Pagi hari di penthouse North dimulai dengan aroma kopi hitam yang khas dan cahaya matahari yang hangat menyeruak melalui celah tirai kaca. Aku duduk di meja kerjaku, menatap layar laptop yang menampilkan draf akhir novel dark romance pertamaku. Setelah melewati serangkaian revisi akhir semalam, naskah itu akhirnya benar-benar siap untuk dikirimkan ke meja penerbit mayor.
Jemariku melayang di atas tetikus, mengeklik tombol kirim pada surel yang ditujukan kepada salah satu editor fiksi ternama di kota ini. Sebuah tarikan napas lega terhembus pelan dari bibirku begitu status surel berubah menjadi terkirim. Rasanya seperti melepaskan sauh terakhir yang menahan kapalku di pelabuhan; aku resmi melangkah ke dunia kepenulisan secara profesional.
Pintu ruang kerja berderit pelan. North melangkah