Langkah kaki kami bergema penuh ketegasan di sepanjang lantai marmer gedung rektorat utama yang megah. Pagi ini, North tampil begitu memukau dan mengintimidasi dengan setelan jas hitam custom-tailored yang melekat sempurna pada tubuh atletisnya, sementara aku berjalan di sampingnya dengan kepala tegak, mengenakan kemeja formal putih bersih dan rok selutut yang rapi. Di belakang kami, dua pengacara senior dari tim hukum North membawa tas dokumen tebal berbahan kulit berisi seluruh bukti kejahatan digital, rekayasa informasi, dan kekerasan yang dilakukan oleh Lennox.
Pintu ruang rapat rektorat utama terbuka lebar saat kami mendekat. Di dalam ruangan berpendingin udara itu, Rektor, Dekan Fakultas, serta beberapa jajaran dewan etik kampus sudah duduk menanti dengan ekspresi serius. Di sudut ruangan lain, Lennox duduk di kursi kayu dengan wajah tegang, dikelilingi keringat dingin, didampingi oleh adiknya yang tampak gelisah sejak kami melangkah masuk.
"Selamat pagi, Pak Rektor, Pak Dekan, dan seluruh Anggota Dewan Etik," sapa North dengan suara bariton yang berat dan tenang, namun langsung mendominasi seluruh ruangan seketika.
"Selamat pagi, Pak North, Mbak Mindy. Silakan duduk," sahut Rektor bijak sambil mengangguk sopan, memberi isyarat agar kami mengambil tempat di sisi meja seberang tempat Lennox berada.
Lennox menatapku sekilas dengan sorot mata penuh amarah dan kebencian yang amat dalam, namun saat manik matanya tidak sengaja beradu dengan tatapan hazel North yang dingin dan membekukan, pria itu refleks membuang muka, menciut di bawah aura d******i kekasihku.
"Kita berkumpul pagi ini secara darurat untuk menyelesaikan kabar miring, fitnah, dan aduan dari Saudara Lennox terkait tuduhan pelanggaran kode etik akademis," buka Rektor memulai sidang internal tersebut. "Pak North, sebagai pihak yang namanya ikut terseret dalam laporan itu, apakah ada hal yang ingin Anda jelaskan?"
North tidak langsung menjawab dengan kata-kata manis atau pembelaan emosional. Ia hanya melirik sekilas ke arah tim hukumnya dengan tenang. Pengacara senior kami, Hendra, langsung berdiri dan membagikan salinan dokumen tebal ke hadapan Rektor dan seluruh dewan etik.
"Terima kasih, Pak Rektor atas kesempatannya," ujar Hendra mantap. "Sebelum pihak kami menanggapi tuduhan tidak berdasar tersebut, kami ingin menyerahkan hasil audit forensik digital resmi dari Kepolisian Sektor Kota. Akun anonim yang sengaja menyebarkan fitnah skandal akademis di media sosial kampus kemarin terbukti secara sah diproduksi, disebarkan, dan diiklankan menggunakan rekening bank pribadi atas nama adik kandung dari Saudara Lennox."
Brak!
Adik Lennox tersentak kaget di kursinya hingga tak sengaja menyenggol cangkir teh di meja. Wajah Lennox seketika berubah pucat pasi seperti mayat hidup, kehilangan seluruh darah dari wajahnya.
"Tidak hanya fitnah tercela yang bertujuan untuk mencemarkan nama baik lembaga pascasarjana ini," lanjut Hendra dengan suara tegas yang membelah keheningan, "kami juga menyerahkan bukti transaksi keuangan ilegal milik perusahaan fiktif Saudara Lennox, serta laporan kepolisian resmi atas tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga dan penganiayaan fisik terhadap klien kami, Mbak Mindy."
Suasana ruang rapat mendadak senyap bak kuburan. Rektor dan para anggota dewan etik membuka halaman demi halaman dokumen tersebut dengan dahi berkerut sangat tajam, membaca setiap butir bukti kejahatan yang tertera nyata.
"Saudara Lennox!" tegur Rektor dengan nada bicara yang sangat kecewa, berat, dan dipenuhi amarah tertahan. "Anda tidak hanya mencoba mencemarkan nama baik pimpinan riset dan universitas ini melalui rekayasa digital yang kotor, tapi Anda juga mencoba menggunakan institusi pendidikan ini untuk menutupi tindakan pidana busuk yang Anda lakukan di luar sana!"
"Pak Rektor... jangan percaya pada mereka! Ini semua fitnah! Tim hukum mereka memanipulasi seluruh bukti ini!" jerit Lennox panik, berdiri dari kursinya sambil mencoba membela diri dengan suara yang bergetar hebat dan putus asa.
"Jaga ucapan Anda, Saudara Lennox," sergah Rektor dengan tatapan menghunus tajam. "Dokumen resmi dari kepolisian dan bank tidak mungkin bisa direkayasa semudah yang Anda tuduhkan."
"Betul sekali, Pak Rektor," tambah Dekan Fakultas dengan nada suara yang tak kalah dingin. "Nama baik universitas ini telah dicoreng oleh ulah Anda yang menyebar informasi palsu demi kepentingan pribadi. Dan sebagai lembaga akademik, kami tidak akan pernah mentolerir tindakan kriminal semacam ini."
Lennox menelan ludahnya susah payah. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ia melirik tajam ke arahku, seolah ingin menerkamku hidup-hidup andai saja North tidak duduk tepat di sampingku dengan tatapan mematikan yang siap menghancurkannya detik itu juga.
"Mindy..." panggil Lennox dengan suara bergetar pilu, mencoba memancing iba dengan tatapan memohon yang menjijikkan. "Kamu tahu aku suamimu... Cabut laporan ini, Mindy. Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik di rumah..."
Sebelum aku sempat membuka mulut untuk membalas tatapannya, North sudah lebih dulu bergerak. Ia bangkit berdiri perlahan, merentangkan sebelah lengannya di belakang kursiku, menatap Lennox bagaikan seekor singa yang siap merobek mangsanya.
"Jangan pernah menyebut namanya lagi, Lennox," ucap North rendah, penuh penekanan yang membuat sekujur ruangan merinding. "Wanita ini bukan lagi milikmu sejak hari pertama kau berani menyakitinya. Dan sekarang, hak atas hidupnya sepenuhnya berada di bawah perlindunganku."
Lennox tertegun, napasnya memburu tak beraturan, menyadari bahwa kehadirannya di ruangan itu benar-benar sudah berada di ujung tanduk tanpa ada satu pun celah untuk melarikan diri.
North sama sekali tidak terusik. Ia kembali bersandar santai di kursinya, menyilangkan kakinya dengan penuh keanggunan seorang pria yang memegang kendali mutlak atas situasi. Ia menatap Lennox dengan senyuman pualam yang teramat dingin.
"Pihak kepolisian sudah berada di luar pintu ruangan ini, Lennox," potong North rendah. Suaranya tidak perlu dinaikkan, namun cukup membuat seluruh tubuh Lennox membeku seketika di tempatnya. "Surat penahanan resmi atas kasus fitnah pencemaran nama baik, peretasan data internal institusi, dan kekerasan fisik sudah diterbitkan. Kamu bisa menjelaskan seluruh kebohonganmu itu langsung di hadapan para penyidik."
Seolah menjadi aba-aba, pintu ganda ruang rapat mendadak terbuka lebar dari luar. Tiga petugas kepolisian berseragam lengkap melangkah masuk dengan langkah tegap, langsung berjalan lurus ke arah Lennox dan adiknya.
"Saudara Lennox, Anda kami tahan atas dugaan pelanggaran Undang-Undang ITE, pencemaran nama baik, dan pasal penganiayaan," tegas petugas kepolisian seraya mengeluarkan sepasang borgol berkilau dari pinggangnya.
Lennox tersungkur lemas saat ditarik paksa berdiri oleh petugas. Sebelum tangannya diborgol, ia menatapku dengan mata yang membelalak lebar, dipenuhi rasa ketakutan, penyesalan, dan penderitaan yang amat sangat—sebuah pemandangan yang teramat kontras dengan sosok monster kejam yang selama lima tahun ini selalu menindas dan mengurungku dalam sangkar ketakutan.
"Tolong... jangan borgol saya... saya bisa jelaskan..." rintih Lennox putus asa saat borgol besi dingin itu melingkar erat di pergelangan tangannya. Adiknya yang berada di sebelah turut diseret oleh petugas lain tanpa bisa memberikan perlawanan berarti.
Aku menatapnya balik dengan d**a yang bidang dan tegak, tanpa menyisakan sedikit pun rasa kasihan di dalam hatiku. Rantai yang mengekangku selama bertahun-tahun kini telah hancur berkeping-keping, menyisakan kelegaan yang teramat agung.
Saat Lennox dan adiknya diseret keluar ruangan dalam kehancuran mutlak dan tangis kepanikan, North kembali bangkit dari duduknya. Di hadapan Rektor dan seluruh jajaran dewan etik yang terpukau menyaksikan ketegasan mutlak itu, North merangkul pinggangku dengan erat dan penuh kepemilikan, menegaskan pada seluruh dunia bahwa ia adalah satu-satunya pelindungku yang tak tergoyahkan.
"Semuanya sudah benar-benar selesai, Mindy," bisik North serak tepat di daun telingaku, suaranya melembut penuh kehangatan saat merengkuhku dalam dekapannya. "Pria pengecut itu tidak akan pernah bisa menyentuh atau mengganggumu lagi selama sisa hidupmu."