Sinar matahari pagi menghantam kaca jendela ruang kerja pribadiku. Di atas meja gambar, puluhan sketsa rancangan interior berserakan di sebelah tumpukan draf novel pertamaku. Menjadi seorang arsitek sekaligus penulis ternyata sama penatnya—terutama ketika aku harus membagi fokus antara klien perencana bangunan dan pihak penerbit buku.
Ponselku bergetar di atas meja. Bukan pesan cinta dari North, melainkan sebuah surel dari firma arsitektur tempatku melamar magang, sekaligus notifikasi anonim berisi foto ruang sidang skripsiku dulu dengan coretan tanda silang merah.
“Kau pikir dengan mengganti profesi menjadi arsitek atau penulis, dosamu pada keluarga Lennox terhapus? Ingat tempat asalmu.”
Napasku tercekat. Udara di dalam ruangan terasa menipis. Belum sempat aku membalas pesan itu, pintu