Deru mesin helikopter pribadi memecah keheningan pagi yang sejuk, menciptakan pusaran angin kuat yang menerbangkan helai rambutku saat aku melangkah menaiki tangga kabin eksekutif. Di belakangku, North membimbing langkahku dengan satu tangan melingkar erat di pinggangku, memastikan aku masuk dengan aman ke dalam interior mewah yang dilapisi kulit domba asli dan panel kayu jati gelap yang elegan.
Setelah insiden sisa administrasi pinjaman Lennox yang berhasil dibereskan secara tuntas oleh tim audit forensik North dalam waktu kurang dari dua hari, pria itu langsung memutuskan untuk membawaku keluar dari kota metropolitan. Tidak ada lagi urusan kampus yang melelahkan, tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang mengerikan, dan yang paling penting, tidak ada lagi celah bagi siapa pun untuk mengganggu kedamaian hidup kami.
"Duduklah di sini, Mindy," ujar North lembut sesaat setelah kami mendarat di kursi kulit berlapis beludru yang sangat empuk. Ia membantuku memasang sabuk pengaman dengan telaten, matanya mengamati setiap detail gerak-gerikku dengan kelembutan yang teramat kontras dengan aura dominannya yang biasa.
"Terima kasih, Daddy," gumamku pelan, menatap manik hazel-nya yang memantulkan bayanganku. "Aku tidak menyangka kamu akan merencanakan perjalanan rahasia ini secepat itu. Kapan sebenarnya kamu menyiapkan semua ini?"
North tersenyum tipis, sudut bibirnya terangkat sebelah sementara jemarinya sempat mengelus pipiku sekilas sebelum merapikan sabuk pengamanku dengan sempurna. "Aku sudah merencanakannya sejak hari pertama kamu menyelesaikan risetmu, Sayang. Bahkan jauh sebelum dewan rektorat menjatuhkan keputusan mereka. Kamu butuh istirahat total, jauh dari kebisingan, gosip kampus, dan tekanan apa pun."
"Tapi... bagaimana dengan pekerjaanmu di perusahaan dan dewan komisaris?" tanyaku ragu, merasa tidak enak karena ia meninggalkan banyak tanggung jawab demi menemaniku. "Apakah tidak apa-apa kalau kamu pergi selama ini?"
North terkekeh pelan, suara baritonnya bergetar di dalam kabin yang mulai tertutup rapat. Ia duduk di sampingku, merapikan dokumen di mejanya sebelum menatapku lekat-lekat. "Dengarkan aku, Mindy. Perusahaan dan seluruh urusan bisnis di luar sana berjalan karena aku yang mengendalikannya. Dan kendali itu bisa kulakukan dari mana saja, termasuk dari ujung tebing terpencil di tengah laut sekalipun. Tidak ada yang lebih penting daripada memastikan kamu aman dan tenang di sisiku sekarang."
"Kamu selalu tahu bagaimana cara membuatku merasa menjadi wanita paling berharga di dunia ini, Daddy," kataku lirih, dadaku bergemuruh hangat mendengar ucapannya yang penuh keyakinan.
North meraih tanganku, membawanya ke bibirnya dan mengecup buku jemariku lama. "Karena memang itulah kenyataannya. Kamu adalah prioritas utamaku, Mindy. Tidak ada tawar-menawar untuk itu."
Helikopter perlahan-lahan mengangkat tubuhnya, meninggalkan landasan helipad pribadi di pinggiran kota yang mulai mengecil. Dari balik jendela kaca transparan, aku melihat lanskap perkotaan yang padat berubah menjadi petak-petak hijau perkebunan yang luas dan garis pantai berpasir putih yang membentang indah menyambut cakrawala.
Aku menyandarkan punggungku, merasakan ketenangan yang begitu asing namun sangat candu. Selama lima tahun hidup terjebak bersama Lennox, bepergian keluar kota selalu berarti melarikan diri dari amarah atau bersembunyi dalam ketakutan yang mencekam. Namun kali ini, di dalam kabin privat bersama pria berusia 35 tahun yang memegang kendali penuh atas keselamatan dan kebahagiaanku, perjalanan ini terasa seperti sebuah bentuk kebebasan mutlak tanpa batas.
North duduk di sampingku, membuka laptop kerjanya sejenak untuk memeriksa beberapa surel penting sebelum akhirnya menutupnya kembali dengan gerakan tenang dan meletakkannya di meja kecil di hadapan kami. Ia menyadari tatapanku, lalu menoleh dengan sudut bibir terangkat tipis.
"Masih memikirkan urusan bank kemarin, Mindy?" tanya North rendah. Suaranya terdengar begitu menenangkan di tengah deru baling-baling helikopter yang berdengung di luar.
Aku menggeleng pelan, menyunggingkan senyum tipis yang tulus. "Tidak, Daddy. Urusan itu sudah selesai sepenuhnya berkat tindakan cepatmu. Aku hanya... masih merasa semua ini terlalu indah untuk menjadi nyata bagiku. Rasanya baru kemarin aku terjebak dalam teror sidang rektorat."
North mengulurkan tangannya yang hangat, merengkuh tengkukku dan menarik kepalaku dengan lembut untuk bersandar di bahu bidangnya. Aroma vanilla tobacco miliknya langsung memenuhi indra penciumanku, memberikan jangkar keamanan yang paling kokoh di dunia ini.
"Ini bukan mimpi, Mindy," bisik North serak tepat di dekat telingaku, suaranya menggetarkan relung hatiku. Jemarinya yang kokoh mengusap lenganku yang terbalut mantel kasmir tebal dengan penuh kasih sayang. "Ini adalah kenyataan baru yang kubangun khusus untukmu. Mulai hari ini, setiap tempat yang kita singgahi adalah wilayah di mana kamu sepenuhnya aman dari segala marabahaya."
Ia mengecup puncak kepalaku lama, menyalurkan gelombang kehangatan yang meresap hingga ke tulang.
"Aku tahu, Daddy," bisikku lirih sambil meremas ujung kemejanya. "Bersamamu, aku merasa tidak perlu lagi merasa takut pada apa pun di dunia ini. Rasanya seperti... aku akhirnya menemukan rumah setelah lama tersesat."
North mengeratkan pelukannya di bahuku, napasnya terasa berat dan dalam. "Dan aku akan memastikan rumah itu selalu melindungimu, selamanya."
"Berapa lama waktu tempuh kita sampai ke tempat tujuan, Daddy?" tanyaku penasaran, mendongak sedikit untuk melihat garis rahangnya.
"Sekitar dua jam penerbangan, Sayang," jawab North lembut. "Villa itu terletak di tebing terpencil di ujung selatan pulau. Tidak ada akses darat yang mudah menuju ke sana, jadi privasi kita benar-benar terjamin seratus persen. Kamu bisa tidur sebentar jika merasa lelah. Perjalanan ini masih panjang."
"Aku tidak mengantuk," sanggahku kecil sambil tersenyum. "Aku justru ingin menikmati pemandangan di luar bersama-sama denganmu."
North mengangguk paham, sorot matanya melembut. "Baiklah. Kalau begitu, habiskan waktu ini denganku. Ceritakan apa yang ada di pikiranmu sekarang."
"Aku hanya sedang memikirkan masa depan kita, Daddy," kataku jujur. "Setelah semua badai ini berlalu, aku ingin fokus menyelesaikan riset lanjutanku, bekerja sebagai arsitek, menulis novel dark romance impianku, dan... menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu tanpa ada gangguan."
Senyuman paling tulus terukir di wajah tampan North. Ia mengecup keningku penuh rasa cinta. "Semua itu akan terwujud, Mindy. Aku akan mendukung setiap langkah yang ingin kamu ambil, selama kamu tidak pernah melangkah keluar dari sisiku."
"Aku tidak akan pernah mau pergi ke mana-mana," janjiku mantap.
Dua jam kemudian, helikopter mendarat mulus di atas helipad privat sebuah vila peristirahatan eksklusif yang terletak di tebing curam menghadap langsung ke hamparan Samudra Hindia yang biru. Udara laut yang segar dan asin langsung menyambut indra kami begitu pintu kabin dibuka oleh pramugari privat. Tidak ada kebisingan kota, hanya ada suara deburan ombak yang menghantam karang di bawah sana dan hamparan langit senja keemasan yang mulai membius cakrawala.
North membimbingku turun dengan hati-hati, menggenggam jemariku erat saat kami melangkah masuk ke dalam vila mewah berlantai kaca transparan yang dikelilingi oleh pepohonan tropis lebat yang asri.
"Tempat ini..." bisikku takjub, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang didesain dengan gaya modern minimalis namun sangat megah, menatap panorama laut lepas dari balik dinding kaca ruang utama. "Indah sekali, Daddy. Tempat apa ini?"
"Ini adalah salah satu aset pribadiku," jawab North tenang, berdiri tepat di belakangku. Kedua tangannya langsung melingkar memeluk pinggangku dengan rapat, menyatukan detak jantung kami dalam irama yang sama. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup aroma kulitku dengan napas berat yang sarat akan hasrat dan klaim posesif yang mendalam.
"Tempat ini milik kita berdua," bisik North serak, giginya menyapu lembut kulit leherku hingga sekujur tubuhku meremang hebat, mengirimkan sengatan listrik yang membuai. "Dan malam ini, di ujung dunia ini, tidak ada lagi yang bisa memisahkanmu dariku atau merusak kebahagiaan kita."
Aku memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan sentuhannya di tengah udara senja yang mulai mendingin. "Aku sepenuhnya milikmu, Daddy. Kemarin, hari ini, dan selamanya."