Desakan getaran yang diciptakan North di antara jarak tubuh kami terasa makin gila, merambat naik dan melumpuhkan setiap benteng pertahanan yang selama ini kubangun rapat-rapat. Setiap kali hembusan napas dan usapan lembutnya menyentuh kulitku, tubuhku refleks menegang—bukan karena takut seperti saat Lennox memegangku dengan paksa, melainkan karena ada letupan liar yang mendadak meledak di seluruh sarafku, menciptakan sensasi asing yang membakar habis akal sehatku.
"Kamu tegang sekali, Mindy," bisik North di dekat telingaku, suaranya terdengar begitu merendah, sarat akan kuasa penuh yang membuat lututku semakin lemas. "Relaks... biarkan tubuhmu menikmati apa yang seharusnya sudah kau dapatkan sejak lama. Jangan dilawan."
"Aku tidak bisa... ini di ruang kelas, North," kataku terbata-bata, mencoba menarik sedikit jarak meski tangan kokohnya menahan pinggangku tanpa celah.
"Siapa yang peduli dengan tempat ini?" desis North tajam namun penuh candu, bibirnya semakin menempel di kulitku. "Di dalam ruangan ini, yang ada hanya aku dan kau. Tidak ada aturan kampus, tidak ada dosen lain, dan yang paling penting, tidak ada bayang-bayang pria sialan itu."
Napas North memburu di ceruk leherku, menciptakan gesekan halus yang membuat sekujur kulitku merinding seketika. Jalur sentuhannya perlahan merayap naik, menyusuri garis rahang yang kaku lalu berhenti tepat di bawah telingaku—titik paling sensitif yang bahkan tidak pernah kusadari keberadaannya sebelum detik ini.
Begitu bibir North yang hangat menempel di sana—memberikan sentuhan-sentuhan lembut penuh tekanan yang berani dan menuntut—seluruh sisa pertahananku benar-benar hancur lebur tanpa sisa.
"N-North... kumohon... jangan di situ..." rintihku setengah memohon, mencoba mencari pegangan di tengah badai sensasi ini.
"Kenapa? Titik ini membuatmu jujur, Mindy," balas North serak, bibirnya terus memberikan teror manis yang melumpuhkan kesadaranku. "Katakan padaku, apakah b******n itu pernah menyentuhmu seperti ini? Pernahkah ia membuatmu merasa hidup, atau ia hanya memperlakukanmu seperti boneka pajangan?"
"Tidak... tidak pernah..." suaraku lolos begitu saja tanpa izin, terdengar serak, tipis, dan bergetar hebat di udara kelas yang lengang. Jemariku yang tadinya terkulai lemas kini refleks meremas bahu kemeja linen hitamnya makin erat, mencengkeram kain itu hingga buku-buku jariku memutih. Aku bahkan tidak pernah tahu bahwa tubuhku bisa merespons sejauh ini terhadap sentuhan seorang pria. Telingaku terasa panas membakar, dan setiap sapuan bibirnya di sana seolah mengirimkan gelombang sengatan listrik bertegangan tinggi yang merambat langsung ke pusat kesadaranku.
"Di sini?" bisik North lagi, suaranya terdengar begitu berat, serak, dan dalam, tepat di dekat telingaku hingga getaran suaranya beradu dengan kulitku. Hembusan napas panasnya saja sudah sukses membuat dadaku berdesir hebat dan paru-paruku kekurangan oksigen. "Ternyata kelemahanmu ada di sini, Mindy... Kau benar-benar sensitif di tempat ini, dan aku suka mendengarmu mendesah memanggil namaku seperti itu."
North kembali mengecup, membelai, dan memberikan perhatian penuh pada area tersebut dengan ritme yang lambat namun sangat menyiksa keimanan. Bersamaan dengan itu, jemarinya yang kokoh dan hangat menyusuri lekuk pinggangku, meremasnya lembut dalam ritme teratur yang seirama dengan detak jantungku yang kini berpacu di batas maksimal.
"North, aku... aku tidak kuat..." rintihku parau, kepalaku mendongak ke belakang sementara jemariku semakin mencengkeram kemejanya hingga kusut masai.
"Tatap aku, Mindy," perintah North rendah namun penuh kuasa, tidak memberi ruang bagi ragu atau bantahan. "Jangan tutup matamu. Lihat siapa yang sedang memegangmu sekarang. Biarkan matamu merekam semuanya."
Aku membuka mata perlahan, menatapnya dengan pandangan yang berkaca-kaca akibat intensitas emosi yang terlalu meluap-luap. Wajah North hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahku. Sepasang mata hazel gelapnya berkilat pekat oleh gairah yang matang dan mendalam, tapi di balik kilatan itu, ada nyala protektif luar biasa yang belum pernah kulihat dari pria manapun di dunia ini.
"Jangan ditahan, Mindy. Biarkan dirimu merasakannya seutuhnya," bisiknya serak, ibu jarinya mengusap lembut air mata yang nyaris tumpah di sudut mataku. "Kau milikku di sini. Hanya milikku, paham?"
"Tapi... bagaimana kalau seseorang datang memeriksa?" tanyaku di sela napas yang pendek, menyuarakan ketakutan terakhir yang tersisa di kepalaku meskipun kesadaranku sudah setengah melayang.
"Tidak akan ada yang datang, Mindy. Pintu itu sudah terkunci mati," jawab North tegas, bibirnya kembali menyapu sisi wajahku, mengecup kelopak mataku dengan penuh kelembutan kontras sementara dekapannya semakin mengencang, mengurungku sepenuhnya dalam dunianya. "Fokus padaku. Jangan pikirkan siapapun di luar sana, termasuk suamimu."
Gelombang hangat yang begitu dahsyat menghantam sisa kesadaranku, merobohkan benteng terakhir yang kupunya. Sekujur tubuhku bergetar pasrah dalam pelukan erat North, diliputi sensasi pekat yang membakar habis seluruh bayangan kelam masa lalu yang ditinggalkan oleh pernikahan neraka bersama Lennox. Aku menahan desahan yang hampir pecah di dalam ruangan tertutup yang dilingkupi gemuruh hujan deras di luar sana.
North menahan tubuhku yang sudah lemas tak berdaya, membiarkanku bersandar sepenuhnya di dadanya yang naik-turun tak beraturan akibat napasnya yang juga memburu.
"Sudah merasa lebih baik, hm?" bisik North di tengah keheningan yang menyusul setelah badai reda, suaranya melembut namun tetap memancarkan d******i mutlak.
Aku mengangguk pelan di dadanya, mengatur napasku yang masih memburu. "Ya... terima kasih, North. Aku merasa... berbeda."
"Jangan berterima kasih dulu, Mindy," balas North dengan seringai tipis yang kembali terukir di bibirnya, jemarinya merapikan helai rambutku yang basah oleh keringat. "Ini baru permulaan dari cara kita mendefinisikan batas garis baru dalam hidupmu. Kedepannya, tidak akan ada lagi pria yang berani mendekatimu tanpa seizinku."
Detak jantungnya yang tegas dan konstan berdebar keras di telingaku, seolah menjadi jangkar yang menahan agar aku tidak melayang terlalu jauh. Ia tidak langsung melepaskanku; sebaliknya, jemari tangannya yang hangat bergerak naik-turun, usap demi usap menenangkan punggungku yang masih menegang, merapikan helai rambutku dengan kehangatan protektif yang begitu pekat bercampur aroma wood and tobacco miliknya.
"Lihat?" suara North terdengar begitu dekat di samping telingaku, kali ini berubah menjadi nada yang jauh lebih tenang, lembut, namun tetap mengandung mutlak kepemilikan. "Kamu tidak mati rasa, Mindy. Kamu tidak pernah dingin seperti yang b******n itu katakan selama ini. Kamu cuma berada di tangan orang yang salah sepanjang hidupmu."
Aku menundukkan kepala perlahan dengan napas yang masih memburu tidak beraturan, menyandarkan dahiku di dadanya yang bidang dan kokoh. Ada rasa bersalah yang sempat mencolek nuraniku karena menyerah semudah ini pada seorang dosen pembimbing di lingkungan kampus. Tapi kehangatan, sentuhan, dan perlindungan mutlak yang diberikan North menghapus keraguan itu dalam sedetik.
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun terjebak di dalam neraka pernikahan bersama Lennox, aku merasa benar-benar bisa bernapas dengan lega. Dan aku tahu pasti, jalan kembali sudah tertutup rapat-rapat.