Langkah kaki kami bergema tenang di sepanjang koridor gedung dekanat yang mulai sepi. Di balik genggaman tangan North yang kokoh, rasa gemetar di jemariku perlahan surut sepenuhnya, menyisakan kelegaan yang luar biasa dalam. Bayangan wajah Lennox yang pucat pasi, murka, namun tak berdaya saat diadang petugas keamanan kampus tadi terus berputar di benakku—sebuah pemandangan memuaskan yang tak pernah kubayangkan akan terjadi selama lima tahun aku terkurung dalam cengkeraman bayang-bayangnya.
Setelah menyerahkan salinan akhir berkas riset langsung ke meja Dekan dan menyelesaikan seluruh prosedur administrasi perpindahan pengawasan laboratorium, North membimbingku kembali ke sedan hitamnya dengan perlindungan penuh. Sepanjang perjalanan pulang menuju penthouse, keheningan di antara kami terasa teramat hangat, seolah udara dingin di luar tidak mampu menembus kenyamanan yang diciptakan pria di sebelahku.
"Kamu tenang sekarang?" tanya North sesekali melirik ke arahku saat lampu merah menyala di persimpangan jalan kota.
"Sangat tenang, Daddy," jawabku jujur, menoleh dan menatap profil wajahnya yang tegas. "Rasanya seperti beban berton-ton di pundakku baru saja diangkat begitu saja."
"Bagaimana perasaanmu setelah melihat reaksinya tadi di kampus?" tanya North lagi dengan nada suara yang terdengar menyelidik, sementara tangannya yang bebas terulur menggenggam jemariku erat-erat.
"Awalnya aku takut, Daddy... Jantungku berdegup kencang karena mengira dia akan berbuat nekat di depan banyak orang," kataku jujur sambil menunduk menatap jemari kami yang saling bertautan. "Tapi begitu aku melihat cara Daddy menghadapinya dengan begitu tenang, berwibawa, dan tanpa celah sedikit pun... rasa takut itu langsung lenyap begitu saja."
North tersenyum tipis, mengeratkan genggaman tangannya di jemariku. "Kamu tidak perlu membuang tenagamu untuk merasa takut pada pria lemah seperti itu, Mindy. Dia hanya tahu cara menggertak saat merasa posisinya terancam dan kehilangan kendali."
"Apa Daddy yakin dia tidak akan mencari cara lain yang lebih licik di belakang kita?" tanyaku ragu, menatap manik matanya penuh rasa penasaran.
"Biarkan dia mencari celah apa pun yang dia inginkan," jawab North mantap. "Tim hukumku sudah memantau setiap pergerakannya. Jika dia berani melangkah lebih jauh, detik itu juga surat penahanan akan langsung menjatuhnya."
"Aku hanya masih merasa tidak percaya bahwa semuanya sudah berakhir," gumamku pelan, mataku mulai terasa panas oleh genangan air mata kelegaan. "Bertahun-tahun aku hidup dalam bayang-bayang ancamannya, berpikir bahwa aku tidak akan pernah bisa keluar dari rumah itu. Aku selalu berpikir tidak ada orang yang cukup kuat untuk melawannya."
North mengulurkan tangannya, ibu jarinya dengan sangat hati-hati menghapus bulir air mata yang nyaris tuntas menetes di pipiku. "Masa lalu yang gelap itu sudah mati, Mindy. Mulai hari ini, kamu tidak perlu lagi menoleh ke belakang atau meragukan tempatmu di sisiku. Pandang aku, dan hiduplah sepenuhnya untukku."
"Ya, Daddy..." jawabku lirih, memejamkan mata sejenak menikmati kehangatan telapak tangannya yang menghapus sisa jejak ketakutanku. "Aku akan melakukan apa pun asal aku bisa tetap berada di sisi perlindunganmu."
"Kau tidak perlu memohon untuk itu, Sayang. Tempatmu di sini sudah mutlak," tegas North rendah, memberikan kepastian penuh yang merengkuh hatiku.
Begitu pintu unit penthouse terkunci rapat di belakang kami, gelombang rasa lelah bercampur kelegaan seketika melingkupi seluruh tubuhku. Aku menyandarkan punggungku pada daun pintu yang tertutup, melepaskan napas panjang yang selama berhari-hari terasa tertahan sesak di d**a.
North meletakkan kunci mobil dan dokumen penting di atas meja konsol marmer, lalu membalikkan badan menghadapku sepenuhnya. Mata hazel gelapnya memindai wajahku dengan intensitas yang begitu pekat dan memuja. Ia melangkah mendekat dengan langkah mantap, mengikis jarak di antara kami hingga bayangan tubuhnya yang tinggi besar mengurungku sepenuhnya.
"Bagaimana rasanya, Mindy?" bisik North rendah, suaranya terdengar begitu intim dalam kesunyian ruangan. Tangannya terulur, jemarinya yang hangat dan berkulit kasar mengusap garis rahangku dengan kelembutan yang kontras dengan auranya yang dominan.
Aku menatap manik matanya lekat-lekat, menyunggingkan senyum tipis yang jujur dari lubuk hatiku. "Terasa... sangat lega. Seperti baru saja keluar dari penjara gelap yang menyesakkan, Daddy."
"Dan sekarang, tidak ada lagi jeruji besi yang bisa mengurungmu," ucap North lembut namun penuh penekanan. "Kamu bebas, Mindy. Bebas untuk bernapas, bebas untuk berkarya, dan bebas untuk menjadi milikku seutuhnya tanpa ada gangguan dari siapa pun."
"Apakah Daddy tidak khawatir kalau suatu hari nanti dia nekat melakukan hal yang lebih berbahaya?" tanyaku ragu, jemariku mencengkeram pelan ujung jas North. "Dia tipe orang yang tidak suka kekalahannya dipertontonkan."
North terkekeh rendah, sebuah tawa dingin yang terdengar sangat percaya diri. "Biarkan dia mencoba merencanakan hal bodoh lainnya. Setiap langkah salah yang dia ambil hanya akan mempercepat kehancurannya sendiri di hadapan hukum. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyentuh atau mengambil apa yang sudah menjadi milikku."
"Daddy sungguh-sungguh yakin tidak akan pernah melepaskanku?" bisikku lagi, menginginkan penegasan ekstra dari bibirnya.
"Melepaskanmu?" North mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung kami saling bersentuhan. "Bahkan dalam mimpimu yang paling liar pun, aku tidak akan pernah melepaskanmu, Mindy. Kau sudah masuk ke dalam wilayahku, dan kau akan tetap di sini selamanya."
Sudut bibir North terangkat perlahan, membentuk senyuman tipis yang sarat akan d******i, kemenangan, dan kepuasan mutlak. Ia merendahkan wajahnya, menyapukan embusan napas hangat beraroma khas vanilla tobacco tepat di kulit leher dan daun telingaku.
"Sudah kukatakan sejak pertama kali kita membahas ini, Sayang," bisik North serak, membuat sekujur bulu kudukku merinding dan aliran darahku berdesir panas. "Pria pengecut itu tidak punya kuasa apa pun atas dirimu sejak hari pertama dia menyakitimu. Sekarang, tidak ada lagi satu pun hal di dunia ini yang bisa memisahkanmu dariku."
Ia menyesap cuping telingaku dengan ciuman yang sangat dalam, basah, dan menuntut, menyalurkan gelombang hangat yang seketika melumerkan sisa-sisa pertahanan terakhir di dalam diriku. Kedua tangan kokohnya merayap turun mencengkeram pinggangku dengan pas, menarik tubuhku makin rapat menempel pada figur bidangnya tanpa menyisakan celah.
"Hngh... North... Daddy..." rintihku pasrah, jemariku refleks mencengkeram erat bahu kemeja kerjanya yang tegap.
"Panggil namaku, Sayang... dan sebutkan siapa pria yang memiliki seluruh sisa hidupmu sekarang," perintah North penuh klaim mutlak dari balik bisikannya yang berat dan mendesak di bibirku.
Aku memejamkan mata rapat-rapat, menyerahkan seluruh sisa akal sehat, kendali, dan masa depanku pada pria berusia tiga puluh lima tahun yang telah menyelamatkan dan meruntuhkan duniaku yang hancur.
"North... Daddy... aku sepenuhnya milik Daddy seorang. Hanya milik Daddy," bisikku bergetar hebat di ambang kesadaran yang melebur.
North mengerang rendah di dalam tenggorokannya, merasa sangat puas atas pengakuan mutlak yang keluar dari bibirku. Ia memelukku semakin erat, mengangkat tubuhku hingga kakiku melingkar di pinggangnya, menandai awal dari babak baru hidupku yang tidak lagi dibayangi ketakutan, melainkan terikat abadi di bawah kekuasaan dan perlindungan penuh pria itu.