Tiga minggu berlalu sejak hari di mana Lennox diseret keluar dari gedung rektorat dalam kehancuran mutlak, meninggalkan tumpukan abu dari segala ancaman yang selama ini mengekang hidupku. Kota pagi ini diselimuti udara segar usai hujan deras mengguyur semalam, menyisakan tetesan embun yang berkilau di setiap sudut jendela kaca penthouse. Di dalam unit mewah yang tenang dan hangat ini, aku berdiri tepat di depan cermin besar berbingkai emas, merapikan blazer hitam kasual yang kukenakan di atas kemeja putih bersihku. Hari ini adalah hari yang sangat menentukan sekaligus membahagiakan: sidang putusan akhir perceraianku di pengadilan agama sekaligus pengumuman resmi kelulusan draf riset pascasarjanaku di universitas.
Pintu kamar tidur utama terbuka dengan dorongan pelan yang hampir tak bersuara. North melangkah masuk dengan balutan kemeja putih berkualitas tinggi yang lengannya tergulung rapi hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh dan garis rahangnya yang sangat tegas. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah amplop cokelat tebal berstempel resmi dari lembaga hukum.
"Pengacara Hendra baru saja mengirimkan berkas penting ini sepuluh menit yang lalu ke lobi," ujar North dengan suara baritonnya yang rendah, tenang, namun sukses membuat debaran jantungku berpacu lebih cepat. Ia berjalan mendekatiku tanpa jeda, menyerahkan amplop tersebut dengan tatapan mata hazel yang menyiratkan kelegaan mendalam.
Dengan jemari yang sedikit bergetar karena rasa gugup bercampur antisipasi yang membuncah, aku membuka segel amplop tersebut dan menarik keluar beberapa lembar kertas resmi di dalamnya. Di halaman terakhir dokumen itu, tertera putusan mutlak dari hakim yang mengabulkan seluruh gugatan perceraianku secara verstek tanpa perlawanan dari pihak tergugat, mengingat Lennox masih mendekam di dalam sel tahanan akibat kasus pidana berlapis yang menjeratnya.
Status hukumku kini telah resmi tertulis hitam di atas putih: Bercerai.
Rantai ikatan pernikahan neraka selama lima tahun yang dulu terasa seperti siksaan tanpa akhir itu akhirnya putus sepenuhnya hari ini tanpa sisa. Tidak ada lagi nama pria itu yang membayang-bayang di belakang identitasku, tidak ada lagi rasa takut yang mencekam setiap kali mendengar langkah kaki di ambang pintu. Aku memeluk lembaran surat keputusan itu erat-erat di dadaku, melepaskan helaan napas lega yang begitu panjang hingga tanpa sadar pelupuk mataku mulai menghangat dan berkaca-kaca oleh tetesan air mata kelegaan.
North yang melihat perubahan ekspresiku langsung melangkah mengikis sisa jarak di antara kami. Kedua tangannya yang besar, hangat, dan kokoh terulur menangkup lembut sisi wajahku, menggunakan ibu jarinya yang kasar untuk mengusap setitik air mata kebahagiaan yang meluncur di pipiku dengan penuh kelembutan.
"Jangan menangis lagi untuk masa lalu yang sudah mati dan terkubur dalam-dalam, Mindy," bisik North serak, mata hazel-nya menatapku lekat-lekat dengan intensitas emosi yang teramat pekat. "Air mata indahmu itu hanya pantas tumpah untuk kebahagiaan kita ke depannya, mengerti?"
Aku menatapnya lurus-lurus tanpa ragu, menyunggingkan senyuman lebar paling tulus yang pernah kuberikan seumur hidupku. "Aku menangis bukan karena sedih, Daddy. Aku menangis karena aku akhirnya benar-benar bebas sekarang, terlepas dari segala mimpi buruk itu."
Sudut bibir North terangkat tipis membentuk senyuman menawan yang memancarkan kepuasan mutlak atas apa yang telah kami menangkan. Ia merendahkan wajahnya perlahan, mendaratkan ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh penghayatan di bibirku, menyerap seluruh sisa ketakutan yang sempat tersisa di hatiku. Satu tangannya yang bebas merayap turun melingkari pinggangku, merapatkan tubuh kami hingga tidak ada lagi celah udara di antara kami berdua.
"Kamu memang sudah bebas dari pria pengecut itu, Mindy," bisik North tepat di depan bibirku, suaranya sarat akan klaim posesif yang hangat dan mendominasi. "Tapi ingat satu hal penting, Sayang. Kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku. Kamu adalah milikku seutuhnya, selamanya."
Aku tertawa kecil penuh kebahagiaan di dalam dekapannya yang kokoh, jemariku meremas kain kemeja putih di dadanya dengan erat. "Aku tidak pernah berniat untuk pergi dari sisimu, Daddy. Justru sebaliknya, kebebasanku yang sesungguhnya ada di sini, di dalam pelukanmu."
North tersenyum puas mendengar kepatuhan dan kejujuranku yang mutlak. Ia mengeratkan dekapannya, menikmati detik-detik berharga di mana dunia seolah berhenti berputar hanya untuk kami berdua.
"Aku sangat bangga padamu, Mindy," ucap North tulus di sela keheningan ruangan yang menenangkan. "Kamu sudah bertahan melewati masa-masa paling gelap dalam hidupmu dengan kepala tegak tanpa kehilangan dirimu sendiri. Tidak banyak wanita di dunia ini yang memiliki ketahanan mental sehebat dirimu."
"Semua itu karena aku tahu ada kamu di belakangku, Daddy," balasku jujur, mendongakkan kepala untuk menatap rahang tegasnya yang mempesona. "Tanpa dukunganmu, tanpa perlindungan dan kehadiranmu, mungkin aku sudah menyerah sejak tahun pertama pernikahanku dengan Lennox. Kamu adalah mercusuarku saat aku tersesat dalam badai."
North mengecup keningku lama, menyalurkan kehangatan yang meresap hingga ke lubuk hati terdalam. "Dan sekarang, lembaran baru itu benar-benar terbuka lebar untuk kita berdua. Tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan, tidak ada lagi teror di malam hari. Kamu bisa tidur nyenyak setiap malam di dalam pelukanku tanpa rasa cemas sedikit pun."
"Janji?" tanyaku pelan, menyandarkan pipiku di dadanya yang bidang sambil memainkan kancing kemejanya dengan jemari lentikku. "Janji kalau tidak akan ada lagi rahasia atau hal menakutkan yang disembunyikan dariku?"
"Janji mutlak, Sayang," jawab North mantap seraya merapikan helaian rambutku ke belakang telinga. "Mulai hari ini, tugasmu hanya satu: fokus pada mimpimu, risetmu, dan kebahagiaan kita berdua. Apapun yang terjadi di dunia luar, aku yang akan pasang badan dan menghadapinya untukmu."
"Aku pegang janji itu, Daddy," kataku sambil tersenyum manis, merasa hatiku berbunga-bunga. "Oh ya, omong-omong soal riset dan kelulusanku... apakah nanti malam kita bisa merayakannya di restoran favoritku? Aku ingin makan malam dengan tenang tanpa memikirkan ujian, rektorat, atau skandal apa pun."
North terkekeh pelan mendengar permintaanku yang sederhana namun penuh antusiasme kekanak-kanakan. Ia merapikan helaian rambutku sekali lagi. "Tentu saja, Mindy. Bahkan jika kamu ingin menyewa satu restoran penuh hanya untuk kita berdua, aku bisa melakukannya detik ini juga tanpa berpikir dua kali."
"Jangan berlebihan, Daddy," protesku kecil, meski pipiku merona panas karena diperlakukan begitu istimewa. "Makan malam biasa di tempat biasa sudah lebih dari cukup, asalkan aku duduk di sampingmu dan menggenggam tanganmu."
"Apapun untuk gadis penurutku," balas North lembut, suaranya terdengar sangat memanjakan. "Kalau begitu, setelah urusan di rektorat selesai siang ini, kita langsung meluncur ke sana. Tidak ada penolakan untuk tawaran ini."
"Baik, Daddy. Aku akan mendengarkan semua perintahmu hari ini," jawabku patuh, merasa seluruh beban di pundakku lenyap tak bersisa, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa.
North tersenyum bangga, meraih blazer hitam di sandaran sofa lalu memakaikannya ke bahuku dengan penuh perhatian. Ia merangkul bahuku dengan posesif namun lembut, membimbingku berjalan keluar dari kamar menuju area lobi penthouse. Hari ini, kami akan melangkah keluar dan datang ke kampus bukan lagi sebagai korban fitnah atau pihak yang tertekan, melainkan sebagai pasangan yang berdiri tegak menguasai takdir kami sendiri.