Aroma hujan yang membasahi kaca jendela penthouse menemani kesibukanku di meja kerja North pagi itu. Setelah dua hari mengurung diri dan menata ulang fokusku, aku akhirnya berhasil menyelesaikan draf revisi bab terakhir risetku. Di bawah perlindungan North, pikiranku yang dulu selalu dipenuhi ketakutan kini perlahan kembali jernih.
North berjalan mendekat, membawa dua cangkir teh hangat beruap. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang rapi, siap untuk mengajar di kelas pascasarjana siang ini.
"Bagaimana risetmu, Sayang?" tanyanya lembut seraya meletakkan cangkir di samping laptopku.
"Sudah selesai, Daddy," jawabku, menyunggingkan senyum tipis yang jujur. "Semua data revisi yang diminta Dekan sudah kumasukkan tanpa ada yang terlewat."
North mengusap puncak kepalaku dengan jemarinya yang hangat. "Bagus. Siang ini ikut aku ke fakultas. Kita serahkan berkas ini langsung ke meja Dekan agar status akademismu resmi terkunci di bawah pengawasan laboratoriumku."
Aku sempat ragu sejenak, jemariku meremas ujung kaos yang kukenakan. "Tapi... apa tidak apa-apa kalau aku ikut ke sana? Bagaimana kalau dia benar-benar menunggu di sana?"
North mencondongkan tubuhnya, menatapku lekat-lekat hingga napasnya menyapu keningku. "Tidak ada yang perlu kamu takutkan selama kamu berjalan di sampingku, Mindy. Aku sudah mengatur semuanya agar tidak ada satu pun celah baginya untuk mendekatimu. Paham?"
Aku mengangguk pasrah, merasakan ketegasan dan rasa aman yang mengalir dari tatapannya. "Baiklah, aku percaya sama Daddy."
"Anak pintar," puji North pelan, mengecup singkat keningku sebelum menegakkan kembali tubuhnya. "Bersiaplah, kita berangkat sekarang."
Satu jam kemudian, sedan hitam milik North membelah gerimis sore dan berbelok mulus memasuki pelataran gedung pascasarjana. Begitu mobil berhenti di area parkir khusus dosen, jantungku mendadak berdegup kencang tak beraturan. Di dekat tangga utama fakultas, sesosok pria berjaket kulit hitam tampak berdiri gelisah dengan mata memerah menyapu setiap kendaraan yang lewat.
Lennox.
Darahku mendadak berdesir dingin. Pria itu benar-benar nekat datang ke kampus untuk mencariku!
"North... itu dia, itu Lennox," bisikku panik, jemariku meremas tali tas dokumen di pangkuanku hingga buku-buku jariku memutih. "Dia melihat mobil kita..."
North melirik ke arah tangga utama melalui kaca depan. Wajahnya tetap tenang tanpa riak terkejut sedikit pun, namun garis rahangnya mengeras tegas. Tidak ada keraguan di matanya.
"Tetap di dalam mobil sampai aku membukakan pintu untukmu," perintah North rendah dengan nada mengintimidasi yang mutlak. "Jangan lihat ke arahnya, fokus padaku, Mindy."
North mematikan mesin, lalu turun dari mobil dengan langkah tenang namun sangat dominan. Aura berwibawa khas dosen senior sekaligus pria berkekuasaan tinggi memancar kuat dari setiap gerakannya. Lennox yang menyadari keberadaan North langsung berjalan cepat menghampiri, matanya menyala penuh amarah yang meluap-luap.
"Pak North!" bentak Lennox kasar, suaranya yang melengking sukses menarik perhatian beberapa mahasiswa dan staf yang melintas di selasar. "Di mana istri saya?! Saya tahu persis Anda yang sudah menyembunyikan Mindy di tempat pengecut itu! Keluarkan dia sekarang juga!"
North berhenti tepat di depan Lennox tanpa gentar sedikit pun. Perbedaan postur tubuh dan aura di antara keduanya terlihat teramat kontras. North berdiri tegap menjulang, menatap Lennox dari atas ke bawah dengan tatapan dingin dan merendahkan.
"Jaga bicaramu, Saudara Lennox," sahut North dengan suara berat dan tenang yang menggelegar halus namun mematikan. "Ini lingkungan akademis, bukan pasar tempat untuk melampiaskan emosi tak berdasar."
"Jangan berlagak suci di hadapanku!" caci Lennox seraya menunjuk d**a North dengan jarinya yang gemetar hebat karena emosi. "Mindy itu istri sah saya! Anda tidak punya hak sama sekali untuk campur tangan dalam rumah tangga orang lain! Dia harus pulang bersama saya hari ini!"
North menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan cemoohan. "Istri sah? Kau menyebut dirimu suami setelah apa yang kau perbuat padanya selama bertahun-tahun? Kau bahkan sudah kehilangan seluruh hak itu sejak pertama kali kau memperlakukannya seperti sampah."
"Itu urusan rumah tangga kami!" balas Lennox membentak semakin kalap. "Anda tidak berhak mengatur hidupnya!"
"Sebagai kepala tim riset pascasarjana, saya punya hak penuh melindungi mahasiswa saya dari ancaman fisik, teror, dan intimidasi," tegas North dingin, suaranya menekan setiap kata. Matanya menyipit tajam menatap Lennox yang mendadak gagap. "Pihak dekanat dan kepolisian setempat sudah menerima salinan rekaman ancaman yang kamu kirimkan ke ponsel Mindy. Sekali lagi kamu melangkah mendekati area fakultas ini atau mencoba menyentuh Mindy, surat penahanan resmi atas tuduhan penguntitan akan langsung diterbitkan hari ini juga."
"Anda mengancam saya?!" geram Lennox semakin kalap, urat-urat di lehernya menonjol keluar. "Saya tidak takut pada ancaman dosen tua sepertimu! Suruh Mindy keluar sekarang atau saya hancurkan reputasi kalian berdua di kampus ini!"
"Silakan coba kalau kamu punya nyali," tantang North dengan suara rendah yang begitu mematikan. "Tapi sebelum reputasiku tersentuh, sel tahanan dingin sudah lebih dulu menyambutmu."
Lennox terpaku di tempatnya. Wajahnya yang tadinya merah padam oleh amarah seketika berubah pucat pasi saat melihat tatapan mata North yang sama sekali tidak main-main. Ia melirik dua petugas keamanan kampus berseragam lengkap yang kini berjalan mendekat dan berdiri siaga di dekatnya, lalu kembali menatap North dengan mata penuh kekalahan yang teramat kerdil.
"Anda... Anda tidak punya hak..." ucap Lennox mulai kehilangan nyalinya di hadapan kekuasaan mutlak North. "Dia tidak mungkin bahagia dengan pria tua sepertimu!"
"Setidaknya aku bisa memberinya ketenangan yang tidak pernah bisa kau berikan seumur hidupmu," balas North tajam tanpa ampun.
Tanpa memedulikan Lennox yang membeku dan kehilangan muka di depan umum, North berbalik tenang, melangkah menuju pintu penumpang sebelah kanan, dan membukakannya perlahan untukku.
Ia merangkul pinggangku secara terbuka di hadapan Lennox dan orang-orang di sekitar selasar, membimbingku berjalan masuk melewati Lennox seolah pria itu hanyalah debu tak berharga yang tak layak untuk dilihat.
"Ayo, Mindy," bisik North serak tepat di telingaku saat kami berjalan melewati Lennox yang hanya bisa mengepalkan tangan dengan frustrasi. "Masa lalumu sudah selesai di sini. Tidak ada lagi yang perlu ditakuti."
"Dia... dia tidak akan bisa mengganggu kita lagi kan, North?" tanyaku pelan dengan sisa-sisa rasa cemas di d**a.
North menoleh sekilas, mengecup puncak kepalaku penuh perlindungan. "Percaya padaku, Sayang. Mulai detik ini, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa merebutmu dariku."
"Terima kasih... karena selalu melindungiku," bisikku lirih, meremas lengan jasnya erat-erat saat kami menaiki anak tangga menuju ruang dekan.
"Sudah kukatakan, itu adalah tugas mutlakku sekarang," jawab North tegas namun sarat kelembutan khusus untukku.
Aku melangkah dengan d**a tegak di samping North, menatap lurus ke depan tanpa bersedia menoleh sedikit pun ke arah Lennox yang masih terpaku di halaman parkir. Di bawah rangkulan tangan North yang kokoh dan sangat protektif, aku tahu rantai ketakutan dan cengkeraman toksik yang mengikatku selama bertahun-tahun telah benar-benar terputus untuk selama-lamanya.