Satu tahun kemudian setelah pernikahan kami.
Suara ketukan tik-tok keyboard laptop berpadu harmonis dengan rintik hujan yang menghantam dinding kaca raksasa penthouse lantai atas. Udara malam terasa begitu sejuk, namun suasana di dalam ruangan justru hangat berkat lampu temaram yang menerangi meja kerjaku.
Aku duduk bersila di atas sofa empuk ruang kerja, mengenakan sweater wol tebal berwarna krem sambil menatap layar laptop yang menampilkan halaman penutup dari draf novel dark romance pertamaku yang sebentar lagi akan resmi diterbitkan secara nasional.
Judul di sampul depan digital itu terpampang jelas dengan huruf elegan: Sangkar Emas dan Sang Diktator.
Sebuah tangan kokoh yang hangat melingkar di pinggangku dari belakang, disusul aroma parfum maskulin berkayu yang sangat kuhafal di