Mobil North berhenti dengan mulus di depan area drop-off apartemen mewah berlantai tinggi yang berdiri megah di pusat kota. Bangunan arsitektur modern itu dikelilingi pagar tinggi dengan sistem pengamanan berlapis dan petugas keamanan bersiaga di setiap sudutnya, menciptakan kesan bahwa tempat ini adalah sebuah benteng yang mustahil ditembus oleh siapa pun dari luar.
North turun lebih dulu dari balik kemudi, berjalan cepat mengambil tas ransel berisi dokumen-dokumen pentingku dari jok belakang, lalu membukakan pintu untukku dengan gerakan penuh proteksi. Begitu kakiku menapak lantai marmer lobi yang berkilau bersih, seorang petugas keamanan berseragam rapi langsung berdiri tegak dan membungkuk hormat menyambut kehadiran North.
"Selamat siang, Pak North," sapa petugas keamanan itu dengan sopan dan penuh takzim.
"Siang, Herman," jawab North tenang dengan suara baritonnya yang berwibawa. Ia melirik petugas itu sekilas, lalu memberikan instruksi tegas yang membuatku terpaku. "Mulai hari ini, wanita di samping saya ini memiliki akses penuh ke unit penthouse saya. Pastikan tidak ada satu pun orang luar, tamu tak diundang, atau siapa pun yang bisa naik ke atas tanpa izin tertulis langsung dari saya. Terutama kalau ada pria asing bernama Lennox yang mencoba mencari masalah di sini."
Petugas bernama Herman itu mengangguk paham sepenuhnya tanpa berani mengajukan pertanyaan apa pun yang lancang. "Baik, Pak North. Perintah dimengerti. Sistem akses keamanan akan langsung kami sesuaikan untuk Nyonya."
Perhatian North yang begitu terencana hingga ke detail terkecil itu membuat rasa sesak di dadaku perlahan-lahan mengendur, digantikan oleh gelombang kelegaan yang luar biasa. North kembali menggenggam jemariku erat-erat, membimbingku berjalan masuk ke dalam lift privat khusus yang hanya bisa diakses menggunakan kartu identitas utamanya, langsung melesat menuju lantai paling atas gedung tersebut.
Klek.
Pintu lift terbuka secara otomatis dan langsung memperlihatkan area penthouse yang sangat luas dengan konsep terbuka (open space) yang mewah. Jendela-jendela kaca raksasa setinggi langit-langit memamerkan pemandangan lanskap kota dari ketinggian yang memukau. Di dalam ruangan itu, aroma khas kayu cedarwood yang dipadukan dengan sentuhan manis vanilla tobacco—aroma maskulin yang selalu melekat pada diri North—langsung menyelimuti seluruh ruangan, memberikan kenyamanan yang seketika menenangkan sarafku.
"Ini tempat perlindunganmu sekarang, Mindy," ucap North rendah, suaranya menggema lembut di ruangan yang sunyi.
Ia berjalan melangkah ke meja bar marmer, meletakkan tas dokumenku di atas permukaan kayu solid, lalu membalikkan badan sepenuhnya menghadap ke arahku. Mata hazel gelapnya memindai wajahku dengan teliti, menangkap sisa-sisa rasa lelah, cemas, dan paranoid yang masih membekas di mataku.
Aku melangkah perlahan mendekati jendela kaca besar yang membentang luas, menatap jalanan kota yang tampak begitu sibuk dan kecil dari ketinggian ribuan kaki. "North... bagaimana kalau Lennox melaporkan kehilangan istri ke kantor polisi? Atau bagaimana kalau dia mencari celah hukum lain untuk menghancurkan karier dan risetku?" tanyaku cemas, jari-jariku meremas ujung sweater yang ku kenakan.
North berjalan mendekatiku dari belakang tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Sebelum aku sempat berpaling atau menghindar, kedua tangan kekarnya langsung melingkar rapat di pinggangku, menarik punggungku agar menempel sangat erat pada bidang dadanya yang hangat dan kokoh.
"Biarkan dia mencoba melakukan apa pun yang dia inginkan," bisik North tepat di daun telingaku. Suaranya terdengar sangat berat, bergema hangat dan menenangkan di dalam kepalaku. "Dia tidak punya bukti hukum apa pun untuk merebutmu dariku. Seluruh posisi akademismu dilindungi langsung oleh pihak dekanat di bawah jaminan namaku. Dan di tempat ini... hukum serta aturan main Lennox sama sekali tidak berlaku."
"Tapi tetap saja aku merasa cemas, North," kataku dengan suara bergetar, menolehkan sedikit wajahku ke samping untuk menatap rahangnya yang tegas. "Kamu tidak tahu seberapa nekat pria itu kalau sudah marah besar. Dia bisa melakukan hal-hal gila di luar nalar kita. Aku takut keselamatan kita berdua terancam."
North mendengus pelan, sebuah kekehan rendah yang terdengar meremehkan lolos dari bibirnya. Ia mengeratkan pelukan di pinggangku, membuatku semakin terhimpit di antara dadanya yang bidang. "Biarkan dia bertindak gila, Mindy. Semakin nekat dia bergerak, semakin cepat pula aku bisa menghancurkan hidupnya tanpa sisa. Di dunia ini, tidak ada satu pun orang yang bisa merebut apa yang sudah menjadi milikku—termasuk dirimu."
"Apa kamu tidak takut kalau pihak keluarga atau koleganya ikut campur mengusik urusan ini?" tanyaku lagi, masih menyimpan keraguan mendalam yang mengganjal di d**a.
"Keluarganya?" North membalikkan tubuhku perlahan dalam rengkuheannya yang erat, menatap mataku dengan intensitas dominan yang teramat pekat. Ibu jarinya terulur menyentuh bibir bawahku dengan lembut. "Lennox bahkan tidak memiliki kendali penuh atas hidupnya sendiri, bagaimana bisa dia mengurus orang lain? Percayalah padaku, Mindy. Mulai detik ini, tidak ada yang perlu kamu takuti lagi. Aku yang akan menanggung semua risikonya sampai tuntas."
"Aku hanya tidak ingin hidup dalam bayang-bayang ketakutan lagi seperti saat bersamanya," kataku lirih, air mata hampir menetes di pelupuk mataku. "Setiap kali aku memikirkan tatapannya semalam, sekujur tubuhku langsung gemetar."
North mengusap lembut pipiku, menghapus keraguan yang tersisa dengan sentuhan penuh afeksi. "Kamu tidak akan pernah hidup dalam ketakutan lagi, Sayang. Tempat ini adalah benteng kita, dan aku adalah dinding pelindungmu."
"Tetapi bagaimana jika dia mendatangi kampus lagi atau mencari tahu relasi kita?" tanyaku ragu-ragu, masih merasa gamang.
"Biar dia datang," balas North dingin, sudut bibirnya terangkat sebelah membentuk seringai tipis yang berbahaya. "Di hadapanku, dia bukan siapa-siapa, Mindy. Dia hanyalah pria lemah yang kebetulan beruntung sempat memilikimu sebelumnya—tetapi keberuntungan itu sudah habis sekarang."
Ia merendahkan kepalanya perlahan, menyesap cuping telingaku dengan ciuman yang dalam, basah, dan pelan, menyalurkan gelombang sensasi panas yang membakar habis seluruh ketakutanku hingga lebur tak berbekas.
"Hngh... North..." rintihku pasrah di sela napas yang mendadak memburu, membiarkan kepalaku bersandar lemah di bahunya yang bidang.
"Panggil aku dengan sebutan apa saat kita hanya berdua di sini, Mindy?" tegur North serak penuh tuntutan, sementara jemarinya merayap naik, mencengkeram rahangku dengan lembut agar aku terpaksa menatap pantulan wajah kami berdua di permukaan kaca jendela yang tembus pandang.
"Iya... Daddy," bisikku gemetar, menyerahkan seluruh sisa kendali diriku sepenuhnya di dalam genggamannya.
Sudut bibir North terangkat membentuk senyuman tipis penuh kemenangan. Ia menatap mataku lekat-lekat, lalu mendaratkan kecupan yang dalam dan penuh pemujaan di keningku.
"Anak pintar," bisiknya lembut di bibirku. "Sekarang, beristirahatlah dengan tenang di kamar utama. Biarkan aku yang maju menyelesaikan sisa ancaman dari suamimu itu."