Suara sendok perak beradu dengan piring porselen buatan Jerman milik Lennox berdentang teratur. Satu. Dua. Tiga kali. Suara itu adalah metronom dari neraka kecil yang kusebut rumah tangga—sebuah siksaan psikologis yang berulang tanpa henti di balik dinding-dinding mewah rumah ini.
"Mindy," suara Lennox terdengar datar, bersih dari emosi—jenis suara klinis yang selalu ia pakai sebelum amarahnya meledak dan menghancurkan mentalku berkeping-keping. "Kamu terlalu banyak menaruh ekstrak vanila di adonan adas malam ini. Rasanya seperti pembersih lantai."
Aku tidak mendongak dari piringku, mencengkeram garpu dengan jemari yang mulai memutih karena tekanan. "Rasanya sudah kuukur sesuai resep biasa, Lennox. Tidak ada yang berlebihan."
"Kau berani menjawabku sekarang?" suara Lennox mendadak berubah dingin, mengiris keheningan ruang makan yang megah namun menyesakkan itu. "Kau pikir karena aku mendiamkan kesalahan-kesalahan kecilmu, kau bebas membantah setiap evaluasiku? Pandang aku, Mindy."
Aku tetap menunduk, menolak untuk menatap manik matanya yang kejam. "Aku mendengarmu dari sini, Lennox. Tidak perlu menatapmu untuk tahu kalau kau sedang mencari-cari kesalahan."
Klak!
Lennox membanting garpunya ke atas meja porselen hingga retak tipis. Suara logam yang menghantam keramik itu begitu nyaring di telingaku. Sebelum aku sempat menarik napas, cengkeraman tangannya yang kuat mengunci rahangku, memaksa wajahku mendongak menatap mata kelabu dinginnya yang menyala penuh amarah.
"Lihat mataku kalau aku sedang bicara, Mindy," bisiknya tepat di depan wajahku, napasnya berbau alkohol tajam yang membuat perutku mual. "Kamu pikir karena aku menyimpankan rahasiamu dari keluargamu, kamu bisa berlaku lancang? Kamu tidak lebih dari barang rusak yang beruntung masih kupelihara di rumah ini."
"Lepas... sakit, Lennox," suaraku tercekat di kerongkongan, berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya yang semakin menekan tulang rahangku.
"Sakit?" Lennox mendengus sinis, mencengkeramnya semakin kuat hingga aku meringis tertahan. "Ini peringatan kecil agar kau ingat posisimu. Kau tidak punya siapa-siapa di luar sana selain aku yang menampung hidupmu yang tidak berguna itu."
Ia menghempaskan rahangku begitu saja hingga kepalaku terbentur sandaran kursi kayu yang keras. Rasa panas langsung membakar pipiku, meninggalkan jejak kemerahan yang esok hari pasti akan berubah menjadi lebam kebiruan—seperti lebam-lebam lain yang dengan susah payah kusembunyikan di balik lengan bajuku.
"Aku ada urusan di luar hingga subuh," tambah Lennox seraya berdiri dengan angkuh, mengelap tangannya dengan serbet seolah-olah baru saja menyentuh kotoran. "Jangan bersihkan meja ini. Biarkan sampai kamu belajar cara memasak yang benar."
"Kenapa kau selalu memperlakukanku seperti ini, Lennox? Apa salahku sebesar itu?" gumamku lirih, hampir tak terdengar saat ia melangkah pergi meninggalkan meja makan.
"Karena kau memang pantas mendapatkannya, Mindy. Jangan pernah tanyakan hal bodoh itu lagi," jawab Lennox tanpa menoleh sedikit pun.
Pintu depan terketuk keras saat ia melangkah keluar, diikuti oleh deru mobil sport-nya yang menjauh memecah malam, menyisakan keheningan tebal yang mencekik dadaku hingga nyaris patah. Aku terduduk sendirian di ruang makan yang megah itu, membiarkan air mata turun dalam diam, menelan ludah yang terasa pahit.
Besok harinya, udara ruang kuliah jurusan Arsitektur dan Geometri Molekuler terasa berat oleh aroma kapur dan kelembapan sisa hujan. Aku duduk di barisan ketiga, mengenakan sweater berleher tinggi berbahan wol tebal untuk menyembunyikan bekas cengkeraman Lennox di leherku yang masih berdenyut nyeri.
"Mindy, lo pucet banget sumpah. Lo sakit?" bisik Rian, teman sebangkuku, sambil menatapku cemas dari sebelah meja. "Gue liat dari kemarin lo keliatan tertekan banget. Ada masalah di rumah? Kalau ada cerita aja, jangan dipendam sendiri."
Aku menggeleng pelan, memaksakan seulas senyum kaku untuk menepis kekhawatirannya. "Gak apa-apa, Rian. Cuma kurang tidur gara-gara revisi skripsi struktur bangunan yang belum beres."
"Jangan diporsir, Mind. Mending nanti pas istirahat kita ke kantin, cari yang hangat-hangat biar badan lo agak enakan," balas Rian sebelum perhatian kami berdua teralihkan ke depan kelas.
Seseorang melangkah masuk ke dalam kelas. Langkah kakinya berat, berirama mantap tanpa keraguan sedikit pun, langsung menarik atensi seluruh mahasiswa di ruangan itu.
"Selamat pagi. Saya North."
Suaranya tebal, berat, dan memiliki getaran frekuensi rendah yang anehnya langsung menusuk hingga ke tulang belakangku. Aku mengangkat wajah secara perlahan, menatap pria yang baru saja berdiri di dekat meja dosen dengan wibawa luar biasa.
North berdiri di samping proyektor. Berusia kira-kira 35 tahun—tujuh tahun di atasku. Pundaknya yang bidang membingkai kemeja linen hitam yang lengannya digulung hingga ke siku. Garis rahangnya tajam, dan matanya—mata berwarna hazel gelap yang pekat—memindai seluruh ruangan dengan teliti sebelum akhirnya berhenti tepat di wajahku.
"Pagi ini kita akan membahas tentang kekuatan struktur penopang dalam kondisi ekstrem," ujar North membuka materinya, suaranya menguasai seluruh ruangan tanpa perlu berteriak.
Tatapan North terasa seperti pembedahan yang tenang dan menghujam. Matanya sempat tertahan sepersekian detik di kerah sweater-ku yang terlalu tinggi. Seolah-olah dalam satu detik singkat itu, pria sanggup membaca ketakutan, kerapuhan, dan luka yang kusembunyikan di balik penampilan tenangkudan pakaian tebal yang kukenakan.
"Dalam struktur bangunan," North mulai berjalan mondar-mandir, suaranya mengalun santai namun penuh tekanan, "material yang terlihat paling kokoh dari luar sering kali adalah material yang paling hancur di dalam karena tekanan eksternal yang dipaksakan terus-menerus. Dan ketika ia retak... bukan salah materialnya, tapi salah tangan yang menghancurkannya dari fondasi."
"Ada tanggapan dari barisan tengah mengenai ketahanan beban tekan ini?" tanya North tiba-tiba, manik hazel-nya menatap tajam ke arahku seolah pertanyaannya khusus dialamatkan untuk menguji mentalku.
Aku menelan ludah susah payah, mencoba menguasai suara bergetarku di hadapan tatapannya yang mengintimidasi. "Materi eksternal pasti akan merusak integritas inti kalau tekanannya melewati batas toleransi material itu sendiri, Pak."
North tersenyum tipis, sebuah seringai samar yang nyaris tidak terlihat namun memancarkan daya tarik yang berbahaya. "Jawaban yang sangat bagus. Tekanan berlebih tanpa ruang untuk bernapas pada akhirnya pasti akan menghancurkan material itu dari dalam."
North berjalan perlahan menyusuri lorong antar meja mahasiswa. Saat ia melintas di samping kursiku, aroma tubuhnya terhirup kuat memenuhi penciumanku: campuran kayu cedar, minyak kulit tua, dan sentuhan dingin rempah-rempah yang maskulin.
"Catat poin tadi dengan baik di buku catatanmu, Mindy," bisiknya pelan saat melewati mejaku, suaranya cukup rendah untuk hanya bisa kudengar sendiri.
Ujung jarinya menyapu sudut mejaku dengan sengaja. Gesekan tipis itu menghasilkan bunyi getaran kecil yang membuat seluruh bulu kudukku meremang seketika. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir hidup di bawah teror, ada arus listrik liar yang menembus rasa takutku pada Lennox. Jantungku berdegup kencang tak beraturan, dan tanpa bisa dicegah, aku mendongak, menemukan North sedang menatapku dengan sorot mata yang menyiratkan perlindungan yang sangat berbahaya, membuatku merasa seolah-olah pria itu siap membakar dunia luar demi mengurungku seorang diri.