Sore itu, hujan deras mengguyur kota tanpa ampun, menyisakan kabut tipis di luar dinding kaca raksasa kantor. Jam operasional kantor sudah berakhir sejak satu jam lalu, namun aku masih terjebak di ruang kerjaku di lantai tiga firma arsitektur, sibuk membereskan tumpukan cetak biru revisi proyek komersial yang baru saja disetujui oleh sang suami sekaligus CEO-ku sendiri.
Pintu ruangan divisiku terdorong pelan tanpa suara ketukan. Sosok tinggi berjas abu-abu gelap dengan lengan kemeja yang digulung rapi melangkah masuk, membawa aroma maskulin yang sangat kuhafal di luar kepala.
North berdiri di samping mejaku, manik hazel-nya menatapku tajam dari balik kacamata tipisnya. "Sudah lewat dari jam kepulangan resmi, sweetheart. Kenapa kau masih berkutat dengan kertas-kertas itu?"
Aku mendongak,