Langkah kaki kami menyusuri koridor utama gedung rektorat yang kini terasa jauh lebih lapang dan bersahabat. Sisa-sisa ketegangan akibat insiden konfrontasi dengan sang dosen beberapa saat lalu perlahan-lahan menguap, tersapu oleh embusan angin sore yang menerobos masuk melalui jendela-jendela besar di sepanjang lorong.
North sama sekali tidak melepaskan tautan tangannya dari jemariku. Genggaman itu terasa hangat, kokoh, dan memberikan kepastian mutlak bahwa tidak akan ada lagi pihak berani yang mencoba merendahkan atau mengusik ketenanganku. Di sepanjang jalan keluar, beberapa mahasiswa dan staf administrasi yang berpapasan dengan kami sontak menunduk hormat, menghindari kontak mata langsung saat menyadari kehadiran pria berjas rapi yang berjalan di sisiku.
Dulu, tatapan orang-orang di