Sinar matahari pagi menerobos halus lewat celah tirai otomatis penthouse, membiaskan garis-garis cahaya keperakan di atas lantai marmer yang bersih. Hari ini adalah hari pertama sejak Lennox resmi dijatuhi surat peringatan hukum dan dilarang mendekati area kampus. Rasa tenang yang asing memenuhi rongga dadaku saat terbangun tanpa perlu mengkhawatirkan bentakan atau derak langkah kaki yang mengancam.
Aku melangkah keluar dari kamar utama menuju area dapur berkonsep terbuka. Di sana, North sudah berdiri rapi dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung santai, sedang mengamati beberapa lembar dokumen di atas meja bar seraya menyesap kopi hitamnya.
"Pagi, Mindy," sapa North serak tanpa menoleh. Pendengarannya yang tajam selalu tahu kapan aku mendekat.
"Pagi... Daddy," jawabku pelan. Aku berjalan mendekati meja bar, merasa agak canggung dengan gaun tidur sutra panjang berwarna senada yang disiapkan North di lemari kamar.
North meletakkan cangkir kopinya, lalu memutar kursi bar yang kududuki agar menghadap langsung ke arahnya. Mata hazel-nya yang tenang menyapu penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan binar kepuasan yang tak tersembunyi.
"Tidurmu nyenyak semalam, Sayang?" tanya North lembut, jemarinya terulur menyentuh pipiku.
"Sangat nyenyak, Daddy. Tidak ada mimpi buruk atau rasa takut yang mengganggu," akuku jujur, menyandarkan pipiku pada kehangatan telapak tangannya.
North tersenyum tipis, sebuah ekspresi lembut yang hanya ia tunjukkan padaku. "Baguslah. Aku ingin kamu melupakan semua rasa sakit di masa lalu dan mulai terbiasa dengan kenyamanan ini."
"Mulai minggu depan, jadwal bimbingan tesis dan laboratoriummu akan disesuaikan kembali," kata North seraya meraih jemariku dan mengusap punggung tanganku lembut. "Aku sudah menunjuk asisten dosen terbaik untuk mendampingimu di kampus, jadi kamu tidak perlu khawatir berjalan sendirian di lorong fakultas."
Aku menatapnya dengan rasa takjub sekaligus terharu. Pria di hadapanku ini bukan hanya mencabutku dari neraka masa lalu, tetapi juga memastikan setiap helai masa depanku tertata tanpa cela.
"Tapi... apa asisten dosen itu bisa dipercaya, Daddy?" tanyaku ragu, jemariku meremas ujung meja marmer. "Aku takut kalau nanti ada orang lain yang tahu tentang hubungan kita dan mencurigainya."
North terkekeh pelan mendengar kekhawatiranku. Ia menggelengkan kepala perlahan, sorot matanya menenangkan. "Dia adalah orang kepercayaanku yang sudah bekerja di bawah pengawasanku selama bertahun-tahun, Mindy. Dia tahu batas apa yang boleh dan tidak boleh dipertanyakan. Kamu tidak perlu mencemaskan hal sepele itu."
"Aku hanya... merasa semua ini terlalu indah untuk menjadi nyata," bisikku pelan, menundukkan kepala. "Bertahun-tahun hidup di bawah kendali Lennox membuatku terbiasa hidup dalam ketakutan. Dan sekarang, berada di sini bersamamu rasanya seperti mimpi."
North mengangkat daguku dengan sentuhan yang sangat hati-hati, memaksa manik mataku menatap manik matanya yang tajam dan berwibawa. "Ini bukan mimpi, Mindy. Ini adalah realitas barumu. Di bawah perlindunganku, tidak ada satu pun orang yang diizinkan menyakitimu lagi."
"Terima kasih, Daddy... Kamu sudah melakukan terlalu banyak hal untukku," bisikku tulus dengan suara bergetar. "Aku tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikan dan perlindungan yang Daddy berikan."
North menggeleng pelan, ibu jarinya mengusap lembut bibir bawahku. "Kau tidak perlu membalas apa pun, Mindy. Cukup berada di sisiku, patuhi setiap aturan yang kubuat, dan biarkan aku merawatmu. Itu sudah lebih dari cukup."
"Apa Daddy benar-benar tidak keberatan direpotkan oleh urusanku yang rumit ini?" tanyaku lagi, masih menyisakan sedikit rasa tidak enak di d**a.
"Direpotkan?" North mengulang kata itu dengan nada rendah yang terdengar setengah mengintimidasi. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat hingga aroma vanilla tobacco miliknya mengurung indra penciumanku. "Mindy, dengar baik-baik. Melindungi dan menyelesaikan setiap masalahmu adalah hak istimewaku sekarang. Jangan pernah berpikir kau adalah beban."
"Maafkan aku, Daddy... aku hanya kadang merasa insecure dengan masa laluku," kataku lirih, menatap matanya yang memancarkan ketulusan mutlak.
"Simpan permintaan maafmu, Sayang," balas North lembut namun tegas. Ia meraih cangkir teh hangat yang baru disiapkannya untukku, lalu menyodorkannya ke dekat tanganku. "Sekarang minumlah tehmu, biar udara pagi ini tidak membuatmu kedinginan."
Aku mengangguk patuh, menerima cangkir keramik itu dan menyeruputnya perlahan. Kehangatan cairan itu menjalar ke d**a, menyamankan saraf-sarafku yang sempat tegang.
"Mulai minggu depan, jadwal bimbingan tesis dan laboratoriummu akan disesuaikan kembali," lanjut North mengulang topik sebelumnya dengan intonasi yang lebih santai. "Aku sudah menunjuk asisten dosen terbaik untuk mendampingimu di kampus, jadi kamu tidak perlu khawatir berjalan sendirian di lorong fakultas."
"Baik, Daddy. Aku akan mengikuti semua arahanmu," jawabku patuh. "Apakah aku juga boleh mulai kembali merapikan catatan risetku hari ini?"
"Tentu saja, tapi jangan terlalu memforsir dirimu," jawab North bijak. "Kesehatan dan ketenanganmu tetap menjadi prioritas utamaku di rumah ini."
"Baik, Daddy," ucapku tersenyum kecil. "Omong-omong, apa Lennox benar-benar tidak akan bisa mendekatiku lagi lewat jalur hukum?"
North menyesap kopinya sejenak sebelum menatapku lekat-lekat. "Surat pembatasan jarak itu memiliki kekuatan hukum yang sangat mengikat, Mindy. Jika dia melanggar satu langkah saja mendekatimu atau apartemen ini, kepolisian akan langsung menjemputnya tanpa peringatan kedua."
"Mendengarnya membuatku merasa jauh lebih tenang," kataku sambil menghela napas lega. "Selama ini aku selalu merasa gerak-gerikku diawasi."
"Sekarang matanya sudah ditutup rapat, dan tangannya sudah diikat oleh hukum," ucap North tegas, meletakkan cangkirnya di atas meja. "Fokuslah pada masa depanmu, pada penelitianmu, dan padaku."
"Aku mengerti, Daddy," jawabku pelan, merasa perlindungan pria ini begitu nyata dan kokoh.
"Hari ini tidak ada jadwal ke kampus," lanjut North serak tepat di depan bibirku, suaranya berubah menjadi nada yang lebih intim dan menuntut. "Aku mau kamu beristirahat penuh di sini. Nikmati fasilitas rumah ini, dan biarkan aku yang mengurus sisanya."
"Lalu... apa yang akan Daddy lakukan hari ini?" tanyaku penasaran, jemariku tanpa sadar mencengkeram lengan kemejanya.
"Aku akan menyelesaikan beberapa urusan administrasi terkait laporan hukum Lennox di ruang kerja," jawab North tenang. "Tapi tenang saja, aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku ada di sini, bersamamu."
"Aku mau menemanimu di ruang kerja saja, boleh?" tanyaku malu-malu, enggan berpisah jarak darinya barang sejenak pun.
North menyunggingkan senyuman penuh kemenangan. Ia menarik tubuhku turun dari kursi bar hingga berdiri tepat dalam dekapannya, mendekapku begitu erat hingga debaran jantung kami berirama selaras. "Tentu saja, Sayang. Pintunya selalu terbuka untukmu, kapan pun kamu mau."
"Janji ya, Daddy tidak akan meninggalkanku sendirian di ruangan itu?" tanyaku manja, menggenggam erat kerah kemejanya.
"Janji, Mindy," bisik North di ujung kepalaku, memberikan kehangatan yang merasuk hingga ke relung jiwa. "Kau adalah pusat duniaku sekarang."
Aku mengangguk pasrah, meremas kemeja hitam di dadanya, membiarkan diriku sepenuhnya tenggelam dalam kehangatan dan kekuasaan mutlak pria yang kini menjadi pelindung sekaligus pemilik hatiku.