Langkah kakiku terhenti di depan meja kerjaku yang baru di sudut lantai tiga firma arsitektur. Sebelum aku sempat meletakkan tas ranselku, suara berat yang sangat kuhafal sudah terdengar dari ambang pintu ruangan divisi.
"Posisikan meja ini menghadap ke jendela utama, bukan membelakangi lorong," titah North tenang, berjalan mendekat dengan setelan jas rapi seolah ia adalah pemilik sah seluruh gedung ini—yang kenyataannya memang benar.
Aku berbalik, menatapnya dengan sebelah alis terangkat dan tangan bersidekap. "Hei, Pak Pemilik Saham! Sejak kapan tata letak meja kantorku jadi urusan seorang dosen universitas yang seharusnya sekarang lagi ngajar mahasiswa di kampus?"
North tidak langsung menjawab. Pria itu justru menghentikan langkahnya tepat di hadapanku, membuatku harus mendongak untu