Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang jauh lebih tenang dan terarah. Pagi hari kuhabiskan di depan laptop untuk merampungkan bab-bab lanjutan novel dark romance ku, sementara North sibuk mengurus sisa konsolidasi perusahaannya dari ruang kerja pribadinya di apartemen.
Namun, kedamaian itu mendadak diuji oleh sebuah hal kecil yang tidak pernah kusangka.
Sore itu, menjelang jam makan malam, ponselku yang tergeletak di atas meja dapur berdering. Layar menyala, menampilkan sebuah nama dari masa lalu kuliahku—Maya, satu-satunya teman satu jurusan yang dulu diam-diam masih sering mengirim pesan dukungan saat aku terpuruk dalam kasus fitnah Lennox, meskipun ia tidak berani terang-terangan membela karena takut ikut terseret.
Aku mengangkat panggilan tersebut dengan nada ramah. "Halo,