Pintu depan rumah tertutup dengan bunyi klik tebal yang menggema dingin dan menusuk di tengah kesunyian malam. Aku berdiri diam di balik pintu, memejamkan mata rapat-rapat untuk mengatur napas yang mendadak tidak beraturan. Aroma parfum North yang khas—perpaduan pekat antara cedarwood, tembakau basah, dan wangi maskulin kulit tubuhnya—masih menempel teramat kuat, seolah enggan lepas dari kerah sweater wol tebal yang kukenakan.
Rasa panas yang membakar di daun telingaku, sisa-sisa sengatan listrik dari kecupannya, serta jejak protektif jemarinya di lekuk pinggangku seolah menolak untuk menguap, terus berputar di kepalaku.
"Dari mana saja kamu jam segini, Mindy?"
Suara bariton Lennox memotong kegelapan lorong rumah. Pria itu duduk di sofa ruang tengah, wajahnya hanya diterangi oleh pendar cahaya putih dari layar laptop yang berpendar terang dalam kamar yang remang.
"Hujan deras di luar. Jalanan macet total, jadi aku tertahan cukup lama di perpustakaan kampus," jawabku selancar dan sekilas mungkin, mencoba menutupi kegugupanku. Aku sengaja menunduk, melangkah bergegas menuju arah tangga untuk menghindari tatapannya.
"Ke sini. Berdiri di hadapanku," perintah Lennox pendek, suaranya tajam tanpa toleransi.
Langkah kakiku langsung terhenti di anak tangga pertama. Dengan berat hati dan d**a yang bergemuruh cemas, aku membalikkan badan perlahan. Lennox sudah berdiri menjulang di hadapanku dengan postur mengintimidasi. Tanpa aba-aba, tangan kasarnya bergerak cepat mencengkeram bahuku—menekan tepat di atas titik memar tua peninggalan kemarin yang belum tuntas sembuh sempurna.
"Lennox, sakit... lepaskan," desisku tertahan, meringis menahan nyeri yang langsung menjalar ke tulang.
"Sakit?" Lennox tertawa sinis, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai kejam. "Kamu itu makin hari makin tidak berguna dan tidak punya aturan, Mindy. Mengurus rumah tangga tidak becus, sekarang berani pulang terlambat tanpa izin dariku."
Ia menghempaskan bahuku dengan kasar hingga punggungku menabrak dinding kayu di belakangku dengan suara cukup nyaring. Dulu, perlakuan fisik dan mental seperti ini akan langsung membuatku menangis tersedu-sedu, memohon ampun agar ia berhenti marah. Namun, malam ini ada sesuatu yang fundamental telah berubah di dalam diriku. Saat Lennox berdiri di depanku dengan mata melotot penuh kebencian, benakku justru menolak untuk tunduk. Pikiranku terlempar jauh, menembus dinding rumah ini, menuju ruang dosen yang terkunci rapat sore tadi. Di sana, di ruangan itu, aku merasakan kehangatan dan perlindungan nyata yang dijanjikan oleh North.
"Kenapa diam saja sekarang, hah?" Lennox melangkah mendekatiku lagi, tangannya terulur hendak mencengkeram rahangku. "Kamu mulai berani menantangku, Mindy?"
"Aku lelah sekali, Lennox," sahutku datar, suaranya terdengar begitu tenang tanpa ada getar ketakutan. Kutatap sepasang mata kelabu dingin miliknya lurus-lurus tanpa sisa rasa gentar sedikit pun. "Aku mau istirahat ke kamar."
Lennox mendengus murka, napasnya memburu tertahan. "Pergi sana! Enyah ke kamar! Lagipula melihat wajahmu yang membosankan itu membuat seleraku hilang seketika."
Tanpa membuang waktu atau menoleh lagi, aku membalikkan badan dan melangkah cepat naik ke lantai dua. Suasana kamar mandi terasa teramat sunyi begitu pintu putih itu kukunci rapat dari dalam. Saat berdiri termenung di depan cermin wastafel, aku menatap pantulan diriku sendiri. Namun, mataku langsung terpaku pada satu detail yang mencolok: di area leher hingga batas bawah telingaku, terpampang nyata kemerahan lain—bekas klaim posesif dan gigitan tipis dari sentuhan North.
Jemariku yang bergetar perlahan terangkat, menyentuh lembut leherku sendiri. Sialnya, hanya dengan sentuhan ujung jariku saja, gelombang hangat yang pekat seketika menyengat tengkukku, membuat bayangan wajah North kembali hadir dengan sangat jelas.
Keesokan harinya, gerimis tipis menyelimuti halaman kampus, menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang. Saat aku berjalan melewati lorong lantai tiga yang agak lengang di dekat area tangga darurat, sebuah tangan kekar tiba-tiba muncul dari balik pilar, mencengkeram pergelangan tanganku dengan mantap namun tanpa menyakiti.
Sebelum aku sempat mengeluarkan suara teriakan, tubuhku ditarik cepat masuk ke dalam celah tangga darurat yang remang-remang. Pintu besi berat di belakang kami berdebum menutup rapat, mengunci segala kebisingan koridor luar.
North berdiri menjulang di hadapanku, langsung mengurungku di antara tembok beton dingin dan d**a bidangnya. Aroma cedarwood dan kehangatan khas tubuh pria itu seketika memenuhi seluruh paru-paruku, menghanyutkan akal sehatku dalam hitungan detik.
"N-North... Daddy?" suaraku bergetar hebat, menyebut nama panggilan rahasia itu begitu saja karena panik sekaligus rindu.
North tidak membuang waktu sedetik pun untuk basa-basi. Sepasang mata hazel gelapnya mengunci manik mataku dalam tatapan yang sarat akan beban emosi yang rumit. Ibu jarinya yang kasar namun hangat terangkat, mengusap pelan garis rahangku, lalu meraba turun ke leherku untuk memastikan tak ada luka baru yang ditinggalkan oleh suamiku.
"Katakan padaku, Mindy... apakah b******n itu menyakitimu lagi semalam?" Suara North teramat berat dan serak, menyerupai geraman seekor predator alfa yang sedang mengawasi teritorial mutlaknya.
"Hanya... bicara kasar seperti biasa," bisikku lirih, menundukkan pandangan karena tidak sanggup menatap intensitas matanya.
Otot-otot di rahang North tampak sedikit mengendur mendengar jawabanku, namun sorot matanya justru berubah menjadi pusaran emosi yang jauh lebih pekat dan gelap. Tangannya yang besar merayap mantap ke pinggangku, menarik tubuhku dengan gerakan pasti hingga melekat tanpa celah sedikit pun pada dadanya yang keras.
"Semalaman suntuk aku tidak bisa tidur memikirkanmu, Mindy," bisik North tepat di depan bibirku, napasnya memburu hangat. "Wajahmu, suaramu, dan kepatuhanmu terus berputar di kepalaku."
Wajahnya menunduk perlahan, mendaratkan bibirnya yang hangat tepat di titik terlemahku: daun telinga yang kemarin ia tandai. North kembali menyesap area sensitif itu dengan intensitas penuh, memberikan kecupan-kecupan panas yang disusul oleh gigitan teramat pelan dan menuntut.
"Hnghhh... Daddy..." Rintihanku pecah tanpa bisa kutahan, suaranya meleleh di udara tangga darurat yang sepi.
"Suara ini..." gumam North serak di sela ciumannya, menyapukan embusan napas hangatnya yang beraroma tembakau ke telingaku hingga sekujur sarafku mengalami kejang halus yang menyenangkan. Jemarinya yang besar meremas pinggangku semakin posesif. "Aku benar-benar sudah ketagihan mendengarnya. Wajah pasrahmu yang begitu cantik terus membayangiku sepanjang malam."
"Di sini... kumohon jangan di sini... nanti ada mahasiswa atau dosen yang lewat..." pintaku lemas, jemariku mencengkeram kemeja linennya, meski pada kenyataannya tubuhku justru semakin merapat tunduk pada kendalinya.
"Biarkan saja mereka lewat," geram North rendah, nada suaranya penuh mutlak otoritas. Tangannya yang lain mengusap lekuk punggungku, menekan tubuhku semakin rapat ke tubuhnya hingga detak jantung kami melebur jadi satu. "Biar seluruh dunia tahu, biar kampus ini tahu... siapa pria sebenarnya yang berhak menjaga dan memiliki miliknya ini seutuhnya."