Langkah kaki North yang berat namun tenang menggema di lantai marmer lorong galeri, membawa kami menjauh dari sosok Marcel yang masih terduduk lemas di bawah pengawasan ketat dua pengawal pribadi. Begitu kami tiba di dalam mobil sedan hitam yang terparkir di basement, North langsung menarikku ke dalam dekapannya.
Pria itu terdiam cukup lama, menyandarkan dagunya di puncak kepalaku sementara napasnya perlahan kembali teratur. Di dalam mobil yang kedap suara itu, aroma vanilla tobacco miliknya menguap kuat, menepis sisa-sisa ketegangan yang sempat mencengkeram dadaku di galeri tadi.
"Maaf," suara bariton North terdengar serak, sarat akan penyesalan yang tertahan. "Seharusnya aku tidak membiarkanmu berjalan sendiri, bahkan sedetik pun."
Aku mendongak, menangkup rahang tegasnya dengan kedua