Keesokan paginya, suasana di penthouse tidak jauh berbeda dari malam sebelumnya—penuh dengan sisa-sisa perdebatan kecil yang sengaja diperpanjang oleh North.
Aku baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang masih melingkar di leher ketika melihat layar ponselku di atas meja nakas bergetar tanpa henti. Tiga panggilan tak terjawab dari Pak Baskara, disusul sebuah pesan singkat yang meminta konfirmasi ulang terkait draf revisi tata letak pencahayaan proyek komersial.
Sebelum jariku sempat menyentuh layar, sebuah tangan yang lebih besar sudah lebih dulu merebut ponsel itu dari genggamanku.
North berdiri di samping tempat tidur, mengenakan setelan kemeja abu-abu dengan lengan yang sudah digulung rapi. Pria itu menatap layar ponselku sekilas sebelum rahangnya mengeras.
"Pagi-pa