Dinding ruangan yang kedap suara menyerap sisa-sisa napas kami yang masih memburu di tengah keheningan sore yang semakin larut. Aku masih bersandar lemas di tepi meja kayu jati, tubuhku terasa seperti tanpa tulang akibat badai gairah yang baru saja mereda. Sensasi gelombang getaran tadi masih menyisakan kehangatan halus yang merambat di sekujur kulitku, membuatku enggan beranjak dari posisiku yang terkurung di antara lengan kokohnya.
North tidak langsung menjauh. Pria itu berdiri tegak di hadapanku, membiarkan dadanya yang bidang menjadi tempat sandaran kepalaku yang penat. Satu tangannya yang lebar menopang pinggangku dengan erat tanpa celah, sementara tangan yang lain bergerak pelan merapikan pakaianku dengan sangat telaten—seperti seseorang yang sedang merawat benda paling berharga dan rapuh di dunia ini.
"Kamu baik-baik saja, Mindy sayang?" tanyanya rendah, suaranya terdengar lembut namun tetap mengandung otoritas mutlak yang sulit dibantah. "Napasku masih bisa mendengar debar jantungmu yang belum stabil sepenuhnya."
Aku mengangguk pelan di dadanya, belum berani mendongak untuk menatap manik mata hazelnya. Rasa malu dan debaran asing bergemuruh di dadaku ketika menyadari betapa pasrahnya aku membiarkan diriku dikuasai di dalam ruangan kampus ini bersamanya. "A-aku baik-baik saja... Terima kasih, North."
"Masih memanggilku dengan nama itu, hm?" gumam North di sela tawanya yang rendah, suara baritonnya bergetar di dadanya. Jemarinya dengan telaten merapikan anak rambutku yang basah oleh keringat. "Padahal setelah apa yang kita lakukan barusan, panggilan itu terasa kurang pantas untuk diucapkan dari bibirmu, Mindy."
Aku mendongak perlahan, menemukan tatapan hazel gelapnya yang pekat, menatapku lurus-lurus penuh kuasa dan kepemilikan mutlak. "Lalu... aku harus memanggilmu apa saat kita berdua seperti ini? Aku bingung, North... rasanya aneh kalau tiba-tiba harus mengubah panggilan," tanyaku ragu-ragu, tenggorokanku mendadak kering.
North menunduk rapat, hingga napas panasnya yang beraroma wood and tobacco berembus langsung menyapu kulit leherku. Bisikannya yang sarat akan d******i membuat seluruh bulu kudukku berdiri seketika. "Panggil aku Daddy. Mulai sekarang, itu panggilan khusus saat kita hanya berdua."
Jantungku berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari rongga d**a. Mataku membelalak lebar menatapnya tak percaya. "North, itu... itu terlalu berlebihan. Ini lingkungan kampus, bagaimana kalau ada yang dengar di luar sana?"
"Cuma saat kita berdua di sini. Saat kamu berada dalam jangkauanku di dalam ruangan terkunci dan aman seperti ini," potongnya penuh penekanan, suaranya berubah tegas tanpa toleransi. Jemarinya meremas pinggulku sedikit lebih kuat, menuntut kepatuhan mutlak dari setiap inci tubuhku. "Paham, Mindy? Jangan buat aku mengulanginya dua kali untukmu."
"Tapi... tapi bagaimana kalau seseorang mencoba mengetuk pintu?" tanyaku cemas, mencoba mencari celah untuk menolak meski tubuhku sendiri menentangnya. "Bagaimana kalau ada mahasiswa yang butuh bimbingan atau dosen lain yang curiga?"
"Pintu ini berlapis baja dan kedap suara, Mindy. Tidak ada yang akan berani mengganggu kecuali aku yang membukanya," jawab North dingin, matanya menatapku menuntut. "Sekarang, jawab pertanyaanku. Paham atau tidak?"
Bibirnya kembali menyapu cuping telingaku, memberikan sentuhan lembut yang langsung menyengat sarafku hingga kakiku refleks merapat karena tak sanggup menahan gelombang lemas. Sensasi elektrik itu kembali hadir, meruntuhkan sisa-sisa pertahanan logikaku.
"P-paham..." bisikku terbata-bata dengan napas pendek, menyerah sepenuhnya pada kendalinya. "...Daddy."
Sudut bibir North terangkat tipis membentuk seringai kemenangan yang sangat memabukkan. Senyum puas yang berbahaya terukir nyata di wajah tampannya. Pria itu mendaratkan satu kecupan dalam dan penuh klaim di keningku, lalu perlahan membantuku merapikan kemeja serta sweater yang sempat kusut.
"Anak pintar," ucapnya dengan suara berat yang menenangkan sekaligus mengunci jiwaku selamanya. "Kau belajar dengan sangat cepat, Mindy. Aku sangat suka perempuan penurut sepertimu."
"Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauanmu, kan?" kataku lirih sambil mencoba tersenyum kecil menutupi rasa gugup yang melanda.
"Kau selalu punya pilihan dalam hidupmu, Mindy," balas North tajam namun penuh perhatian yang mendalam, ibu jarinya mengusap lembut pipiku. "Hanya saja, pilihan terbaik yang kau miliki di dunia ini adalah tetap berada di sisiku, bukan kembali ke rumah sialan itu."
"Tapi dunia luar tidak sesederhana itu, North... Kau tahu persis bagaimana posisiku di bawah bayang-bayang Lennox," sanggahku pelan, mencoba menarik akal sehat kembali ke permukaan. "Kamu tidak mengerti betapa mengerikannya pria itu jika sudah marah."
"Aku tahu segalanya tentang dia, Mindy. Dan justru karena aku tahu, aku tidak akan membiarkanmu terus menerus menjadi korban dari kekejamannya," jawab North mantap, sorot matanya menyorotkan keyakinan yang membuat hatiku berdesir hebat.
"Dunia luar akan tunduk pada aturanku kalau kau membiarkanku mengambil alih semuanya," tambah North tanpa ragu sedikit pun. "Kau hanya perlu bersabar sedikit lagi, dan aku akan memastikan b******n itu tidak bisa menyentuhmu lagi."
"Apa kau benar-benar sanggup melindungiku dari Lennox, Daddy?" tanyaku ragu, mencobanya memanggil sebutan itu sekali lagi demi meyakinkan diri sendiri.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Mindy," bisik North mantap, jemarinya membelai rahangku penuh kepemilikan.
Saat aku merapikan kerah sweater berleher tinggi untuk menutupi kembali lebam kebiruan akibat ulah keji Lennox, North berjalan perlahan menuju meja kerjanya, mengambil kunci mobil mewah miliknya serta membereskan beberapa dokumen laporan riset. Ia berbalik menatapku, matanya tertahan cukup lama menatap lipatan kerah bajuku di leher sebelum akhirnya menghembuskan napas pendek penuh geram.
"Malam ini aku yang akan mengantar pulangmu ke rumah itu," kata North tegas, tidak memberi ruang bagi penolakan atau bantahan.
"Jangan, kumohon jangan," cegahku cepat, rasa takut luar biasa pada Lennox tiba-tiba memukul kesadaranku kembali dan mendinginkan suasana hati. "Lennox bisa curiga kalau melihatku pulang telat atau diantar orang lain. Dia... dia bisa semakin marah besar kalau sampai tahu aku diantar pulang oleh pria lain, apalagi oleh dosen pembimbingku sendiri."
Atmosfer di dalam ruangan tertutup itu mendadak mendingin secara drastis. Tatapan hangat North dalam sekejap menghilang tanpa sisa, berganti menjadi aura pekat yang sangat gelap dan menakutkan begitu nama suamiku disebut di hadapannya. Rahangnya mengetat keras hingga garis wajahnya terlihat kaku, dan tangan kanannya yang memegang kunci mobil mengepal begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih dan urat-urat di punggung tangannya menonjol tajam.
"Suamimu itu..." ujar North dingin, suaranya bergeser menjadi geraman rendah penuh ancaman terselubung yang membuatku merinding ketakutan. "...tidak akan selamanya bisa menyentuhmu atau mengatur hidupmu, Mindy. Ingat baik-baik kata-kataku ini. Suatu hari nanti, b******n itu harus melepaskanmu sepenuhnya dari cengkeramannya, atau aku sendiri yang akan merobohkan hidupnya sampai tidak tersisa apa pun di dunia ini untuknya."