Cahaya lampu kota di luar jendela kaca penthouse mulai berpendar terang, membiaskan kelap-kelip lampu kendaraan yang tampak begitu kecil dari ketinggian lantai sepuluh. Aku duduk meringkuk di atas sofa beludru abu-abu yang empuk di ruang keluarga, memeluk secangkir teh hangat yang baru saja disiapkan oleh North. Kehangatan dari cangkir keramik itu menjalar lambat ke telapak tanganku, namun rasanya belum sepenuhnya mampu melunturkan sisa-sisa rasa dingin yang merayap di dadaku sejak kejadian pagi tadi di rumah Lennox.
Pintu kamar mandi utama terbuka perlahan. North melangkah keluar dengan balutan jubah mandi hitam berbahan satin, rambut hitamnya yang basah masih meneteskan beberapa bulir air di atas bahunya yang kokoh dan bidang. Garis tato geometris di balik kulitnya tampak samar dalam temaram lampu malam. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah mantap, membawa aura d******i mutlak yang seketika mengisi seluruh sudut ruangan yang luas ini.
North berhenti tepat di depanku, lalu perlahan duduk berlutut di atas karpet beludru agar mata hazel-nya berada tepat setara dengan pandanganku. Ia meletakkan telapak tangannya di atas lututku, mengusapnya perlahan lewat kain celana yang kukenakan.
"Kamu masih memikirkan pria itu, Mindy?" Suara North terdengar rendah, tenang, namun penuh dengan ketajaman yang menuntut kejujuran mutlak dariku.
Aku menunduk dalam-dalam, menatap permukaan teh di dalam cangkirku sebelum menjawab dengan suara bergetar pelan. "Aku takut, Daddy... Bagaimana kalau suatu saat dia tahu aku ada di sini? Bagaimana kalau dia datang ke sini dan membuat keributan yang bisa menghancurkan karier atau masa depan kuliahku?"
North menghela napas pendek. Ia meraih cangkir dari tanganku dengan lembut, meletakkannya begitu saja di atas meja kecil di samping sofa, lalu beralih menangkup wajahku dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Ibu jarinya mengusap lembut pipiku, menepis setiap keraguan dan ketakutan yang terpancar jelas di mataku.
"Dengar suaraku, Mindy," bisik North, nadanya berubah lebih tegas, dalam, dan absolut. "Pria itu sudah kehilangan seluruh haknya atas dirimu sejak pertama kali ia memilih berbuat kasar dan memperlakukanmu seperti barang tak berharga di rumahnya. Gedung apartemen ini memiliki sistem keamanan berlapis militer. Tidak ada satu pun orang luar yang bisa masuk ke sini tanpa izin tertulis dariku, apalagi pria pengecut seperti Lennox."
"Tapi dunia luar tidak tahu apa yang dia lakukan di balik pintu rumah itu, North," sangkalku dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata. "Bagaimana kalau dia menggunakan pengaruhnya untuk memutarbalikkan fakta dan melaporkanku ke pihak berwajib atas tuduhan melarikan diri?"
North mendengus pelan, seringai tipis yang dingin terukir di bibirnya. "Biarkan dia mencoba melaporkannya ke mana pun yang dia mau. Di kota ini, nama dan pengaruhku jauh lebih berkuasa daripada apa pun yang ia miliki. Tidak ada satu instansi pun yang akan mendengarkan omong kosong dari pria stres yang kehilangan kendali."
"Kamu terdengar sangat yakin..." gumamku lirih, masih diliputi keraguan. "Bagaimana kalau dia nekat mendatangi lobi bawah dan membuat keributan dengan petugas keamanan?"
"Dia tidak akan bisa melewati pos satpam lantai bawah, Sayang," jawab North tenang namun penuh penekanan. "Herman dan seluruh anak buahku di bawah sudah memegang daftar hitam atas nama Lennox. Begitu pria itu menginjakkan kakinya di area lobi, dia akan langsung diusir paksa atau diseret keluar oleh petugas keamanan sebelum sempat bernapas lega. Tidak ada celah baginya untuk menyentuh tempat ini."
"Apa kamu benar-benar sudah mengantisipasi semuanya, North?" tanyaku menatap manik matanya lekat-lekat, mencari celah keraguan di sana, namun yang kudapati hanya keyakinan yang luar biasa pekat.
"Aku selalu memperhitungkan setiap langkahku, Mindy. Terutama ketika menyangkut keselamatanmu," balas North lembut, ibu jarinya mengusap sudut bibirku. "Aku tidak akan membiarkan ada satu pun serangga pengganggu yang merusak ketenangan kita di sini."
"Kamu tidak tahu betapa leganya aku mendengarnya..." kataku dengan suara bergetar tulus. "Seharian ini dadaku rasanya mau meledak karena panik memikirkan ancamannya."
"Karena itulah tugas ada di sisiku sekarang," potong North tegas, matanya menatapku lekat-lekat tanpa berkedip. "Kamu bukan lagi objek pelampiasan amarahnya. Kau berada di bawah perlindunganku sekarang. Paham?"
"Iya... aku paham, Daddy," jawabku pelan, merasakan beban berat di pundakku perlahan-lahan terangkat mendengar keyakinan mutlak dari pria di hadapanku ini.
Sentuhan hangat di wajahku perlahan-lahan meredakan badai panik di dalam kepalaku. Ada rasa aman yang luar biasa pekat setiap kali North berada dekat denganku—sesuatu yang tidak pernah kudapatkan barang sedetik pun selama bertahun-tahun hidup terjebak di dalam sangkar pernikahan beracun bersama Lennox.
"Tapi... apa dia benar-benar tidak akan bisa menemukan kita di sini?" tanyaku lagi, suaranya nyaris berbisik karena cemas.
Sudut bibir North terangkat tipis, membentuk senyum penuh percaya diri yang tampak sangat berbahaya sekaligus mematikan. "Biarkan dia mencari sampai lelah di luar sana. Sementara dia membuang-buang waktunya di jalanan kota yang dingin, fokusmu sekarang hanya ada satu: hidupmu yang baru. Dan hidup itu sepenuhnya ada di sini, bersamaku."
"Apa kamu yakin dia tidak akan mengancam pihak kampus lebih jauh?" tanyaku ragu, jemariku mencengkeram ujung jubah mandinya erat-erat.
"Pihak kampus sudah kuurus sejak siang tadi," jawab North tenang namun penuh kendali. "Dekan dan bagian administrasi sudah tahu bahwa segala aktivitas akademismu berada di bawah peninjauan langsungku. Lennox tidak punya celah lagi untuk menyentuhmu lewat jalur itu."
"Terima kasih, North... Aku tidak tahu harus jadi apa kalau kamu tidak datang menolongku," kataku dengan suara bergetar tulus, menatap manik matanya yang hangat.
North merendahkan kepalanya, mengecup sekilas ujung hidungku dengan penuh afeksi. "Jangan ucapkan terima kasih karena menyelamatkanmu adalah kewajibanku sekarang. Mulai detik ini, tugasmu hanyalah bernapas dan menjadi milikku seorang."
North bangkit dari posisi berlututnya, lalu menarik tanganku lembut untuk membimbingku berdiri dari sofa. Ia merengkuh pinggangku dengan erat, menarik tubuh kami hingga menempel rapat tanpa ada celah sedikit pun di antara kita. Aroma khas vanilla tobacco dan cedarwood kembali meruap kuat, memenuhi rongga dadaku dan menghanyutkan seluruh sisa akal sehatku.
"Sekarang," bisik North serak tepat di daun telingaku, membuat sekujur bulu kudukku meremang seketika dan napasku berubah memburu. "Lupakan bayangan buruk tentang masa lalu itu. Malam ini, di tempat ini, tidak ada aturan lain selain milikku."
"Daddy..." rintihku pelan saat bibirnya mulai menelusuri rahangku turun ke leher.
"Katakan padaku, Mindy... siapa yang memiliki seluruh sisa hidupmu sekarang?" tuntut North di sela ciumannya yang semakin menuntut.
"Hanya... Daddy... aku sepenuhnya milik Daddy seorang," bisikku putus asa di ambang kesadaran.
Aku memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan diriku sepenuhnya tenggelam dalam kehangatan dan kekuasaan mutlak pria yang kini menjadi tempat persembunyianku. Di luar sana, badai kemarahan Lennox mungkin sedang bersiap meledak menghancurkan segalanya, namun di dalam dekapannya yang erat, aku tahu aku telah memilih jalan yang salah di mata dunia—tetapi menjadi satu-satunya tempat di mana aku merasa benar-benar hidup.