Pecahan ponsel di lantai ruang kerja tadi telah kubersihkan, tetapi rasa ngilu di pergelangan tanganku akibat cengkeraman North masih terasa. Pria itu tidak berteriak ataupun membanting barang saat pergi tadi sore. Ia justru melangkah keluar dalam keheningan total—yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahan meledak-ledak. Akan tetapi, semua sudah kembali seperti biasa lagi setelah dia meminta maaf dan memberi kehangatan cinta dari kata-katanya untukku.
Malam ini, alih-alih duduk melamun, aku memaksa jemariku sibuk di atas meja gambar. Aku menuntaskan detail pengerjaan garis-garis sketsa proyek arsitektur komersial pertamaku, mencoba mengabaikan kenyataan bahwa draf novel pertamaku kini terancam oleh komentar anonim di internet yang membongkar masa laluku.
Pukul dua pagi, pintu utama pe