Laju mobil sedan hitam yang kami tumpangi membelah kemacetan sore ibu kota dengan mulus, menembus bias cahaya lampu kota yang mulai menyala berganti rimbunnya senja. Di dalam kabin yang kedap suara dan berpendingin ruangan sejuk itu, aroma vanilla tobacco khas North berpadu sempurna dengan keheningan yang menenangkan, menjadi benteng privasi setelah badai emosional yang baru saja kami lewati di kampus.
Aku menyandarkan sisi kepalaku pada kaca jendela mobil, memperhatikan deretan gedung pencakar langit yang berlalu begitu cepat di luar sana. Pikiranku menerawang jauh, kembali memutar kepingan demi kepingan kejadian di koridor rektorat beberapa jam lalu. Rasa takut dan trauma yang selama bertahun-tahun selalu berhasil melumpuhkan sendi-sendiku kini terasa begitu asing, seolah itu adalah bag