Malam harinya, North membawaku merayakan kelolosan naskah tersebut ke sebuah restoran privat mewah di lantai paling atas gedung pencakar langit pusat kota. Seluruh ruangan restoran itu dipesan khusus hanya untuk kami berdua, dikelilingi dinding kaca yang menampilkan pemandangan malam ibu kota yang berkilauan bagai lautan bintang.
Kami duduk berhadapan di meja makan bundar berbalut taplak linen putih. Lilin aromaterapi membakar perlahan di tengah meja, menyebarkan kehangatan yang intim di antara kami.
"Kamu tidak perlu memesan satu restoran penuh begini, Daddy," protesku pelan sambil tersenyum malu-malu saat pelayan menyajikan hidangan pembuka berupa sup jamur truffle hangat. "Rasanya berlebihan banget. Orang-orang di bawah sana pasti mengira kita sedang merayakan pelantikan presiden."
N