Ruang tengah penthouse pagi itu mendadak berubah menjadi ruang rapat yang teramat formal. Dua pria berjas hitam dengan tas dokumen berbahan kulit mahal duduk di sofa berseberangan dengan tempat duduk North. Mereka adalah tim kuasa hukum terbaik di kota yang sengaja didatangkan North untuk menangani seluruh proses pemutusan hubungan hukum antara aku dan Lennox.
Aku duduk di samping North, mengenakan gaun terusan kasual berawarna abu-abu netral. Genggaman tangan North di jemariku terasa hangat, menjadi satu-satunya jangkar yang menahanku agar tidak hanyut dalam rasa cemas.
"Berdasarkan rekam medis dari pemeriksaan luka luar di pipi dan bahu Mbak Mindy, ditambah dengan rekaman pesan ancaman serta kesaksian dari pihak kampus, gugatan cerai atas dasar tindakan kekerasan dan intimidasi sudah sangat solid," ujar pengacara senior bernama Hendra seraya menggeser berkas dokumen ke depanku. "Kami bisa mendaftarkan gugatan ini ke Pengadilan Agama sore ini juga."
Melihat lembaran kertas bertuliskan Gugatan Perceraian di hadapanku membuat dadaku berdesir hebat. Selama lima tahun, aku merasa ikatan pernikahan dengan Lennox adalah rantai mati yang tak akan pernah bisa kubuka. Namun, di bawah kekuasaan dan proteksi North, rantai itu kini siap dipatahkan hanya dalam hitungan hari.
"Pastikan prosesnya berjalan secepat mungkin, Hendra," suara North memecah keheningan. Nadanya tenang, namun mengandung perintah mutlak. "Aku tidak mau pria itu mengulur waktu atau mencoba membuat alasan untuk memanggil Mindy ke persidangan secara langsung."
"Baik, Pak North. Pihak kami yang akan mewakili Mbak Mindy secara penuh di setiap persidangan," sahut Hendra patuh sebelum mengumpulkan kembali berkas-berkas tersebut ke dalam tasnya.
"Apakah ada hal lain yang perlu saya perhatikan terkait aset atau barang pribadi saya yang masih tertinggal di rumah itu, Hendra?" tanyaku ragu, memberanikan diri bersuara di tengah ketegangan ruangan.
Hendra menatapku sekilas sebelum beralih ke arah North. "Semua inventaris dan barang pribadi Mbak Mindy sudah didata oleh tim investigasi kami. Tim khusus akan mendampingi pengambilan barang tersebut besok lusa dengan pengawalan ketat, jadi Mbak Mindy sama sekali tidak perlu menginjakkan kaki ke sana."
"Bagus," timpal North singkat dengan nada dingin. "Pastikan tidak ada satu pun barang peninggalannya yang tertinggal, termasuk dokumen akademik."
Setelah tim pengacara pamit mundur dan meninggalkan unit penthouse, suasana hening kembali melingkupi ruangan. Aku menyandarkan kepalaku di bahu kokoh North, melepaskan napas lega yang panjang.
"Sebentar lagi semuanya benar-benar selesai, Daddy," bisikku pelan, mencoba menepis sisa-sisa bayangan kelam yang sempat menghantui.
North merangkul pinggangku rapat-rapat, mendaratkan ciuman dalam di puncak kepalaku. "Bukan hanya selesai, Mindy. Ini adalah awal di mana kamu sepenuhnya bebas dari bayang-bayang pria pengecut itu."
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Ponsel North yang diletakkan di atas meja kaca mendadak bergetar intens. Nama Dekan Fakultas tertera di layar datar perangkat tersebut.
North mengangkat panggilan itu, menyalakan mode pengeras suara agar aku bisa mendengarnya.
"Pak North," suara Dekan terdengar agak panik dan tergesa di seberang telepon. "Anda harus lihat forum diskusi internal mahasiswa dan media kampus sekarang. Ada akun anonim yang baru saja mengunggah foto-foto Anda bersama Mindy di area parkir dan lorong gedung pascasarjana."
Mendengar hal itu, darahku seketika berdesir dingin. Tanganku gemetar meremas kemeja North, sementara rasa panik langsung merayap naik ke tenggorokanku.
"Apa isi unggahannya, Pak Dekan?" tanya North dengan nada dingin yang teramat stabil, tanpa sedikit pun riak kepanikan di wajahnya.
"Akun itu menuduh Anda melakukan penyalahgunaan wewenang dan terlibat hubungan gelap dengan mahasiswa bimbingan Anda demi nilai riset," jawab Dekan dengan hembusan napas berat. "Meskipun kita tahu itu omong kosong, rumor ini mulai menyebar cepat di antara mahasiswa. Saya menduga ada pihak luar yang sengaja membiayai penyebaran rumor kotor ini."
Aku menutup mulutku dengan telapak tangan, air mata kecemasan mendadak menumpuk di pelupuk mataku. Lennox! Pria itu tahu dia kalah di jalur fisik dan hukum, jadi dia memilih cara kotor untuk merusak reputasi North dan mematikan karier akademisku di kampus!
"Bagaimana ini, Daddy?" kataku ketakutan, jemariku mencengkeram lengan kemeja North erat-erat. "Mereka menyerang reputasimu gara-gara aku..."
North tidak menjawab berbelit-belit. Mata hazel-nya menyipit tajam, memancarkan aura d******i yang teramat berbahaya.
"Jangan khawatir, Sayang," ucap North menenangkan, meskipun rahangnya mengeras karena amarah yang tertahan. Ia beralih kembali berbicara ke ponsel. "Pak Dekan, abaikan saja untuk sementara. Jangan keluarkan klarifikasi apa pun sebelum saya instruksikan."
"Tapi reputasi fakultas dan nama baik Anda—"
"Biarkan rumor itu bergulir selama beberapa jam, Pak Dekan," sahut North dingin seraya mengepalkan tangannya di atas meja. "Tim IT dan divisi hukum saya akan melacak pemilik akun anonim itu dalam hitungan jam. Dan siapa pun yang berada di balik serangan kotor ini... akan memastikan dirinya menyesal pernah mengenal nama saya."
"Apakah Daddy yakin tim IT bisa melacaknya secepat itu?" tanyaku cemas, air mataku menetes membasahi punggung tangannya. "Bagaimana kalau akun itu menggunakan VPN atau identitas palsu?"
North menoleh menatapku, ibu jarinya bergerak mengusap lembut pipiku dengan gerakan yang menenangkan namun penuh otoritas. "Mindy, dengar suaraku. Di kota ini, tidak ada satu pun server atau jaringan anonim yang bisa menyembunyikan identitas seseorang dari jangkauanku jika aku sudah memerintahkannya. Percaya padaku."
"Tapi... bagaimana kalau mahasiswa lain telanjur percaya pada fitnah murahan itu?" suaraku bergetar hebat, rasa bersalah kembali menghantam batinku. "Aku tidak ingin karier mengajarmu hancur karena aku."
"Karierku tidak akan pernah bisa dihancurkan hanya oleh ulah seekor tikus got yang sedang sekarat," balas North dingin tanpa keraguan sedikit pun di matanya. "Biarkan mereka bicara apa pun yang mereka inginkan hari ini. Besok, saat bukti-bukti kebusukan Lennox terpampang nyata di hadapan publik kampus, mereka semua akan berlutut meminta maaf."
North kembali mendekatkan ponsel ke telinganya, mengabaikan ketakutanku yang belum sepenuhnya reda. "Pak Dekan, pastikan bagian keamanan mengamankan setiap titik akses gedung fakultas. Saya akan tiba di kampus sore nanti setelah divisi hukum saya menyelesaikan berkas pelacakan IP address akun penyebar rumor tersebut."
"Baik, Pak North. Kami akan tindak lanjuti instruksi Anda," jawab Dekan di ujung sana sebelum sambungan telepon diputus secara sepihak oleh North.
North langsung melempar ponselnya ke atas meja sofa, lalu membalikkan tubuhnya menghadapku sepenuhnya. Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya, memaksa manik mataku menatap langsung manik matanya yang tajam dan berwibawa.
"Jangan pernah, sekali pun, meragukan kemampuanku untuk melindungi apa yang menjadi milikku, Mindy," bisik North serak di depan bibirku, suaranya terdengar sangat mematikan namun penuh kehangatan protektif. "Lennox cuma sedang menggali kuburannya sendiri dengan cara paling bodoh. Dan aku pastikan, kali ini dia tidak akan punya jalan keluar lagi."