. Kau baru saja keluar dari jalur yang salah dan kembali ke tempat yang seharusnya," balas North lembut namun penuh penekanan mutlak. "Kau tidak perlu lagi merasa cemas memikirkan apa yang akan ia katakan setibanya kau di rumah."
"Tapi bagaimana dengan kuliahku? Bagaimana kalau hubunganku denganmu tercium oleh dekanat atau mahasiswa lain?" tanyaku penuh kecemasan, bayangan skandal kampus mendadak menghantui kepalaku.
North terkekeh pelan, sebelah tangannya mengusap lembut punggung tanganku dengan penuh keyakinan. "Universitas ini berjalan di bawah pengaruh yang kubangun, Mindy. Tidak ada satu pun orang di kampus yang berani mempertanyakan urusanku, apalagi mencampuri urusanmu. Posisiku jauh lebih kuat dari yang kau bayangkan."
"Jadi... kau benar-benar memegang kendali penuh atas segalanya?" tanyaku takjub sekaligus ngeri.
"Tentu saja," jawab North mantap. "Termasuk memegang kendali penuh atas dirimu, Mindy. Jadi, singkirkan semua keraguan itu dari kepalamu sekarang juga."
"Bagus. Karena mulai sekarang, hidup dan matimu adalah urusanku," balas North dingin namun penuh klaim mutlak yang membuat sekujur bulu kudukku meremang nikmat.
"Apakah kau tidak khawatir kalau pihak universitas mencurigai kedekatan kita?" tanyaku ragu, mencoba mencari celah percakapan lain untuk menenangkan debar jantungku.
"Universitas tidak akan berani mencampuri urusanku, Mindy. Posisiku di sini jauh lebih kuat dari yang kau bayangkan," ujar North tenang tanpa beban.
"Aku mengerti..." ucapku pelan, kembali menatap pemandangan kota di luar jendela.
Tiga puluh menit kemudian, sedan hitam milik North meluncur mulus dan berhenti di area basemen sebuah kondominium mewah bertingkat tinggi yang sangat eksklusif. Ia mematikan mesin mobil, lalu membimbingku keluar dan masuk ke dalam lift pribadi yang langsung membawa kami naik menuju unit penthouse di lantai teratas.
Begitu pintu lift terbuka dan pintu apartemen berarsitektur industrial dark itu tertutup serta terkunci rapat di belakang kami, keheningan tingkat tinggi langsung menyergap. Udara pendingin ruangan bertabrakan dengan aura hangat dari tubuh North yang kini berdiri tepat berhadapan denganku di ruang tamu yang temaram.
North melempar kunci mobil ke atas meja kayu jati di dekat pintu, mengambil satu hisapan vape-nya lagi, lalu berjalan mendekatiku dengan kilat mata yang begitu pekat dan berbahaya.
"Kenapa kau masih terlihat begitu gugup, Mindy?" tanya North rendah, berhenti tepat beberapa sentimeter di hadapanku hingga aroma tubuhnya mengurungku sepenuhnya. "Apakah kau masih memikirkan pria sialan itu?"
"Aku... aku hanya memikirkan risikonya, North," jawabku terbata-bata, menunduk menatap d**a bidangnya yang terbalut kemeja rapi.
North mengangkat daguku dengan ujung jemarinya, memaksa mataku untuk menatap manik hazelnya yang menghipnotis. "Jangan pernah memikirkan hal lain saat kau bersamaku, Mindy. Di tempat ini, tidak ada Lennox, tidak ada kampus, yang ada hanya kau dan aku. Paham?"
"Paham... Daddy," bisikku patuh, menyerah pada pesona dan cengkeraman yang mengikat jiwaku.