Mobil sedan hitam mewah milik North berhenti pelan tepat satu blok di luar kompleks perumahanku yang sunyi, tersembunyi dengan sempurna di balik bayangan rindangnya pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Lampu jalanan yang basah karena sisa hujan sore tadi menyiram kabin mobil dengan cahaya kuning kehijauan yang samar. Aku segera meraba sabuk pengaman, bersiap untuk membuka pintu dan turun ke dunia nyata, tapi cengkeraman halus namun mantap di pergelangan tanganku langsung menahanku dalam gerak lambat.
Aku menoleh perlahan dengan napas yang tertahan di tenggorokan. North duduk tenang di balik kemudi, menatapku lurus-lurus tanpa berkedip sedikit pun. Di bawah remang cahaya lampu jalan yang menembus kaca mobil, garis rahangnya yang tegas terlihat makin tajam dan berbahaya, memancarkan aura d******i mutlak yang selalu berhasil membuat nyalaku menciut sekaligus terpesona di saat yang bersamaan.
"Kamu yakin benar-benar mau pulang ke rumah neraka itu malam ini, Mindy?" suaranya berat, mengalun rendah di dalam ruang mobil yang rapat, kedap suara, dan terasa begitu mengisolasi kami dari dunia luar. "Aku bisa membawamu pergi sekarang juga kalau kau mau. Kita bisa meninggalkan tempat ini."
"Aku tidak punya pilihan lain untuk malam ini, North..." bisikku pelan, mencoba menepis rasa takut yang tiba-tiba merayap di d**a dan meremas jantungku. "Lennox bakal curiga besar kalau aku tidak ada di rumah sebelum jam delapan malam. Dia paling benci menunggu, dan aku tidak mau memberinya alasan untuk mulai mengamuk."
North menghela napas panjang, helaan napas yang terdengar begitu berat, penuh frustrasi, dan sarat akan ketidaksukaan yang mendalam. "Kau selalu mengatakan tidak punya pilihan, seolah-olah hidupmu sepenuhnya milik pria b******k itu."
"Kau tidak mengerti posisiku," jawabku lirih, mataku mulai memanas. "Kalau aku pergi sekarang tanpa alasan jelas, dia bisa mencari keluargaku dan menghancurkan semuanya."
Tangannya yang lebar dan hangat merayap perlahan dari pergelangan tanganku, naik menyusuri lengan baju sweater-ku yang lembut, hingga jemarinya menyangkut dengan pas dan erat di belakang leherku. Tanpa aba-aba yang memberi ruang untuk berpikir, ia menarik tubuhku mendekat ke arahnya tanpa celah.
"Aku mengerti, Mindy. Justru karena aku mengerti, aku menahan diri malam ini," bisik North, ibu jarinya mengusap lembut rahangku. "Tapi jangan pernah lupa di sisi siapa seharusnya kau berada."
Bibir North tidak langsung mencium bibirku seperti sebelumnya. Pria itu justru menunduk rapat, mendaratkan embusan napas panasnya yang beraroma wood and tobacco tepat di samping daun telingaku, membuat sekujur kulitku langsung merinding seketika dan bulu kudukku berdiri tegak.
"Tiap kali aku memejamkan mata dan mencoba fokus pada pekerjaanku di kampus, Mindy," bisik North dengan suara serak yang begitu dalam, membuat dadaku bergetar hebat di luar kendali, "wajah cantikmu selalu memenuhi kepalaku. Wajah manja dan kepasrahanmu yang indah saat kamu berada di bawah kendaliku di ruangan tadi siang... itu benar-benar membuatku gila perlahan."
"North... kumohon jangan katakan itu di sini," ucapku gugup, mencoba menghindari tatapannya yang menghipnotis. "Bagaimana kalau seseorang melihat kita?"
"Tidak ada yang akan melihat kita di tempat gelap ini," balas North tegas, sudut bibirnya terangkat sebelah. "Jawab aku, Mindy. Apakah kau memikirkan hal yang sama denganku sejak kita keluar dari ruangan tadi?"
Aku menggigit bibir bawahku ragu-ragu. "Aku... aku tidak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi di antara kita."
"Bagus," gerentes North puas. Jemarinya perlahan merayap turun dari leherku, menyapu garis kerah tebal sweater berleher tinggi yang kupakai untuk menutupi lebam, lalu dengan sengaja mengusap garis bahu dan pinggangku secara posesif. Dekapan lembut namun penuh klaim kepemilikan mutlak itu membuat napas tersengal seketika, paru-paruku mendadak kekurangan oksigen di dalam dekapan hangatnya.
"Lennox itu benar-benar pria yang buta, bodoh, atau sudah gila," gumam North rendah, nada suaranya bergeser menjadi geraman geram dan penuh penghinaan yang luar biasa tajam. Jemarinya meremas pinggulku dari luar pakaian dengan tekanan pas, menikmati tiap lekuk tubuhku yang kini bersandar pasrah padanya. "Dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara menghargai, merawat, dan memuja wanita sesempurna dirimu."
"N-North... ah..." desahanku lolos begitu saja tanpa izin ketika jemarinya memberikan tekanan hangat yang memanjakan di area sensitif pinggangku, membuat pertahananku runtuh seketika.
"Kau mendesah lagi setiap kali aku menyentuhmu di titik itu," bisik North di sela tawanya yang rendah, terdengar begitu memuja sekaligus menuntut. "Apakah suamimu pernah membuatmu mendesah seperti itu, hm? Atau dia hanya memperlakukanmu seperti boneka pajangan yang dingin?"
"Tidak... dia tidak pernah..." jawabku terbata-bata, suaraku hampir tak terdengar di antara deru napasku sendiri. "Dia tidak pernah memperlakukanku dengan lembut..."
North mengangguk pelan, sorot matanya menajam penuh kemenangan. "Karena dia tidak layak mendapatkannya. Hanya aku yang tahu bagaimana cara memperlakukanmu dengan benar."
Bibirnya makin merapat ke telingaku, menyesap pelan cuping telingaku sampai aku mendongak, menggigit bibir bawahku sendiri untuk menahan suara desahan yang nyaris lepas di dalam mobil.
"Suara ini," bisik North tepat di lubang telingaku, membuat getaran suaranya beradu langsung dengan saraf-saraf di kepalaku. "Rintihan lembutmu ini sudah jadi candu paling berbahaya buat aku. Dengar baik-baik perintahku... aku suka sekali mendengar caramu memanggilku tadi di ruangan itu. Nanti malam, kalau pria sialan itu berani menyentuh atau menyakitimu lagi, ingat suara Daddy di dalam kepalamu. Ingat siapa pria yang sebenarnya berhak atas seluruh tubuh dan jiwamu, Mindy."
"Daddy..." bisikku lirih, menyebut panggilan terlarang itu di luar kesadaran karena pengaruh sentuhannya yang terlalu kuat.
North tersenyum puas, ciuman singkat ia daratkan di pelipisku. "Anak pintar. Simpan suara itu baik-baik di dalam kepalamu sepanjang malam ini."
Sentuhan di telinga dan pinggangku berhenti bersamaan. North melepaskanku secara perlahan, menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi kemudi, meski sorot mata hazel gelapnya masih menatapku lekat-lekat dengan binar kepemilikan yang begitu pekat dan menggelora.
"Pulanglah ke rumah itu sekarang," ucap North dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah oleh siapapun di dunia ini. "Tapi ingat, bayanganmu, wujudmu, dan seluruh pikiranmu tidak akan pernah keluar dari kepalaku sepanjang malam ini."
"Aku akan mengingatnya," bisikku pelan sebelum membuka pintu mobil.
"Dan ingat, Mindy... kalau dia menyentuhmu di tempat yang sama, bayangkan tanganku yang ada di sana," tambah North sekali lagi sebelum aku benar-benar melangkah keluar.
Dengan jantung yang berdegup kencang tak beraturan dan rasa panas yang masih tersisa di cuping telinga serta bekas sentuhannya, aku membuka pintu mobil dan melangkah keluar ke udara malam yang dingin. Kaki-kakiku terasa ringan namun bergetar hebat. Begitu aku berjalan mendekati kompleks perumahan dan pintu pagar besi rumahku terbuka, bau dingin khas rumah tangga yang hampa dan mati langsung menyergap penciumanku.
Namun, malam ini ada sesuatu yang terasa sangat berbeda di dalam diriku. Rasa takut mencekam pada Lennox yang biasanya langsung mencekik leherku kini terasa menipis, tertutup rapat oleh sensasi kehangatan sentuhan North yang masih membakar jiwaku, membuatku sadar bahwa hidupku tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.