Malam perayaan di aula utama rektorat telah usai sepenuhnya, meninggalkan sisa kemegahan yang kini berganti menjadi keheningan panjang yang hangat di dalam unit penthouse. Kota metropolitan di luar dinding kaca besar tampak berkilau oleh jutaan lampu gedung yang membelah kegelapan malam, sementara sisa titik-titik air hujan sore tadi masih membasahi ambang jendela, menciptakan pantulan cahaya yang artistik.
Aku berdiri di dekat area minibar yang elegan, menuangkan air mineral dingin ke dalam gelas bening berukuran sedang. Blazer hitam formal yang kukenakan tadi siang dalam acara seremoni telah kulepaskan, menyisakan gaun malam berpotongan sederhana berwarna emerald yang terasa nyaman dan lembut di kulitku. Meskipun acara hari itu berjalan sangat sempurna dan seluruh dunia kampus telah menyaksikan pengakuan terbuka serta perlindungan mutlak dari North, ada satu ganjalan kecil yang masih berputar-putar di dalam kepalaku, mengusik ketenangan yang baru saja kudapatkan.
Langkah kaki tegas yang sangat kukenal terdengar mendekat dari arah ruang kerja pribadi North. Pria itu baru saja merampungkan panggilan telepon bisnis terakhirnya dengan tim hukum malam ini. North melepas jas custom-tailored miliknya, menyampirkannya begitu saja di sandaran sofa beludru, lalu melonggarkan dua kancing atas kemeja putihnya dengan gerakan maskulin yang secara alami memancarkan aura d******i mutlak.
"Ada apa, Mindy? Kenapa kamu belum tidur?" tanya North rendah dengan nada suara baritonnya yang membuai, langsung menangkap ekspresi gelisah di wajahku seketika ia berdiri di hadapanku tanpa suara. "Masih ada hal yang mengganggumu setelah kemenangan besar kita hari ini di kampus?"
Aku meletakkan gelas bening itu di atas marmer meja bar, lalu menatap manik mata hazel-nya yang selalu mampu membaca setiap perubahan kecil pada diriku bahkan sebelum aku sempat menyuarakannya.
"Bukan soal kemenangan di kampus, Daddy," jawabku pelan, meremas jemariku sendiri di atas permukaan meja karena merasa sedikit ragu. "Tapi... pengacara Hendra sempat menyinggung secara sepintas soal aset dan surat-surat harta bersama dari pernikahan lamaku yang belum sepenuhnya diselesaikan secara hukum. Meskipun perceraian kita sudah diputus secara verstek, Lennox ternyata meninggalkan beberapa masalah administrasi keuangan dan pinjaman komersial terselubung yang sengaja dibiarkan menggantung."
Alis tebal North langsung menuki tajam, membentuk garis tegas di atas hidung mancungnya. Suasana di sekitar kami seketika mendadak mendingin, seolah udara hangat di dalam ruangan tersedot habis oleh aura mengancam dan berbahaya yang mendadak menguar dari tubuh atletis pria itu.
"Apa lagi yang diinginkan pria busuk itu?" geram North rendah, suaranya sarat akan ketidaksabaran yang pekat dan kemarahan tertahan. "Dia sudah mendekam di balik jeruji besi atas segala kejahatannya, dan sekarang keluarganya atau orang-orangnya masih mencoba bermain-main dengan sisa administrasi murahan itu?"
"Bukan keluarganya," ralatku cepat, mencoba meredakan ketegangan mendadak yang melingkupi d**a bidangnya. "Tapi pihak bank dan institusi tempat Lennox mengambil pinjaman komersial atas nama bersama dulu sewaktu kami masih terikat pernikahan. Karena tanda tanganku ternyata pernah dipalsukan di beberapa dokumen agunan tanpa sepengetahuanku sedikit pun, pihak bank kini meminta verifikasi dan tanda tangan langsung dariku sebelum aset komersial itu disita negara."
North terdiam cukup lama. Rahangnya mengeras, memperlihatkan otot-otot rahang yang mengetat di bawah kulitnya. Tanpa membuang waktu, ia memajukan langkahnya dengan dominan, mengikis jarak di antara kami hingga tubuh tegapnya mengurungku sepenuhnya di tepi meja bar. Tangannya yang besar dan hangat langsung terulur, menangkup rahangku dengan lembut namun menyisakan klaim mutlak yang tak terbantahkan.
"Dengarkan aku baik-baik, Mindy," bisik North serak tepat di depan bibirku, intonasinya begitu berat dan otoritatif hingga tidak memberikan ruang sedikit pun bagi keraguan. "Kamu tidak perlu menginjakkan kaki di bank sialan itu, dan kamu tidak perlu memikirkan satu pun berkas sampah dari masa lalu. Aku yang akan mengambil alih penyelesaian masalah ini sepenuhnya melalui tim audit forensik dan divisi hukum pribadiku."
Aku menatap pendar gelap di dalam manik mata North, merasakan gelombang keamanan dan perlindungan mutlak yang langsung menyergap hatiku, meredakan ketakutan yang sempat mencengkeram. "Tapi bagaimanapun juga, itu bagian dari masa laluku, Daddy... Rasanya tidak enak terus merepotkanmu dengan urusan yang seharusnya menjadi tanggung jawabku."
North mendengus pelan, sorot matanya melunak namun tetap memancarkan d******i yang kuat. Ia mengusap pipiku dengan ibu jarinya. "Kamu tidak pernah merepotkan aku, Mindy. Mengapa kamu masih berpikir seperti itu setelah semua yang kita lewati?"
"Bukannya begitu," gumamku lirih, menunduk menatap kemejanya. "Aku hanya merasa tidak enak karena kamu selalu harus turun tangan membereskan kekacauan yang ditinggalkan Lennox. Seharusnya aku bisa lebih mandiri."
"Dengar," potong North tegas, mengangkat daguku agar kembali menatap manik hazel-nya. "Kamu bukan lagi wanita lemah yang harus menghadapi semua masalah itu sendirian. Peran di dunia ini sudah berubah, Mindy. Kamu milikku, dan itu berarti setiap masalah yang menyangkut dirimu adalah masalahku juga. Jangan pernah ragu untuk membiarkan aku melindungimu."
Aku mengerjap pelan, merasakan kehangatan yang luar biasa menyebar ke seluruh tubuhku mendengar kalimat posesif namun penuh ketulusan itu. "Terima kasih, Daddy... Aku hanya takut kalau masalah ini akan terus mengejar kita dan merusak ketenangan yang baru saja kita dapatkan."
"Tidak akan ada yang bisa merusak ketenangan kita," janji North mutlak. Ia merapatkan tubuhnya hingga dadanya bersentuhan dengan punggung tanganku yang masih bertumpu di meja bar. "Tim hukumku adalah yang terbaik di negara ini. Dalam waktu kurang dari dua hari, mereka akan membereskan seluruh kekacauan tanda tangan palsu itu tanpa perlu menyeret namamu ke hadapan publik lagi."
"Dua hari?" tanyaku memastikan, napasku sedikit lebih lega.
"Dua hari, atau bahkan kurang," jawab North mantap. "Jadi, hapus semua kerutan di dahi itu sekarang juga. Aku tidak suka melihat wanitaku bersedih atau cemas memikirkan hal-hal sepele yang sudah bisa kuatasi."
Aku tersenyum tipis, merasa beban di pundakku seketika terangkat separuh. "Baiklah, aku serahkan semuanya padamu, Tuan Penguasa."
Sudut bibir North terangkat membentuk senyuman miring yang memikat. "Pilihan yang sangat tepat, Sayang."
Ia langsung mendaratkan ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh penguasaan di bibirku. Sentuhan hangat itu seketika menghapuskan sisa-sisa kecemasan yang sempat merayap di kepalaku, menyisakan sensasi terbakar yang mendominasi seluruh indraku.
Ia memelukku erat, merapatkan tubuh kami tanpa menyisakan celah udara sedikit pun. Napas kami beradu dalam keheningan malam penthouse.
"Biarkan timku yang merobek sisa-sisa ikatan sialan itu sampai tidak ada satu pun nama Lennox yang tertinggal di atas kertas manapun di negeri ini," lanjut North di sela ciuman kami, suaranya terdengar begitu beracun namun menenangkan. "Tugasmu sekarang hanyalah bernapas, tenang, dan bersiap untuk perjalanan rahasia kita akhir pekan ini."
Aku mengerjap pelan, melepaskan ciuman itu sesaat untuk mendongak menatapnya di dalam dekapan hangat yang melindungiku. "Perjalanan? Kita mau ke mana, Daddy? Bukankah riset dan urusan kampus baru saja selesai?"
Sudut bibir North terangkat sebelah, membentuk senyuman misterius yang sangat memikat sekaligus sarat akan d******i penuh rahasia. "Tempat di mana tidak ada satu pun orang dari masa lalu, tidak ada jurnalis kampus, dan tidak ada urusan dunia luar yang bisa menemukan kita. Hanya aku dan kamu, menghabiskan waktu seutuhnya tanpa gangguan."
"Apakah itu tempat yang jauh?" tanyaku penasaran, jemariku merayap menyentuh kerah kemejanya yang terbuka. "Dan berapa lama kita akan di sana?"
North mengecup ujung hidungku sekilas, matanya menyipit penuh jenaka namun tetap memancarkan posesivitas yang pekat. "Cukup jauh untuk membuatmu melupakan segala kepenatan di kota ini, Mindy. Dan kita akan berada di sana selama yang kita inginkan. Tidak ada batas waktu, karena seluruh dunia di luar sana bisa menunggu perintahku."
"Wah, terdengar seperti pelarian yang sempurna," kataku riang, senyuman lebar akhirnya benar-benar terukir di wajahku.
"Ini bukan pelarian, Sayang," koreksi North lembut namun tegas. "Ini adalah hadiah atas ketahananmu. Kamu sudah berjuang dengan sangat baik, dan sekarang saatnya kamu menikmati hasilnya di sisiku."
"Aku selalu percaya padamu, Daddy," bisikku tulus, kembali menyandarkan kepalaku di d**a bidangnya, merasa yakin bahwa badai apa pun di masa lalu tidak akan pernah bisa menyentuhku lagi selama aku berada di dalam pelukan pria ini.