Beberapa hari setelah malam perayaan di restoran tertinggi dan obrolan tenang di apartemen, rutinitas kami kembali berjalan seperti biasa. Suatu sore, North mengajakku keluar untuk menyegarkan pikiran setelah seharian penuh aku menghabiskan waktu di depan laptop menyelesaikan draf bab baru.
Ia membawaku ke sebuah galeri seni kontemporer yang tenang di kawasan Menteng. Begitu kami tiba di lobi galeri yang luas dan berlantai marmer putih, sebuah panggilan telepon penting mendadak masuk ke ponsel North dari salah satu mitra bisnisnya di luar negeri.
"Tunggu sebentar di sini ya, Mindy," pamit North sambil mengusap lembut puncak kepalaku. Ia menunjuk area pameran lukisan di ujung koridor utama. "Masuklah dulu melihat-lihat pameran lukisan di sebelah sana. Aku akan menyusul dalam sepuluh menit