Layar laptop di atas meja kerja North membiaskan pendar cahaya keperakan di tengah temaram ruang tengah. Di hadapan kami, seorang pria berkacamata dengan kemeja kasual—asisten ahli IT kepercayaan North—sedang jemarinya menari cepat di atas papan ketik, memproses kode-kode rumit untuk melacak sumber ancaman fitnah yang baru saja menghantam media sosial kampus.
"Pengunggah pertama unggahan anonim itu memang menggunakan Virtual Private Network dan akun bodong, Pak North," ujar asisten IT itu seraya memutar layar laptop agar menghadap langsung ke arah North. "Tapi mereka ceroboh. Tim kami berhasil melacak balik alamat IP-nya. Jejak transaksi digital pembayaran untuk mengiklankan unggahan tersebut justru berasal dari rekening bank atas nama adik kandung Lennox sendiri."
Aku yang duduk di samping North menghela napas pendek, merasakan gelombang rasa jijik sekaligus amarah bergemuruh di d**a. Lennox benar-benar menggunakan segala cara kotor dan melibatkan keluarganya demi menjatuhkanku dan menghancurkan reputasi North. Pria itu sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya akibat dikuasai ego yang teramat besar.
North tidak tampak terkejut sedikit pun. Sudut bibirnya justru terangkat tipis, membentuk senyuman dingin yang teramat mematikan dan berbahaya.
"Sudah kuduga tikus-tikus itu tidak pernah bisa bermain bersih," sahut North rendah dengan intonasi yang tenang namun mengintimidasi. Ia melirik asisten IT-nya sekilas. "Kirimkan seluruh bukti jejak digital ini, ditambah bukti transaksi keuangan ilegal milik bisnis keluarga Lennox yang sudah kita kumpulkan kemarin, langsung ke divisi hukum dekanat dan pihak kepolisian."
"Baik, Pak North. Saya laksanakan sekarang," jawab asisten itu tegas sambil merapikan posisinya. "Dalam satu jam, seluruh unggahan fitnah di forum kampus akan diturunkan secara resmi oleh tim moderasi atas perintah langsung dari Dekan."
"Bagus. Pastikan tidak ada satu pun jejak yang tersisa, dan laporkan jika ada pergerakan mencurigakan dari pihak mereka," perintah North dengan nada mutlak sebelum asisten tersebut menutup laptopnya, merapikan tas kerjanya, dan pamit keluar dari unit penthouse.
Setelah pintu depan tertutup rapat dan mengunci kami dalam kesunyian, suasana kembali hening. Aku menatap North yang kini menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya, memijat pelan pangkal hidungnya. Meskipun pria itu tampak tenang tanpa cela, aku tahu North telah bekerja tanpa henti sejak semalam demi memastikan namaku dan karier akademisku tidak tercoreng oleh skandal murahan itu.
Aku melangkah pelan mendekatinya, lalu berlutut di samping kursinya yang berputar. Tanganku yang gemetar terulur menyentuh jemarinya yang dingin, mengusap punggung tangannya dengan sangat lembut.
"North... maafkan aku," bisikku pelan, rasa bersalah kembali mendadak menekan dadaku hingga terasa sesak. "Gara-gara aku dan masalah rumah tanggaku dengan Lennox yang belum tuntas, namamu jadi terseret dalam skandal kotor seperti ini di kampus."
North menghentikan pergerakannya. Mata hazel-nya yang tajam langsung berbalik menatapku lekat-lekat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menenangkanku secara verbal, ia menyambar pinggangku dengan sebelah tangan, mengangkat tubuhku dengan begitu mudah, dan mendudukkanku langsung di atas pangkuannya.
Aroma khas vanilla tobacco dan kehangatan tubuhnya yang maskulin seketika mengepung seluruh indraku, membuat duniaku menyempit hanya pada figur pria di hadapanku ini.
"Jangan pernah, sekali pun, meminta maaf untuk hal yang bukan merupakan kesalahanmu, Mindy," geram North rendah, suaranya sarat akan d******i yang mutlak dan tak terbantahkan. Jemarinya yang hangat merayap naik, menangkup rahangku rapat-rapat. "Lennox menyerangku lewat cara pengecut seperti itu bukan karena dia peduli padamu, tapi karena dia tahu persis bahwa dia tidak akan pernah bisa mengalahkanku secara jantan."
"Tapi bagaimana kalau dekanat atau rektorat tetap memberikan sanksi administratif karena rumor ini telanjur menjadi konsumsi publik, Daddy?" tanyaku cemas, air mataku kembali menggenang di pelupuk mata. "Bagaimana kalau mahasiswa lain terus membicarakanku di belakang?"
"Tidak akan ada sanksi apa pun, Sayang," jawab North tegas, ibu jarinya mengusap lembut bulir air mata di pipiku. "Pihak rektorat tunduk pada aturan dan fakta hukum, bukan pada gosip murahan yang diciptakan oleh pengutil pecundang. Aku adalah salah satu pemegang pengaruh terbesar di sana, dan posisiku tidak akan goyah hanya karena ulah anak kecil yang sedang mengamuk."
"Aku hanya takut... ini akan mempengaruhi sidang tesisku minggu depan," gumamku lirih, menundukkan kepala. "Bagaimana kalau penguji lain bersikap subjektif padaku?"
North mengangkat daguku kembali, memaksa mataku menatap manik matanya yang penuh keyakinan. "Sidangmu akan tetap berjalan sesuai rencana, dan tidak ada satu orang dosen pun di kampus itu yang berani memberikan nilai di bawah standar kesempurnaan untukmu. Aku sendiri yang akan memastikan posisimu aman."
"Benarkah? Daddy serius?" tanyaku takjub, sedikit rasa lega mulai merayap di dadaku.
"Tentu saja," bisik North menyunggingkan senyum miring yang memikat. "Dengan begitu, aku bisa memastikan tidak ada satu pun penguji lain yang berani macam-macam atau bertanya hal di luar materi risetmu."
"Daddy curang," protesku kecil, meski bibirku kini sudah mulai membentuk senyuman tipis berkat caranya menghiburku.
"Bukan curang, Mindy. Ini namanya memastikan investasi dan aset berhargaku aman di bawah pengawasanku sendiri," ralat North tenang namun penuh klaim mutlak yang membuat pipiku merona panas.
"Aset berharga?" kataku pelan, menundukkan pandangan karena malu.
"Ya, kamu," jawab North tanpa ragu, suaranya melembut namun tetap memancarkan otoritas penuh. "Dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang diizinkan merusak apa yang sudah menjadi milikku."
"Apa Daddy yakin tindakan kita ini tidak akan membuat keluarga Lennox semakin nekat?" tanyaku ragu, jemariku merayap naik menyentuh kerah kemejanya. "Maksudku... mereka tahu pengaruhmu sangat besar, tapi orang yang terdesak sering kali melakukan hal-hal yang tidak masuk akal."
North mendengus pelan, sebuah tawa kecil yang terdengar sinis dan meremehkan lolos dari bibirnya. "Biarkan mereka nekat, Mindy. Semakin nekat langkah yang mereka ambil, semakin cepat pula lubang kubur yang mereka gali untuk diri mereka sendiri. Aku tidak pernah takut menghadapi pecundang."
"Tapi aku tetap khawatir keselamatanmu, Daddy," ucapku jujur, manik mataku menatapnya penuh cemas. "Aku tidak sanggup lagi jika harus kehilangan tempat berlindung atau melihatmu terluka karena aku."
Mendengar ucapanku, sorot mata North yang tadinya tajam dan penuh amarah mendadak melunak. Ia merengkuh punggungku lebih erat, mendekapku hingga dadaku bergesekan langsung dengan debaran jantungnya yang kokoh.
"Dengarkan aku, Mindy," bisik North sangat dekat di telingaku, suaranya berubah menjadi bariton yang begitu menghanyutkan. "Selama aku bernapas, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang bisa menyentuhku, apalagi melukaimu. Kamu adalah tanggung jawabku sekarang. Keamananmu adalah harga diri mutlak bagiku."
"Terima kasih, Daddy..." gumamku lirih, merasakan pertahanan terakhir di hatiku runtuh sepenuhnya untuk pria ini.
Ia merendahkan kepala, mendaratkan ciuman yang dalam, menuntut, dan tegas di bibirku, mengunci seluruh napas dan keraguan yang sempat membayang di benakku. Sentuhan bibirnya yang posesif membakar habis sisa rasa bersalahku, menyisakan kepasrahan mutlak di dalam pelukannya yang kokoh.
"Hngh... Daddy..." rintihku pelan saat bisikan dan usapan hangatnya merayap turun ke tepi leherku, membuat sekujur tubuhku melemas seketika di atas pangkuannya.
"Tatap mataku, Mindy," perintah North serak, menghentikan ciumannya tepat beberapa senti di depan wajahku, memaksa manik mataku tenggelam dalam manik matanya. "Besok pagi, kamu dan aku akan datang langsung ke rektorat bersama tim hukum lengkap. Kita tidak hanya akan membersihkan namamu dari fitnah murahan itu, tapi kita akan memastikan Lennox dan orang-orang yang membantunya kehilangan semua hal yang pernah mereka banggakan."
Aku menatap pendar gelap dan penuh kekuasaan di matanya, merasakan getaran kekuatan yang luar biasa yang membuatku percaya bahwa bersama pria ini, tidak ada satu pun badai di dunia ini yang mampu menghancurkanku lagi.
Aku mengangguk yakin dalam dekapannya, melingkarkan kedua lengannya erat-erat di lehernya. "Iya, Daddy... aku percaya padamu. Aku akan menghadapi semuanya di sisimu tanpa rasa takut lagi."