Mentari pagi memancarkan bias keemasan yang menembus jendela kaca lobi fakultas, menciptakan pantulan terang di lantai marmer yang bersih. Udara pagi terasa sejuk, namun detak jantungku berdegup jauh lebih cepat dari biasanya.
Hari ini adalah hari penetapan resmi kembalinya status akademik dan jadwal sidang ulang skripsiku. Berbeda dari kunjungan-kunjungan sebelumnya di mana aku datang dengan rasa takut atau berlindung di balik bayang-bayang kuasa North, kali ini aku melangkah sendiri menaiki anak tangga gedung rektorat.
Meskipun mobil sedan hitam milik North terparkir rapi di luar gerbang kampus—sebagai bentuk komitmennya untuk tetap siaga—aku dengan tegas meminta agar ia menungguku di dalam mobil. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa menghadapi tempat ini dengan kep