Aula utama gedung rektorat dipenuhi oleh puluhan dosen senior, jajaran dekanat, serta perwakilan mahasiswa pascasarjana yang duduk rapi di kursi beludru merah. Hari ini adalah acara seremoni penghargaan riset tahunan sekaligus pengumuman resmi hasil evaluasi laboratorium yang paling dinantikan. Suasana yang tadinya bising oleh obrolan formal dan desas-desus mendadak menghening seketika ketika pintu utama aula terbuka lebar, dan North melangkah masuk dengan aura d******i yang begitu kuat.
North tampil begitu memikat dan mengintimidasi dengan setelan jas hitam custom-tailored yang melekat sempurna di tubuh atletisnya. Namun, yang membuat seluruh pasang mata di ruangan itu terbelalak dan menahan napas adalah lengannya yang secara terbuka dan tanpa ragu merangkul pinggangku, membimbingku berjalan di sampingnya menyusuri karpet merah aula.
Aku sempat merasakan desiran hangat merayap di pipiku saat puluhan pasang mata dosen dan mahasiswa menatap ke arah kami dengan berbagai ekspresi kagum bercampur terkejut. Namun, genggaman tangan North yang begitu kokoh, hangat, dan protektif membuat rasa canggung itu sirna seketika tanpa bekas. Tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi bisik-bisik fitnah murahan seperti beberapa minggu lalu. Rekam jejak kejahatan dan kebohongan Lennox sudah sepenuhnya dibersihkan dari kampus ini, dan namaku kini berdiri tegak sebagai salah satu peneliti terbaik tahun ini.
"Lihatlah mereka... Pak North tampak sangat mendominasi," bisik salah satu mahasiswi di barisan tengah kepada temannya dengan nadanya yang tertahan, meski masih bisa kudengar samar. "Dan Mindy terlihat begitu tenang dan anggun di sampingnya. Mereka tampak seperti pasangan penguasa sungguhan."
Aku hanya tersenyum tipis mendengarnya, semakin mengeratkan genggamanku pada lengan jas North yang tebal.
"Jangan dengarkan bisikan mereka, Sayang," bisik North pelan tepat di dekat daun telingaku, suaranya yang rendah mengalirkan getaran asing yang membuai seolah ia bisa membaca setiap inci pikiranku di tengah riuh suasana. "Fokus saja padaku. Hari ini adalah hari kemenangan kita berdua, dan tidak ada hal lain yang lebih penting dari itu."
"Aku tidak mendengarkan siapa-siapa lagi selain kamu, Daddy," balasku lembut, mendongak menatap rahang tegasnya yang terukir sempurna dengan garis maskulin yang mempesona. "Keberadaanku di sini sepenuhnya karena kamu."
North menunduk sejenak, memberikan tatapan penuh afeksi yang teramat kontras dengan perang dinginnya di hadapan dewan komisaris kampus. "Dan aku tidak akan pernah membiarkan siapapun mengusik ketenanganmu lagi, Mindy. Ingat itu baik-baik di dalam kepalamu."
"Aku percaya padamu sepenuhnya, Daddy," jawabku dengan senyuman tulus. "Tapi, jujur saja, jantungku masih berdegup sangat kencang saat melihat begitu banyak pasang mata menatap ke arah kita tadi."
North terkekeh pelan, getaran tawanya terasa di pinggangku yang dirangkulnya erat. "Biarkan mereka melihat, Mindy. Biar seluruh dunia tahu bahwa kamu adalah wanita yang berada di bawah perlindungan mutlakku. Tidak perlu ada rasa takut lagi."
"Aku tahu," bisikku pelan, menatap lurus ke depan. "Hanya saja... rasanya masih seperti mimpi. Setelah semua teror dan penderitaan yang kualami bersama Lennox dulu, berada di sini, berdiri di sampingmu di tempat terbuka seperti ini, terasa begitu luar biasa."
North menghentikan langkahnya sebentar sebelum kami mencapai barisan depan, lalu menatapku lekat-lekat dengan manik hazel-nya yang memancarkan kehangatan luar biasa. "Mimpi buruk itu sudah berakhir, Sayang. Mulai hari ini dan selamanya, yang ada hanya kenyataan indah di mana kamu milikku dan aku milikmu."
"Terima kasih, Daddy," ucapku penuh rasa syukur, meremas jemarinya dengan erat. "Kalau bukan karena bantuanmu membongkar semua kebusukan Lennox, mungkin aku tidak akan pernah bisa bernapas lega seperti sekarang."
"Kamu tidak perlu berterima kasih, Mindy," balas North tegas namun lembut. "Melindungi dan memastikan keselamatanmu adalah kewajibanku sejak hari pertama aku memutuskan untuk membawamu masuk ke dalam duniaku. Kamu tidak sendirian lagi."
"Aku tahu, Daddy. Dan aku sangat bersyukur memilikimu," kataku penuh keyakinan. "Omong-omong, setelah acara ini selesai, apakah kita langsung pergi ke tempat makan malam yang kemarin kita bicarakan?"
North tersenyum penuh arti mendengar pertanyaanku di tengah detik-detik menjelang seremoni penting ini. "Tentu saja, Sayang. Semua reservasi sudah diatur oleh asistenku. Restoran itu akan dikosongkan khusus untuk kita berdua malam ini."
"Kamu selalu berlebihan, Daddy," protesku dengan nada manja, meski pipiku merona merah.
"Untuk wanitaku, tidak ada kata berlebihan," bisik North penuh percaya diri sebelum kembali menegakkan tubuhnya saat Rektor mulai bersiap di atas panggung.
Tak lama kemudian, Rektor naik ke atas podium utama dengan langkah berwibawa, menyampaikan kata sambutan pembuka sebelum akhirnya memanggil nama North untuk menerima penghargaan khusus atas kepemimpinan riset terbaik tahun ini.
North melangkah naik ke atas panggung dengan langkah tenang, elegan, dan penuh wibawa. Setelah menerima plakat penghargaan berlapis emas dan menjabat tangan Rektor serta Dekan, North tidak langsung turun kembali ke tempat duduknya. Ia berdiri tegak di depan mikrofon utama. Matanya yang berwarna hazel tajam menyapu seluruh isi ruangan, sebelum akhirnya tertuju tepat padaku yang berdiri di barisan depan.
"Terima kasih atas kehormatan dan kepercayaan yang diberikan oleh pihak universitas," suara bariton North menggelegar tenang namun penuh penekanan melalui pengeras suara, mendominasi seluruh ruangan hingga tidak ada satu pun suara lain yang terdengar. "Namun, pencapaian laboratorium dan riset besar ini tidak akan pernah selesai tanpa dedikasi, ketahanan, dan kerja keras luar biasa dari peneliti utama saya."
North mengulurkan sebelah tangannya yang besar ke arahku di hadapan seluruh jajaran dekanat, profesor senior, dan ratusan mahasiswa.
"Mindy," panggil North rendah namun terdengar sangat jelas dan mutlak oleh semua orang di dalam aula. "Naiklah ke sini, ke sisiku."
Dadaku berdesir hebat, dipenuhi gelombang kebanggaan dan rasa cinta yang teramat dalam hingga membuat napasku tercekat sesaat. Dengan langkah mantap, dagu terangkat, dan kepala tegak tanpa sedikit pun keraguan, aku melangkah naik ke atas panggung, berjalan menghampiri pria yang telah mengubah seluruh jalan hidupku dari kegelapan menuju cahaya.
Begitu aku tiba di sisinya, North langsung merangkul pinggangku secara terbuka dan posesif di atas panggung utama, memamerkan kepada seluruh dunia bahwa wanita di sampingnya ini kini berdiri di tempat yang aman dan tidak lagi bisa diintimidasi oleh siapa pun.
"Mulai hari ini," lanjut North, suaranya semakin berat dan berwibawa, sementara matanya menatap lurus ke arah para hadirin dengan tatapan memperingatkan, "Mindy tidak hanya resmi menyelesaikan riset pascasarjananya dengan predikat terbaik dan sempurna, tetapi ia juga berada di bawah perlindungan dan komitmen pribadiku secara penuh. Siapa pun, tanpa terkecuali, yang mencoba mempertanyakan posisinya atau mencoba mengusiknya walau sekecil debu, akan berhadapan langsung denganku."
Gemuruh tepuk tangan yang meriah langsung membahana di seluruh sudut aula. Dekan dan para dosen senior mengangguk penuh rasa hormat dan persetujuan, menyambut pengakuan terbuka dari pria paling berpengaruh di fakultas tersebut.
Di tengah riuhnya tepuk tangan penonton yang memuji kemenangan kami, North merendahkan kepalanya hingga bibirnya menyentuh tepi daun telingaku dengan hangat.
"Sudah kukatakan sejak awal, Mindy," bisik North serak dengan pendar mata yang teramat pekat, penuh kepemilikan dan rasa cinta yang mendalam. "Dunia ini tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi selama kamu berdiri di sampingku."
Aku mendongak, menatap manik hazel-nya lekat-lekat, menyunggingkan senyuman kebahagiaan yang paling indah dan tulus dalam hidupku, lalu meremas jemarinya dengan rapat.
"Dan aku tidak akan pernah punya niat untuk pergi dari sisimu, Daddy," bisikku lembut membalas ucapannya, menutup babak kelam masa laluku dan menyambut masa depan yang sepenuhnya menjadi milik kami berdua.