Pagi hari di unit penthouse menyambutku dengan aroma racikan kopi hitam pekat yang menyeruak harum hingga ke lorong kamar tidur utama. Suasana di tempat ini terasa teramat kontras jika dibandingkan dengan rumah Lennox yang penuh tekanan. Tidak ada hawa dingin yang mencekik d**a, tidak ada rasa takut akan hantaman langkah kaki yang kasar, dan tidak ada caci maki tajam yang menyambut di awal hari.
Aku melangkah perlahan menuju ruang makan utama dengan mengenakan kemeja putih milik North yang ukurannya agak kebesaran di tubuhku, menjuntai hingga paha. Di balik meja dapur marmer yang bersih, North sedang berdiri menyeduh kopi. Pria itu mengenakan celana kain hitam formal dan kemeja abu-abu yang lengannya dilipat hingga ke siku, memperlihatkan tatanan otot lengan serta garis tato geometris di kulitnya yang tampak samar dan memukau.
"Sudah bangun, Sayang?" sapa North serak dengan suara baritonnya tanpa membalikkan badan.
Ia seperti tahu keberadaanku di belakangnya hanya dari irama langkah kaki ringan yang menyentuh permukaan lantai kayu.
"Sudah... Daddy," jawabku pelan, malu-malu. Aku berjalan mendekat, lalu duduk di salah satu kursi bar tinggi yang terletak di depan meja dapur.
North membalikkan badan, meletakkan secangkir kopi hangat beruap di depanku. Mata hazel-nya yang tajam langsung memindai wajahku secara rinci, memastikan rona pucat akibat rasa takut dan sisa tangis semalam telah benar-benar menghilang dari pipiku.
"Tidurmu nyenyak semalam?" tanyanya lembut, jemari tangannya yang kokoh terulur menyentuh dahi, mengusap pelan beberapa helai rambut yang menutupi mataku.
Aku mengangguk pelan sambil menyesap kopi hangatku, menikmati sentuhan penuh afeksi dari jemarinya. "Nyenyak sekali, Daddy. Sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak bisa tidur dengan tenang tanpa harus waspada atau menyalakan lampu kamar."
Sudut bibir North terangkat tipis membentuk senyuman puas. Namun, momen damai di pagi itu seketika buyar ketika sebuah ponsel yang diletakkan North di atas meja bar mendadak bergetar hebat. Itu bukan ponsel milik North, melainkan ponselku sendiri yang sengaja dimatikan total semalam dan kini dinyalakan kembali oleh North untuk melacak serta memantau pergerakan Lennox.
Layar ponsel itu seketika dibanjiri oleh belasan notifikasi pesan teks masuk dan panggilan tak terjawab secara beruntun. Seluruhnya berasal dari satu nama yang sangat kuhafal di luar kepala: Lennox.
Jantungku mendadak berdegup kencang tak beraturan. Gelombang panik yang sempat menguap kini berusaha merayap naik kembali, mencengkeram dadaku. Aku refleks menarik napas dalam-dalam ketika mataku tanpa sengaja membaca beberapa baris kalimat kasar yang terpampang di layar:
“Kamu di mana, Mindy?! Kamu pikir kamu bisa kabur dari aku semudah itu?”
“Jangan buat aku nekat mencarimu. Kalau kamu tidak pulang dalam dua jam ke rumah, aku swear aku akan datang langsung ke kampus dan mengacak-acak seluruh ruang dosenmu!”
“Kamu pikir ada pria lain di luar sana yang mau menampung wanita dingin tidak berguna seperti kamu? Pulang sekarang atau rasakan akibatnya!”
Tanganku mendadak gemetar hebat melihat rentetan kalimat ancaman dan intimidasi itu. Lennox mulai kehilangan akal sehatnya karena merasa kendali mutlak atas diriku telah terlepas sepenuhnya dari genggaman tangannya.
Sebelum rasa panik itu sempat melumpuhkanku sepenuhnya, sebuah tangan lebar dengan sigap menelungkup menutupi layar ponsel tersebut. North menyambar perangkat itu, menggesernya pelan ke tepi meja dengan tatapan dingin yang teramat membekukan. Tidak ada riak ketakutan atau keraguan sedikit pun di wajah tegas pria berusia tiga puluh lima tahun itu.
"Dia makin panik setengah mati karena gertakan murahan itu tidak lagi mempan padamu," ucap North rendah. Suaranya terdengar amat tenang, namun ada intensitas mengancam yang pekat tersembunyi di balik setiap kata yang diucapkannya.
"North... dia mengancam akan merusak ruang dosen dan mencariku ke fakultas," bisikku cemas, menatap manik matanya penuh keraguan dan rasa bersalah. "Bagaimana kalau dia benar-benar datang ke sana dan membuat keributan besar yang menghancurkan karierku?"
"Biarkan dia datang kalau dia memang punya nyali sebesar itu," geram North rendah tepat di depan wajahku, suaranya sarat akan kekuasaan mutlak. "Petugas keamanan kampus sudah memegang instruksi khusus dariku sejak kemarin. Sekali saja pria itu menapakkan kaki di area fakultas dengan niat membuat onar, dia tidak hanya akan ditendang keluar secara tidak hormat, tapi laporan kepolisian atas tindakan ancaman, teror, dan kekerasan psikologis akan langsung diproses hari ini juga."
"Tapi apa kamu yakin dia tidak akan berbuat nekat di luar dugaan kita, Daddy?" tanyaku dengan suara bergetar ragu, jemariku mencengkeram erat tepi meja bar. "Kamu tidak tahu seberapa besar rasa gengsi dan amarah pria itu kalau miliknya direbut."
North menghela napas pendek, lalu terkekeh pelan—sebuah tawa dingin yang terdengar meremehkan. Ia melangkah lebih dekat hingga tubuhnya menempel pada sisi meja, memaksa daguku mendongak lewat sentuhan jarinya yang kokoh.
"Biarkan dia berbuat nekat, Mindy. Semakin liar dia bergerak di luar sana, semakin mudah bagiku untuk memutus seluruh akses dan menyeretnya ke hadapan hukum," bisik North tajam di depan bibirku. "Di kota ini, tidak ada satu pun orang yang bisa menyentuhmu selama kau berada di belakang punggungku. Apakah kamu meragukan kemampuanku?"
Aku menggeleng pelan, terhipnotis oleh tatapan hazel-nya yang begitu mematikan sekaligus menjanjikan keamanan mutlak. "B-bukan begitu... aku hanya merasa semua ini terjadi terlalu cepat. Kemarin aku masih terkurung di rumah itu, dan sekarang aku ada di sini, bersamamu..."
"Karena takdirmu memang sudah digariskan untuk berada di sisiku, bukan di sebelah pria b******k itu," potong North mutlak. Ibu jarinya mengusap lembut bibir bawahku, memberikan sensasi hangat yang melunturkan sisa-sisa getaran ketakutan di tubuhku. "Ingat ucapanku, Mindy. Mulai detik ini, tidak ada lagi ruang bagi Lennox di dalam hidupmu. Kau adalah milikku sepenuhnya."
"Iya... Daddy," bisikku patuh, membiarkan diriku tenggelam dalam dekapan hangat dan posesif pria itu. "Tetapi... bagaimana kalau dia mencoba menelepon orang tuaku atau keluargaku untuk mencari keberadaanku?"
North mengernyitkan sedikit keningnya, jemarinya merapikan helaian rambutku ke belakang telinga. "Keluargamu? Bukankah kau pernah bilang mereka tinggal di luar kota dan jarang sekali berkomunikasi denganmu sejak kau menikah dengan pria itu?"
"Iya, benar," jawabku lirih, menunduk menatap cangkir kopi yang mulai mendingin. "Tapi aku takut Lennox memutarbalikkan fakta dan membuat cerita kalau aku melarikan diri tanpa alasan, lalu membuat keluargaku khawatir."
North menarik daguku lembut agar kembali mendongak menatap matanya. "Jangan cemas soal itu, Sayang. Jika ada satu patah kata pun dari mulutnya yang sampai ke telinga keluargamu untuk mencemarkan nama baikmu, tim hukumku akan langsung membungkamnya dengan tuntutan pencemaran nama baik. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu, baik secara fisik maupun reputasi."
Mendengar penjelasan yang begitu terperinci dan penuh perlindungan itu, air mata haru tanpa sadar menggenang di pelupuk mataku. Selama bertahun-tahun hidup bersama Lennox, aku selalu merasa sendirian menghadapi setiap ancaman dan amarahnya. Tidak pernah ada seseorang pun yang berdiri di sisinya untuk melindungiku seperti yang dilakukan North saat ini.
"Kamu terlalu baik, North... atau mungkin terlalu berbahaya bagi siapapun yang mencoba melawanku," gumamku pelan dengan senyuman kecil di bibir.
North ikut tersenyum, kali ini senyuman hangat yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. Ia merengkuh pinggangku lebih erat, mengangkat tubuhku dudukan di atas meja bar agar posisi kami menjadi sejajar.
"Aku hanya menjadi pria yang harus ada untukmu, Mindy," bisiknya serak di dekat telingaku, membuat sekujur tubuhku meremang. "Dan sekarang, setelah semua ketakutan ini sirna... apa kamu siap untuk menjalani hari baru bersamaku di tempat ini?"
Aku mengangguk mantap, melingkarkan kedua lengannya ke lehernya. "Ya, Daddy. Aku siap."