Suasana kelas Arsitektur dan Geometri Molekuler seketika hening saat North mulai memutar spidol di jemarinya, menciptakan ritme monoton di papan tulis putih. Selama dua jam berikutnya, aku hampir tidak bisa memfokuskan pikiran pada coretan rumus struktural di buku catatanku. Suara North yang berat dan berwibawa bergema mengisi seluruh ruangan, tapi mataku terus terdistraksi oleh setiap pergerakan tubuhnya—aroma wood and tobacco miliknya sesekali terbawa hembusan angin AC setiap kali pria itu melintas tepat di depan mejaku.
"Mindy, lo merhatiin gak dari tadi?" bisik Rian pelan sambil menyenggol sikuku menggunakan bukunya. "Pak North merhatiin hasil draf skripsi lo kayaknya detil banget deh. Dari tadi muka dia serius banget pas nengok ke arah meja kita."
Aku langsung tersentak kecil, merapikan letak penaku dengan gugup. "Ah... iya, Rian. Mungkin karena bab analisis bebannya kemarin agak meleset dari standar departemen."
"Makanya jangan kebanyakan melamun," timpal Rian lagi sebelum suara ketukan spidol di meja dosen menghentikan bisik-bisik kami.
"Baik, kelas hari ini selesai sampai di sini," suara North memecah lamunanku, mengakhiri kuliah sore itu dengan tegas. "Dan untuk Mindy... tolong tetap tinggal sebentar di ruangan ini. Ada beberapa grafik di draf laporan risetmu yang perlu dikoreksi secara khusus sebelum disetujui."
Beberapa mahasiswa di barisan belakang langsung menoleh sekilas ke arahku, sementara teman-teman sekelasku berhamburan membereskan barang-barang mereka dan bergegas keluar kelas. Hanya dalam waktu beberapa menit, riuh rendah ruang kuliah berangsur menyusut hingga akhirnya menyisakan keheningan yang pekat. Hujan deras di luar mulai mengguyur kaca jendela lantai empat, menciptakan suara gemerisik air yang membentur permukaan kaca.
Pintu utama kelas tertutup rapat dari dalam dengan bunyi debuman pelan. North berjalan santai namun pasti mendekati pintu jati tersebut. Dengan gerakan tangan yang tenang dan tanpa ragu, jemari panjangnya memutar kunci kuningan yang ada di slot pintu.
Klik.
Bunyi kunci itu berputar bagaikan palu hakim yang mengunci duniaku dari gangguan luar. Aku menahan napas, meremas ujung sweater wol tebal yang kukenakan saat North membalikkan badan, lalu melangkah perlahan mendekatiku di barisan ketiga. Pria itu melepas jas akademisnya, menyampirkannya begitu saja ke sandaran kursi kosong di dekatnya. Kemeja hitam yang membalut tubuhnya kini mencetak jelas d**a bidang serta bahunya yang kokoh, memancarkan aura d******i yang membuatku tak berani bergerak.
"Kamu sengaja menghindar dari tatapanku sepanjang materi tadi, Mindy?" suara North membuka percakapan, begitu dekat hingga udara di sekitarku terasa menyusut.
Aku mendongak perlahan, menelan ludah dengan susah payah. "Tidak, Pak North... Saya hanya fokus mencatat materi struktur yang Bapak jelaskan."
"Kau berbohong lagi," balas North dingin namun mengandung nada yang begitu memabukkan. Ia berhenti tepat di hadapanku, menghalangi pandanganku ke arah papan tulis. Jarak di antara kami begitu tipis hingga aku bisa merasakan radiasi panas tubuhnya menembus udara dingin kelas. "Sudah kubilang, hilangkan gelar formal itu saat kita hanya berdua."
"Tapi ini di lingkungan kampus, North... Bagaimana kalau ada dosen lain atau mahasiswa yang kebetulan lewat?" suaraku tertahan, bergetar hebat di ujung kalimat.
North mendengus pelan, senyum tipis yang arogan terukir di sudut bibirnya. "Gedung ini sudah kukunci dari dalam, dan tidak ada seorang pun yang berani masuk ke ruanganku tanpa izin tertulis. Jadi, jangan alihkan pembicaraan."
Tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu, jemari panjang North terangkat ke udara. Bukannya menyentuh dengan kasar seperti yang biasa kudapatkan di rumah, ujung jarinya mengusap lembut tepi sweater berleher tinggiku, lalu memiringkannya perlahan ke samping. Tatapan mata hazel gelapnya langsung meredup, berubah menjadi gelap dan berbahaya saat melihat jejak memar kebiruan yang terpampang jelas di rahang dan leherku.
Otot rahang North seketika mengetat, menciptakan garis tegas yang menakutkan di wajahnya. "Dia yang melakukannya?" tanya North, suaranya berubah menjadi geraman rendah yang tertahan di tenggorokan.
Aku tidak menjawab. Aku menunduk, menggigit bibir bawahku mati-matian, sementara mataku yang mulai memanas dan berkaca-kaca sudah lebih dari cukup untuk memberikan jawaban yang ia cari. Lennox selalu berhasil membuatku merasa kotor, hina, dan tidak berharga di rumah itu; tapi di hadapan North, sorot mata pria ini justru membuatku merasa dilihat sepenuhnya—membuat luka-luka ini terasa nyata dan bernilai.
"Pria sialan itu..." bisik North penuh penekanan, jemarinya mengepal di udara sebelum kembali melunak di kulitku. "Dia tidak punya hak sedikit pun untuk menyentuh mahasiswaku seperti ini, apalagi memperlakukanmu seperti benda rusak."
"Aku terpaksa bertahan di sana, North... Kau tidak mengerti betapa rumitnya posisiku," keluhku lirih, pertahananku akhirnya runtuh di hadapannya.
Jemari North bergerak turun dari leherku, seolah menghapus setiap ketakutan dan sisa trauma yang menumpuk bertahun-tahun di dalam dadaku. Sentuhan itu sama sekali tidak menyakitkan; itu adalah kehangatan cair yang langsung menyengat ujung sarafku, memberikan rasa aman yang paling terlarang.
Sebelum aku sempat menarik napas atau melangkah mundur, tangan kokoh North sudah melingkar di pinggulku, menarik tubuhku perlahan untuk memangkas habis jarak tipis di antara kami. Tubuhku menempel rapat pada dadanya yang keras, membuat degup jantung kami beradu dalam satu irama yang sama.
"Lihat aku, Mindy," bisiknya memerintah, menundukkan wajahnya hingga bibirnya hampir menyapu daun telingaku. Hembusan napas panasnya yang beraroma wood and tobacco membuat dadaku naik turun tak beraturan, mencuri seluruh sisa oksigen di paru-paruku. "Aku akan mengajarimu bagaimana rasanya dihargai, bagaimana rasanya disentuh oleh pria yang tahu persis cara memperlakukan seorang wanita berharga, bukan oleh b******n yang hanya bisa merusakmu."
"North..." keluhku tertahan di sela napasku yang pendek, saat bibir pria itu akhirnya menyapu bibirku.
Itu bukan sekadar ciuman biasa atau pelarian sesaat, melainkan sebuah klaim kepemilikan yang penuh d******i namun terasa begitu lembut dan teratur. Bibirnya yang hangat menyesap bibir bawahku dengan tekanan yang sukses membuat lututku lemas seketika, bergantung sepenuhnya pada lengan kokoh yang mendekap pinggangku.
North mengerang rendah, menikmati setiap respons kecil dari bibirku. Tangannya yang besar berpindah dari pinggul ke bagian belakang tengkukku, menahan kepalaku agar tidak bisa berpaling, memaksa ciumannya merayap turun menyusuri garis rahang hingga ke leherku yang terluka. Sensasi hangat yang ia berikan membakar habis sisa ketakutanku pada bayang-bayang Lennox di rumah, menggantikannya secara total dengan rasa haus yang mendalam akan kebebasan.
Di dalam ruangan yang terkunci rapat ini, ditemani deru hujan lebat di luar jendela, aku menyadari satu hal yang pasti: aku tidak lagi membutuhkan perlindungan dari dunia luar. Aku hanya butuh untuk terus berada di dalam kurungan tangan pria ini, selamanya.