Pintu unit penthouse tertutup rapat dengan bunyi klik yang berat, mengunci seluruh kebisingan dunia luar, sisa-sisa kilatan kamera jurnalis, serta riuh berita kampus yang perlahan mulai mereda. Keheningan di dalam ruangan mewah ini terasa teramat manis dan menenangkan, seolah setiap sudut ruangan ikut merayakan kemenangan mutlak yang baru saja kami raih di meja rektorat pagi tadi.
Aku melepaskan sepatu hak tinggiku dengan gerakan lambat, melangkah di atas lantai kayu yang hangat dengan helaan napas lega yang membuncah begitu dalam dari dasar dadaku. Beban berat dan rasa tegang yang selama bertahun-tahun tanpa ampun mengikat leherku kini telah menguap sepenuhnya tanpa sisa. Lennox sudah mendekam di dalam sel tahanan kepolisian, proses hukumnya berjalan mulus tanpa ada satu pun celah untuk meloloskan diri, dan namaku kini telah bersih total di hadapan seluruh civitas akademika.
Di sisi lain ruangan, North melepas jas hitam custom-tailored miliknya dengan tenang, menyampirkannya begitu saja di sandaran sofa kulit, lalu melonggarkan ikatan dasinya dengan gerakan maskulin yang begitu elegan. Mata hazel-nya yang tajam melirik sekilas ke arahku yang kini berdiri terpaku di dekat dinding kaca besar, menatap pijar matahari sore yang mulai memerah di ufuk barat kota.
Tanpa mengeluarkan suara langkah kaki, ia melangkah mendekatiku dalam remang senja. Kedua tangannya yang kokoh tiba-tiba merayap dari belakang, melingkari pinggangku dengan rapat dan menarik tubuhku agar bersandar sempurna ke d**a bidangnya.
"Bagaimana rasanya, Mindy? Setelah semua badai ini akhirnya berhenti?" bisik North rendah tepat di belakang telingaku, suaranya mengalun lembut namun membuai. Aroma khas vanilla tobacco bercampur parfum kayu mahalnya seketika memenuhi seluruh indraku, memberiku kepastian akan rasa aman yang tiada tanding bandingannya di dunia ini.
Aku memejamkan mata sejenak, menyandarkan kepalaku di lekuk bahunya yang kokoh, lalu menyunggingkan senyuman lega paling tulus yang pernah kuberikan setelah sekian lama hidup di bawah teror. "Terasa... bagaikan mimpi, Daddy. Aku sempat berpikir kalau aku akan terperangkap dalam sangkar ketakutan itu selamanya."
North tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia merendahkan kepalanya, menanamkan ciuman hangat yang teramat lembut di kulit leherku, lalu mengusap rahangku dengan ibu jarinya yang kasar namun menenangkan.
"Aku sudah berjanji padamu sejak hari pertama kamu melangkah masuk ke dalam hidupku," bisik North serak, suaranya sarat akan klaim posesif yang mutlak dan tidak lagi perlu disembunyikan di hadapanku. "Selama kamu berada di bawah lindunganku, tidak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang diizinkan untuk menyakitimu. Dan sekarang, Lennox benar-benar bukan siapa-siapa lagi; dia hanyalah masa lalu yang sudah hancur lebur."
"Aku masih tidak menyangka dia benar-benar nekat menggunakan adiknya untuk menjatuhkanku, Daddy," kataku pelan, menatap lurus ke luar jendela kaca. "Bagaimana kalau kemarin dekanat percaya pada fitnah murahan itu?"
North mendengus pelan, mengecup puncak kepalaku sekilas. "Mereka tidak akan pernah punya kesempatan untuk percaya, Mindy. Aku sudah memegang kendali penuh atas dewan komisaris dan komite universitas jauh sebelum Lennox merencanakan kebodohan itu. Dia hanya tikus kecil yang mencoba melawan gajah."
"Tapi tetap saja... aku merasa bersalah karena menyeretmu ke dalam masalah rumah tanggaku yang rumit," gumamku lirih, jemariku meremas tepi kain kemejanya.
North menghentikan usapannya, lalu membalikkan tubuhku agar menghadapnya secara langsung. Kedua tangannya menangkup wajahku erat-erat, memaksa manik mataku menatap manik hazel-nya yang menyala tajam.
"Dengarkan aku baik-baik, Mindy," ucap North dengan nada otoritatif yang membuat bulu kudukku berdiri. "Kamu tidak pernah menyeret siapa pun. Kamu adalah pilihanku, dan segala kekacauan yang datang bersamamu adalah bagian dariku sekarang. Jangan pernah ucapkan kalimat bodoh itu lagi, mengerti?"
Aku menelan ludah, terbuai oleh tatapan posesif yang teramat dalam itu. "Iya, Daddy... aku mengerti."
"Bagus," geram North rendah, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang memikat. "Sebagai hukumannya karena kamu masih meragukan posisimu di sisiku, kamu harus menjawab satu pertanyaanku dengan jujur."
"Pertanyaan apa?" tanyaku gugup, merasakan debaran jantungku mulai menggila saat jarak wajah kami semakin terkikis.
"Apakah setelah ini kamu masih punya niat untuk kabur atau mencoba menyelesaikan masalahmu sendiri tanpa melibatkan aku?" selidik North tajam, matanya menatap menembus dasar mataku.
Aku menggeleng cepat tanpa berpikir dua kali. "Tidak, Daddy. Aku tidak akan pernah mau pergi darimu. Aku ingin tetap di sini, di sisimu selamanya."
"Pilihan yang sangat bijak, anak pintar," bisik North puas. "Karena kalau sampai kamu berani berpikir sebaliknya, aku akan mengurungmu di sini dan memastikan tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa melihatmu lagi."
Aku tersenyum kecil mendengar ancaman manis itu. "Aku tahu, Daddy. Aku sudah sepenuhnya milikmu."
"Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu, Mindy," timpal North bersungguh-sungguh. "Mulai hari ini, hidupmu adalah prioritasku, dan tidak ada ruang bagi siapapun untuk mengusik kebahagiaan kita."
"Apa Daddy berjanji kita bisa hidup tenang setelah ini?" tanyaku penuh harap, menyandarkan daguku di dadanya.
North mengangguk mantap. "Janji, Sayang. Tidak akan ada lagi bayang-bayang masa lalu yang mengganggu tidurmu. Kita akan membuka lembaran baru yang jauh lebih indah."
"Aku memegang janji itu, Daddy," bisikku lirih penuh keyakinan. "Lalu, apa rencana kita untuk besok? Apakah aku sudah bisa kembali fokus ke laboratorium?"
North terkekeh pelan mendengar antusiasku. Ia merapikan helaian rambutku yang berantakan ke belakang telinga. "Besok kamu bebas melakukan apa pun yang kamu suka, Sayang. Tapi ingat, tidak ada pekerjaan berat sampai sidang tesis gelarmu resmi selesai minggu depan."
"Baik, Daddy. Aku akan mendengarkan semua aturanmu," jawabku patuh sambil tersenyum manis. "Tapi, bolehkah aku meminta satu hal lagi?"
North menaikkan sebelah alisnya, menatapku penuh antisipasi. "Katakan, apa yang diinginkan gadis penurutku ini?"
"Aku ingin... kita menghabiskan akhir pekan ini hanya berdua saja di dalam penthouse," pintuku malu-malu, meremas pelan kemejanya. "Tanpa gangguan dari luar, tanpa urusan kampus, dan tanpa bayang-bayang siapa pun."
North terdiam sejenak, lalu senyuman paling hangat terukir di bibirnya. Ia mendekapku semakin erat hingga tak ada celah di antara tubuh kami. "Tanpa diminta pun, itulah memang yang sudah kurencanakan, Mindy. Akhir pekan ini sepenuhnya milik kita."
"Terima kasih, Daddy," bisikku bahagia, membenamkan wajahku di d**a bidangnya yang hangat.
"Anak baik," puji North lembut, mengecup singkat ujung hidungku. "Sekarang, bagaimana kalau kita memesan makan malam kesukaanmu? Kamu melewatkan makan siang karena ketegangan di rektorat tadi."
"Ah, benar juga. Perutku malah baru terasa lapar sekarang," kataku malu-malu sambil memegang perut rataku.
North tersenyum hangat, menampilkan sisi lembutnya yang hanya bisa kulihat saat kami berada dalam keintiman seperti ini. "Kalau begitu, duduklah di sofa. Biar aku yang mengurus semuanya."
Ia memajukan wajahnya sekali lagi, menyatukan bibir kami dalam sebuah ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh penguasaan sebelum akhirnya melangkah meninggalkanku menuju area dapur. Seluruh keraguan, rasa lelah, dan sisa-sisa ketakutan di dalam diriku melebur seketika, terbakar habis oleh kehangatan pelukan pria yang kini menjadi seluruh duniamu.