Dua minggu berlalu sejak naskah novel dark romance pertamaku dikirimkan ke meja editor. Selama kurun waktu itu, hari-hari di penthouse berjalan dengan ritme yang jauh lebih tenang dan menyenangkan. Tidak ada lagi debar cemas menunggu teror datang; yang ada hanya suara ketukan papan ketik laptop, aroma kopi pagi, dan kehadiran North yang senantiasa menjadi jangkar terkuat di hidupku.
Pagi ini, saat aku sedang menikmati secangkir teh hangat di dekat jendela kaca besar ruang keluarga, ponsel yang tergeletak di atas meja berdering nyaring.
Sebuah alamat surel masuk dengan pemberitahuan dari penerbit mayor yang selama ini kuimpikan. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Dengan tangan sedikit bergetar, aku membuka pesan tersebut. Mataku langsung terpaku pada baris kalimat pertama yang tertu