Pagi datang dengan cahaya matahari yang menembus jendela kaca besar ruang kerja apartemen, memantulkan bayangan lembut di atas lantai marmer. Suasana terasa begitu tenang. Tidak ada dering ponsel yang membawa ancaman, tidak ada bayangan masa lalu yang mencengkeram.
Aku duduk di meja kerjaku sendiri—sebuah meja kayu minimalis yang disiapkan North khusus di sudut ruang baca agar aku bisa fokus menulis. Di hadapanku, layar laptop menyala menampilkan dokumen kosong dengan kursor yang berkedip-kedip konstan, menanti deretan kata yang sejak minggu lalu tertunda.
Novel dark romance yang sempat terbengkalai karena kekacauan hidupku kini memanggil kembali. Aku menarik napas dalam-dalam, meletakkan jemari di atas papan ketik, dan mulai merangkai kalimat demi kalimat. Menulis kisah fiksi kelam tent