Jam dinding di ruang keluarga menunjukkan pukul sepuluh malam. Cahaya lampu kota ibu kota memantul lembut menembus dinding kaca penthouse, menciptakan garis-garis keemasan yang tenang di lantai kayu. Setelah berjam-jam menghabiskan waktu di balik layar laptop untuk menyelesaikan draf bab baru, aku meregangkan otot-otot leherku yang terasa kaku.
Pintu ruang kerja berderit pelan. North melangkah masuk tanpa suara, membawa dua cangkir s**u hangat bercampur sedikit madu. Pria itu sudah mengganti kemejanya dengan kaus polos berwarna hitam longgar, memperlihatkan bahunya yang bidang dan auranya yang mendadak terasa jauh lebih santai, lepas dari jerat kesibukan korporat.
Ia meletakkan cangkir tersebut di atas meja, lalu tanpa banyak bicara mengangkat tubuhku dari kursi kerja, mendudukkanku di p