Udara di dalam ruang sidang terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara deheman pelan dari ketua penguji dan ketukan ujung pena di atas meja kayu panjang. Di hadapanku, tiga orang dosen penguji duduk berjajar dengan ekspresi serius. Di antara mereka, sang ketua program studi yang tadi pagi menyambutku tampak duduk di sudut, mengamati gerak-gerikku dengan tatapan waspada yang sulit disembunyikan.
Aku berdiri di balik meja presentasi, merapikan lembaran naskah skripsi yang menjadi saksi bisu atas perjuanganku selama bertahun-tahun. Layar proyektor di belakangku menampilkan poin-poin analisis penelitian yang telah kuperbarui.
Dulu, ruang sidang ini adalah tempat paling menakutkan di dunia bagiku—tempat di mana suaraku dibungkam, argumenku diputarbalikkan, dan masa depanku dirampas paksa dem